Industri Kreatif Era Neofordisme Media di Indonesia
Foto : Fita Fathurokhmah, Dosen Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Oleh: Fita Fathurokhmah, M.Si

Perkembangan media di Indonesia dengan munculnya televisi digital, konvergensi produk media, merger dan akuisis media, itu berkat kecanggihan teknologi komunikasi dan industri kreatif. Perubahan inovasi membawa pengaruh vital dalam kehidupan masyarakat di berbagai bidang.

Media massa adalah kelas yang mengatur, premis dari teori Marxis tentang posisi media dalam sistem kapitalisme modern. Media massa bukan hanya medium penyampaian pesan pada masyarakat, tetapi berfungsi sebagai alat penundukan dan pemaksaan konsensus oleh kelompok ekonomi dan politik dominan. Dalam hal ini misalnya konglomerasi media di Indonesia.

Indonesia pasca reformasi berusaha mewujudkan demokratisasi media. Yang dihadapi sekarang ini, demokratisasi media tidak berada pada kondisi ideal. Oligarki media semakin memiliki kekuasaan, konsentrasi kepemilikan semakin menguat. Konsekuensi dari semakin canggihnya perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia membuka berbagai kanal informasi dan oligarki media. Terjadi menurunnya kepercayaan publik terhadap media arus utama sebagai kontrol sosial dan pelayan publik. Itu karena media semakin menunjukkan posisi sebagai media partisan dan dianggap elitis. Publik akhirnya menggunakan ruang alteratif dalam mengakses informasi yaitu media digital. Media dihadapkan pada era fordisme dimana kapitalisme menjadi fokus utama. Tetapi seiring dengan perkembangan bisnis media, masuk era neo-fordisme.

Pada era neofordisme disini muncul industri kreatif di dunia media dan kebijakan budaya menjadi pedoman pengembangan pasar mencapai konsumen. Era neo-fordisme, yang hal tersebut dihasilkan dari kebijakan budaya diadaptasikan dari berbagai budaya demi menguasai pasar. Kebijakan budaya tersebut mengatur tentang manajemennya, nilai budayanya, dan modernitas dalam industri kreatif. 

Media digital bukan hanya perubahan teknologi tetapi membawa dampak pada masyarakat yaitu revolusi dengan merubah hubungan antara teknologi, industri, pasar, genre, dan audiens yang ada.  Fakta ditemukan pada industri media di Indonesia, terjadi merjer dan akuisisi kelompok media dan konglomerasi media di tahun 2011. Praktek-praktek akuisisi dan merger tidak akan berakhir. Terdapat banyak perubahan besar dalam hal cakupan dan skala yang ditawarkan oleh media baru, bagaimana hidup kita dimediasi oleh teknologi dan servis digital.[1]

Era Fordisme dan Neo Fordisme Media di Indonesia 

Media massa dihadapkan pada dunia industri. Seperti yang dialami pada konglomerasi perusahaan media terbesar di Indonesia TransCorp pimpinan Chairul Tanjung. Industri terkait dengan bisnis, adanya perdagangan, usaha, manufaktur, pekerjaan. Perubahan industri adalah salah satu tantangan utama abad ke 21. Ini mengacu pada pembangunan ekonomi, politik, sosial yang sedang berlangsung di semua sektor dan bidang kegiatan. Baik itu sektor tradisional yang mengalami kemunduran maupun bidang kegiatan yang baru muncul.

Misalnya Transcorp dengan Detik.com nya sebagai media digital menghadapi industri kreatif yang muncul sesuai budaya. Industri kreatif merupakan industri yang berbasis pada kekuatan ide dan kreativitas manusia. Produk-produknya seperti seni pertunjukan, barang seni, kerajinan, fashion, kuliner, musik., film atau animasi, desain, arsitektur, penerbitan atau percetakan, riset dan pengembanganya, televisi, media digital, fotografi dan lainnya.[2]  Selain itu industri budaya atau industri kreatif juga merupakan bidang ekonomi yang berkaitan dengan produksi, reproduksi, penyimpanan dan distribusi barang dan jasa budaya dengan istilah industri yang terlibat dalam skala besar, dengan barang dan jasa yang bersifat budaya dan biasanya dilindungi oleh hak kekayaan intelektual dengan pertimbangan ekonomi dan bukan untuk tujuan pengembangan budaya.

Hal tersebut yang terjadi pada industri kreatif yang hanya bertujuan pada pertimbangan ekonomi saja berimplikasi pada kekacauan kehidupan masyarakat. Hal ini disebut dengan era fordisme. Era fordisme artinya era dimana barang-barang manufaktur lebih menekankan pada bagaimana barang-barang itu dibuat dalam skala yang besar, kemudian di standarisasi didalam konteks konsumsi massa. Bagaimana produksi itu melimpah, pasar yang dicari dan berkembang budaya promosi, iklan yang mendukung proses penjualan di TV konvensional tersebut.

Hal ini membuat khalayak media memiliki positioning sebagai passive audience dan hanya consumer. Kekacauan muncul misalnya bagaimana kapitalisme ini tidak terorganisir, runtuhnya otoritas negara, regulasi lemah, otoritas korporasi kuat, pembagian kesejahteraan tidak merata untuk pekerja. Sehingga atas kekacauan itu dibutuhkanlah deindustrialisasi dengan diperlukannya dekonsentrasi.

Salah satu deindustrialisasi dengan masuknya era yang disebut dengan era neo-fordisme atau juga disebut pasca fordisme yang digambarkan awalnya di negara Eropa Barat. Era neo-fordisme itu dipahami era dimana barang itu diversifikasi, diversifikasi perusahaan, internasionalisasi dalam mencari market, ekonomi, tentuna menjadi skala besar. Kemudian intensifikasi melalui penerapan teknologi, mesin-mesin baru.

Bagaimana memanfaatkan celah-celah pasar. Dengan era industri dan internet, manufaktur itu bagaimana caranya dibuat luwes, di rancang kualitasnya bagus. Bagaimana gaya hidup konsumen ada kaitannya dengan globalisasi, gerakan sosial, politik, situasi negara dan privatisasi.

Kebijakan Publik Atas Industri Kreatif Media di Indonesia 

Praktek oligarki media di Indonesia dengan dominasi pemilik perusahaan media diberbagai bidang usaha. Dari media konvensional bermediamorfosis melebarkan konglomerasi bisnis medianya ke ranah TV Digital, Radio digital, media online, dan bisnis dibidang lainnya. Kebijakan budaya harus digunakan oleh media di Indonesia untuk memahami masalah manajemen di media, nilai yang dipegang dan disebarkan pada khalayak dan modernitas dengan menunjukkan bagaimana kebijakan budaya sangat penting bagi ekonomi dan masyarakat dalam modernitas Indonesia.

Budaya apa yang menjadi fokus setiap media menjadi sebuah kreativitas media berdasarkan budaya masyarakat Indonesia sebagai khalayak media. Media di Indonesia seyogyanya harus berusaha menyedikan situs-situs yang dibutuhkan oleh masyarakat kontemporer di era modern ini. 

*) Dosen Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

[1] R, Mansell, Political Economy, Power and New Media, (London: First Dixon Public Lecture and Inaugural Professioral Lecture, 2004), h. 102

[2] Marta Peris-Ortiz, Mayer Rainiero Cabrera-Flores, Arturo Serrano-Santoyo, Cultural and Creative Industries; a Path to Entrepreneurship and Innovation, (Mexico: Springer Nature Switzerland, 2019), p. 5