Zaman Riya, Zaman Pencitraan 
Foto : Ilustrasi

Oleh) Legisan S Samtafsir 

Kalau mau sumbang 2T, sumbang aja, kenapa pakai konferensi pers? Kalau mau buka warung gratis karena niat sedekah, ya buka saja, kenapa panggil tim video dan maunya diviralkan? Kalau mau ke gorong2, pergi aja, kenapa bawa kameramen?

Kalau mau bagi2 sembako, bagi aja, kenapa harus bawa tim media, pakai ngantri, dan menelan larangan aturan PPKM-nya sendiri? Kalau mau kasih vaksin gratis, berikan aja lewat puskesmas, layanan 24 jam, 7 hari seminggu, kenapa harus pakai perayaan di lapangan dan membuat kerumunan? 

Sangat aneh pejabat dan masyarakat negeri ini. Niat mau sedekah, tapi riya'. Niat mau nyumbang, tapi pamer. Niat mau berprestasi, tapi cuma pencitraan. 

Riya' itu dosa yg mendekati syirik, menjauhi Tuhan sebagai tujuan kebaikan. Riya' itu juga ciri orang munafik, karena Ybs., membohongi dirinya sendiri. Riya itu membohongi publik, karena itu adalah siasat utk menyembunyikan kepentingan diri pribadi. 

Allah menegaskan: 

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. 

Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadikan ia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir”. [Al-Baqarah/2:264].

Zaman di mana ruang publik maya telah mendominasi kehidupan, pencitraan telah menjadi hobby dan bahkan komoditi, karena banyak pihak yg berkepentingan di dalam nya. Publik pun sepertinya memandang itu suatu yang lumrah dan 'sudah zamannya'. 

PADAHAL sekali dosa yg tetap dosa. Keburukan yg dibiasakan dan menjadi hal yang lumrah, tidaklah kemudian menjadi baik, tidak. Keburukan itu bahkan akan dan telah menggunung menjadi energi negatif yg membubung tinggi karena dilakukan secara massive. Dan sebagai akibatnya, kembali menjadi bala bagi manusia itu sendiri.

Seharusnya lah kita semua, mengerem pencitraan dan riya' tersebut dalam ruang publik maya Indonesia ini, agar negeri kita ini tidak bertambah hancur.

Fa'tabiruu ya ulil abshar .