Putusan MA, Ketua Setara Institute: Bisa Akhiri Kontroversi TWK
Foto : Ketua Setara Institute Hendardi

Jakarta, HanTer – Ketua Setara Institute Hendardi mengatakan, secara normatif tindakan hukum komisi pemberantasan korupsi (KPK) dan Badan Kepegawaian Nasional (BKN) menyelenggarakan tew wawasan kebangsaan (TWK) sebagai salah satu ukuran pengalihan status kepegawaian adalah legal dan konstitusional.

“Mahkamah Agung (MA) telah menetapkan putusan uji materiil peraturan komisi pemberantasan korupsi (KPK) No. 1/2021, yang menegaskan bahwa aturan tersebut tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi yaitu UU 19/2019, PP 41/2020, dan Putusan MK nomor: 70/PUU-XVII/2019, serta Putusan MK nomor: 34/PUU-XIX/202,” kata Hendardi dalam keterangannya, l Sabtu (11/9/2021).

Dalam putusannya, menurut dia, MA menyebut bahwa TWK absah menjadi salah satu alat ukur obyektif dalam sebuah test aparatur sipil negara (ASN) maupun pengembangan karir ASN. 

“Ihwal tindak lanjut putusan atas hasil TWK KPK,  selanjutnya menjadi domain pemerintah. Organ pemerintah yang memiliki kewenangan pengangkatan kepegawaian adalah BKN. Oleh karena itu BKN dan KPK dapat menjadikan dua putusan dari MK dan MA sebagai rujukan tindakan administrasi negara lanjutan,” terangnya.

Ia menyebut, dua produk putusan lembaga yudikatif tersebut diharapkan dapat mengakhiri kontroversi TWK yang selama ini melilit KPK. Energi publik yang melimpah selanjutnya dapat disalurkan untuk mengawal KPK bekerja mencegah dan memberantas korupsi.

“Problem implementasi norma oleh sejumlah pihak dianggap melanggar hukum, tetap dapat dipersoalkan melalui jalur yudisial. Pegawai KPK yang dianggap tidak memenuhi syarat menjadi ASN, selanjutnya dapat saja menempuh jalur yudisial melalui pengadilan tata usaha negara (PTUN), setelah menerima SK pemberhentian yang bersifat individual, konkret dan final, yang merupakan obyek tata usaha negara,” ujarnya.