Stigma Keluarga Terhadap Anak Difabel Hambat Pendidikan
Foto : Ilustrasi. (Ist)

Jakarta, HanTer - Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Nahar, mengatakan salah satu kendala dalam pemenuhan hak pendidikan bagi anak penyandang disabilitas karena sebagian masyarakat malu memiliki anak penyandang disabilitas.

"Pemenuhan hak penyandang disabilitas akan pendidikan bukan hanya masalah regulasi tetapi juga berakar dari budaya masyarakat yang menjadi persoalan atau momok bagi pemerintah, di mana sebagian besar mereka masih malu dan menyembunyikan anak mereka yang penyandang disabilitas," kata Nahar dalam webinar, Selasa (7/9/2021).

Masih sempitnya pandangan sebagian masyarakat terhadap anak penyandang disabilitas juga berdampak pada anak-anak yang memiliki sikap rendah diri. "Hal ini bukan hanya sebatas persoalan keluarga semata tetapi juga berdampak terhadap psikologis anak penyandang disabilitas yang bisa menjadikan mereka rendah diri," katanya.

Nahar mendorong semua pihak terkait agar memberikan pemahaman terhadap masyarakat luas agar tidak berpandangan sempit sehingga anak-anak ini bisa mengenyam pendidikan dengan baik.

Dengan terpenuhinya hak pendidikan, Nahar meyakini para penyandang disabilitas akan mampu setara dengan anak normal.

"Dengan terpenuhinya hak pendidikan, maka para penyandang disabilitas akan memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi setara dengan manusia lainnya dan tidak lagi menjadi kaum termarjinalkan. Mereka juga akan mempunyai kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup dan keluar dari kemiskinan," kata dia.

Menurutnya, ada beberapa tantangan dalam mewujudkan pendidikan yang memadai bagi anak penyandang disabilitas diantaranya kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, kurangnya pelatihan untuk guru, data yang tidak lengkap, khususnya yang berada di luar sekolah serta adanya pandangan keluarga bahwa anaknya tidak akan merasakan manfaat pendidikan sebesar anak normal. (Ant)