Indonesia Merdeka vs Tergantung
Foto : Ilustrasi

Oleh) Legisan S Samtafsir 

Heran sekali..???

Kenapa Islam dan umatnya sering dibenturkan  dengan rasisme Tionghoa.? Ketika donasi PALSU 2T dilakukan ras tionghoa, sontak semua tokoh menjelekkan Islam dan memuja China. Bantuan Muhammadiyah 1T dan 75 ribu relawan utk mengatasi wabah covid, tak pernah dipuji sedikitpun, apalagi donasi utk Palestina, bahkan dikepretin. Setelah donasi itu jelas palsu, pun tak juga ada dari mereka para pemuja china itu utk merasa malu. 

Kenapa tidak adil, mengapa rasis?

Mengapa mereka membela china habis2an. Sedikit kesalahan umat Islam dibombardir. Yg tidak salah pun dipersalahkan. Hukuman koruptor China didiskon, tapi hukuman ke ulama diperberat. Kebaikan palsu china dipuja puji, kebaikan Islam tak dilirik. 

Alam pikiran kita digiring utk memuji2 China dan RRT, bahwa merekalah dewa penyelamat, merekalah yg bisa membawa kemajuan RI. Seolah hanya mereka jalan bagi Indonesia. 

(TIDAK) BISAKAH KITA BERPIKIR? 

Can Indonesian Think ??

Apakah elit Indonesia tidak bisa berpikir?

Dari dulu elit Indonesia dibohongi terus. Kerjasama perdagangan dengan VOC berbuntut penguasaan dan penghisapan rakyat: ekspor impor dipegang VOC. Hindia Belanda, lebih parah lagi, menghisap darah rakyat Indonesia, hingga mati kelaparan.

Perundingan meja bundar, berbuah kemerdekaan tapi dibebani seabrek utang biaya penjajahan. Elit Indonesia mau, karena menganggap itu solusi. Belum lagi lunas utang tersebut, elit Indonesia menerima modal asing Eropa, Amerika dan Jepang, dan menganggap merekalah dewa penyelamat, tak ada jalan lain. 

Setelah pertumbuhan semu, yg tetap menempatkan Indonesia sebagai negara pinggiran dan subordinat bagi bangsa lain, Indonesia kolaps, dan bertekuk lutut lagi di bawah cengkeraman Asing. Setelah 20 tahun reformasi, elit Indonesia kembali menyerahkan leher bangsa ini ke tangan asing; kali ini bahkan bertambah China RRT. Sekarang nyaris Indonesia super tergantung pada utang luar negeri, modal asing, teknologi asing, obat2an asing, ahli2 asing dan bahkan buruh asing. Elit Indonesia menganggap asing lah solusi. 

Tetapi yg sangat mengherankan, mengapa hanya Islam dan Umat Islam puritan ideologis lah yg menentang semua itu.? Mereka yg abangan, priyai dan kapitalis domestik malah bergabung dalam kartel oligarki, yang menguatkan cengkeraman asing tersebut.? Islam tidak hanya dilemahkan dengan diksi Islamophobia buatan asing, tapi juga dibunuh dari dalam dengan stigma radikal, intoleran, ekstrimis, rasis dan anti Pancasila.

Dan untuk membunuh gerakan Islam itu, maka elit Indonesia menyerangnya dengan rasisme, menuduh Islam anti China. Setiap ada kebaikan China dijadikan alat utk melemahkan Islam. Buzzer2, para penjilat dan kaum oportunis, baik yang berbaju akademisi dan bahkan seragam penegak hukum, ramai2 merayakan puja puji kemenangan China dan RRT, persis seperti para elit kekuasaan di zaman VOC, Hindia belanda dan elit Orde Baru yg justru menjadikan diri mereka sebagai komprador asing. 

Kini Indonesia semakin lemah dan tergantung kepada asing, dalam segala hal. Dan benteng pertahanan terakhir adalah masih gerakan Islam santri puritan ideologis. Apakah benteng terakhir ini juga akan roboh ??? Insya Allah tidak. Wallahu a'lam.