Literasi Digital, Pentingnya Melindungi Data Diri di Era Digital
Foto : Ulfah Diah Susanti (SubKoordinator Kerjasama Internasional Bidang PDP Kementerian Kominfo RI) / ist

Jakarta, HanTer - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kementerian Kominfo) bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menggelar seminar online bertema Literasi Digital: Melindungi Data Diri di Era Digital.

Pembicara dalam seminar ini yakni, Irine Yusiana Roba Putri (Anggota Komisi I DPR RI),  Ulfah Diah Susanti (SubKoordinator Kerjasama Internasional Bidang PDP Kementerian Kominfo RI) dan Engelbertus Wendratama, M.A (Dosen Jurnalisme Ilmu Komunikasi UGM).

Dalam paparannya Irine Yusiana Roba Putri menyampaikan bahwa Pemerintah terus berupaya secara sistemik agar data pribadi terlindungi sehingga masyarakat aman dan nyaman dalam bersosial media. 

“Mengingat massifnya sistem informasi maka tentu muncul kekhawatiran akan keamanan data pribadi. Literasi digital menjadi bagian penting dalam upaya memasuki transformasi kehidupan yang dikenal dengan era disrupsi teknologi,” katanya, Kamis (19/8/2021).

Dikatakan Irine, sebaiknya semua pihak harus menjaga data pribadi karena jika data karena jika diri kita bocor maka akan merugikan bagi diri kita sendiri.

“Seperti penyalahgunaan data pribadi demi kepentingan marketing produk tanpa persetujuan kita. Masyarakat juga harus berperan untuk menghidupkan narasi positif dalam bersosial media. Acara seminar ini menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mengedukasi literasi digital dikalangan masyarakat,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan Ulfah Diah Susanti bahwa di era digital membutuhkan data pribadi yang diproses untuk menggunakan aplikasi dan mendapatkan berbagai layanan. 

Namun terdapat potensi kebocoran dari data diri kita sehingga perlu melakukan beberapa antisipasi dengan beberapa cara yaitu Human agency and oversight: Empower human and proper oversight by human; Technical Robustness and safety: Secure, Accurate, Reproducible; Privacy and data governance: Quality, Integrity, Legitimised Access. 

“Oleh karena itu pemerintah menyiapan beberapa regulasi pendukung Tersebar pada berbagai macam sektor (keuangan, kesehatan, kependudukan, telekomunikasi, perbankan, perdagangan, dan lain-lain) pada kurang lebih 32 regulasi,” terangnya. 

Sedangkan, Wendratama menjelaskan data pribadi adalah informasi yang membuat seseorang bisa dikenali secara langsung maupun tidak langsung. 

“Data ini mencakup, antara lain, nama, agama, dan keberadaannya, hingga alamat IP dan rekaman kegiatan berinternetnya. Apalagi tantangan saat ini adalah data pribadi tersebar dimana-mana, padahal data pribadi bersifat rawan: bisa merugikan pemilik data secara langsung maupun tidak,” katanya.

Wendratama menambahkan, akibat perkembangan media sosial: pudarnya batasan antara info yang layak disebar/di-share dan mana yang tidak. Kasus-kasus akses ilegal/legal, yang membuat data pribadi diperjualbelikan, untuk penipuan dan lainnya.

“Guna memberikan beberapa masukan untuk menjaga keamanan digital anak-anak yang antara lain, dampingi anak dalam menggunakan gawai, berikan pemahaman tentang risiko yang dibawa internet dan aplikasi apa saja yang boleh digunakan, batasi waktu penggunaan gawai, berikan pemahaman tentang jejak digital dan hubungannya dengan masa depan dan pantau akun medsos anak Anda,” tambahnya.