Pengakuan Tenaga Pemulasaran Jenazah Covid-19: “Kami Disuruh Tanggung-jawab Dunia Akhirat”
Foto :

Selama menjadi tenaga pemulasaraan jenazah COVID-19, Achmad Mustofa mengaku memiliki satu keresahan saat berhadapan dengan masyarakat.

Mustofa mengatakan dirinya pernah disuruh bertanggung jawab dunia-akhirat oleh keluarga jenazah pengidap COVID-19 yang akan melakukan pemulasaraan.

"Kemarin di RW05 ya, kami disuruh tanggung-jawab dunia akhirat," kata Mustofa saat ditemui wartawan di Kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (21/7/2021).

Mustofa mengatakan keluarga jenazah seperti tidak mau tahu dengan prosedur penanganan jenazah COVID-19, ketika anggota keluarganya meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri.

"Kami disuruh bertanggung jawab dunia akhirat kalau proses jenazahnya itu tidak sesuai dengan kaidah-kaidah Islam," kata Mustofa.

Keluarga jenazah pengidap COVID-19 itu ingin petugas melakukan proses pemandian jenazah, padahal standar prosedur operasional penanganan jenazah yang diterbitkan oleh Majelis Ulama Indonesia itu cukup melakukan tayamum saja.

Menurut keluarganya, jenazah saat itu sedang masa nifas karena pernah keguguran. Sehingga perlu melakukan mandi jenazah seperti halnya diatur dalam syariat Islam.

Mustofa pun menjelaskan kepada pihak keluarga bahwa saat itu petugas pemulasaraan jenazah hanya bisa menjalani tata cara yang diatur dalam prosedur penanganan jenazah penderita COVID-19 yakni melakukan tayamum saja.

Untungnya, saat itu muncul seorang ustadz di Dewan Masjid Indonesia yang bisa mencerahkan dan menenangkan pihak keluarga sehingga keluarga bisa menerima jenazah hanya dilakukan tayamum saja.

"Dengan bantuan dari Ustadz dari DMI itu akhirnya kami mengerjakan (pemulasaraan jenazah) sesuai prosedur penanganan jenazah COVID-19," kata Mustofa, dilansir Antara.

Tujuh Wanita

Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Puji Hartini (30) membenarkan dirinya bersama sejumlah wanita bergabung ke dalam tim pemulasaraan jenazah COVID-19 untuk alasan kemanusiaan.

Puji mengatakan dirinya dan enam orang wanita lainnya, Yosepha Liberata Ana, Kandriyani, Yuliana, Purwanti, Dewi Purwati, dan Imelda Sari ingin membantu pengurusan jenazah wanita yang meninggal karena COVID-19.

"Yang pasti pertama untuk kemanusiaan ya pak. Karena pernah di RW05, almarhumah kebetulan perempuan. Laki-laki diurus oleh tim laki-laki, sedangkan perempuan harus diurus pula oleh perempuan," ujar Puji saat ditemui wartawan di Jakarta Utara, Rabu.

Puji mengatakan sudah menangani dua jenazah pengidap COVID-19 selama bertugas di Kelurahan Sunter Agung. "Pernah waktu bertugas pertama kali di RW06 (Sunter Agung), itu malam. Selesai pemulasaraan saya jam 23.00 WIB. Pulang tengah malam," kata Puji.

Untungnya, ibu tiga anak itu sudah memiliki izin dari sang suami. “Kalau pulang kerja, ia tidak didampingi oleh suami karena kami sudah biasa. Ia mengatakan suaminya juga mengabdi sebagai petugas pemulasaraan jenazah COVID-19 untuk alasan kemanusiaan,” ujarnya.