Benarkah Perokok Lebih Tahan Melawan Covid-19? 
Foto :

Oleh: dr. Ali Mahsun ATMO, M. Biomed*)

Terkait dengan hasil beberapa research yang dilakukan di Prancis dan China menyangkut realitas adanya data bahwa perokok itu lebih sedikit yang menderita covid-19. Di Prancis sekitar 5-8% dengan populasi perokok sebanyak 30% dari total penduduk Prancis. Di China 12,5% dengan populasi perokok sebanyak 26%. Saya sebagai dokter yang mempelajari ilmu kekebalan tubuh (imunulogi) ingin menyampaikan secara scientific bukan berarti saya mendorong masyarakat untuk merokok.

Pertama, virus apapun termasuk covid-19 butuh inang untuk hidup dalam tubuh manusia. Tanpa inang virus akan mati sendiri. Virus covid-19 masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernafasan dari hidung masuk ke paru paru. Ditularkan melalui droplet, cairan dari bersin atau batuk dari penderita atau carrier virus covid-19. 

Untuk bisa hidup, covid-19 butuh sel inang dari sel tubuh. Untuk bisa masuk ke dalam sel inang harus ada reseptor virus covid-19, secara umum disebut reseptor ACE-2.  Dalam beberapa kajian dan penelitian ternyata reseptor covid-19 yaitu reseptor ACE-2 juga jadi reseptor nikotin. Artinya harus saya luruskan bahwa bukan perokok punya daya tahan tubuh lebih kuat terhadap covid-19 dibandingkan yang bukan perokok. 

Namun pada perokok ada kandungan nikotin di sel paru paru yang sudah menempati reseptor ACE-2 sehingga virus covid-19 tidak bisa menempel dan tidak ketemu sel inang akhirnya mati. Hal tersebut yang membuat populasi perokok aktif yang terkena virus covid-19, baik di Prancis, China, Korea Selatan, juga di Italia lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak merokok. Bahkan di Prancis ada data yang menyampaikan bahwa 80% perokok aktif itu resikonya lebih kecil dibandingkan yang tidak merokok.

“Sekali lagi, ini bukan terkait dengan daya tahan tubuh tapi virus covid-19 kalau memapar pada orang perokok aktif, reseptornya (ACE-2) sudah ditempati nikotin karena resptornya sama”. Dan saat ini lagi diperdalam apakah mungkin nikotin ini menjadi salah satu bahan atau zat yang bisa digunakan pencegahan atau pengobatan terhadap infeksi virus covid-19. Hasil ini sedang dilakukan penelitian lebih lanjut dan kita tunggu hasilnya.

Demikian pula dengan adanya beberapa informasi, baik dari WHO, IDI, beberapa dokter dan lainnya bahwa perokok punya resiko yang lebih besar terpapar virus covid-19 dan dikaitkan dengan respon kekebalan tubuh, juga ada yang sampaikan bahwa perokok yang dirawat di RS karena covid-19 banyak yang meninggal namun dikaitkan dengan penyakit komorbid, saya kira itu juga belum mendapatkan sebuah basic scientific ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan.  

“Jadi yang membuat resiko terhadap beratnya penyakit covid-19 itu adalah underliying disease (komorbid) dan atau ada kelemahan daya tahan tubuh (imunodefisiensi), buka perokok atau bukan perokok. Yaitu memiliki penyakit immunosupresif, immunodefisiensi, dalam treatment cangkok organ, punya penyakit alergi seperti asma bronchialis, penyakit ginjal, jantung, kencing manis, juga penyakit paru paru kronik.


KENAPA HARUS TENANG, DAMAI DAN TENTRAM HADAPI COVID-19? Karena secara otomatis mendorong kinerja sistem kekebalan tubuh manusia (psiko-neuro-immuno-endocrynology system) jauh lebih baik. Sehingga tatkala terpapar virus covid-19 mampu melawan, tetap sehat dan mendapatkan kekebalan tubuh yang bisa melindungi diri sendiri, keluarga, masyarakat, rakyat dan bangsa Indonesia.

KENAPA TIDAK BOLEH PANIK, GALAU DAN TAKUT SEDIKITPUN HADAPI COVID-19? Karena bisa membuat respon kekebalan tubuh langsung drop sehingga bisa berat bahkan fatal tatkala terpapar virus covid-19. ‘Jangankan virus covid-19, ‘normal flora’-pun, mikro-organisme yang menjadi sahabat tubuh manusia untuk menjaga sistem homeostasis atau keseimbangan tubuh tatkala daya tahan tubuh drop jadi infeksius’.

“JADI KUNCI DASARNYA ADALAH SELALU BERSYUKUR DAN MENDEKATKAN DIRI KEPADA TUHAN SEHINGGA HATI DAN JIWA KITA HARUS TENANG, DAMAI DAN TENTRAM DALAM MENGHADAPI COVID-19.”

*) Penulis adalah Dokter Ahli Kekebalan Tubuh (Imunologi)  dan Presiden GBN