Rekomendasi: Era Postmodern Net-Based, Kajian Ekspresi Komunikasi Politik Lebih Menarik Daripada Politik Kepartaian
Foto : Dr Geofakta

Oleh: Dr. Geofakta

Era Khalayak Net-Based, tantangan postmodernitas

Kita telah menyadari bahwa kemampuan media internet saat ini memberikan keleluasaan ruang publik dalam bergerak. Berjalannya waktu, media tradisional seperti TV mulai ditinggalkan seiring kepercayaan publik yang tergerus pada persoalan politik kepemimpinan, dan hagemoni media. Potensi ini mengubah pemirsa media bertransformasi menjadi netizen yang aktif berdebat dalam forum online, kolom komentar, melaporkan berita, bahkan kesengajaan membuat kebisingan pada media online. Distribusi komunikasi pada model komunikasi banyak publik ke banyak publik ini ditawarkan melalui jaringan distribusi yang ramah pengguna sehingga mengaburkan batas etika dalam berkewarganegaraan yang aktif memantau sosial politik.

Fenomena ini seiring dengan menjamurnya inisiatif munculnya penerbitan terbuka dalam kepentingan individu atau publik dengan tema. Berita sosial pada situs situs web. Kebangkitan nilai dan praktik partisipasi aktif ini menandakan bahwa kita sedang menyaksikan munculnya budaya baru dalam media digital (Deuze, 2006; Jenkins, 2006). Sesuai dengan kajian komunikasi bahwa pemirsa bukan lagi penerima pasif, namu lebih aktif terlibat ketika mereformulasi, mengatur, mempertanyakan, menciptakan, atau bahkan mempersonalisasi media. Tentu saja hal ini menantang budaya modern dalam mengkaji hubungan tradisonal antara media dan elit politik tentang peran netizen sebagai warga negara dan masyarakat, dan peran mereka sebagai penonton. Akhirnya, wacana multiperspektif muncul dalam bentuk situasi postmodernitas yang mengakibatkan telah terjadi peningkatan projek penelitian tentang cita-cita ruang publik (literasi) sebagai sarana mengevaluasi ruang online (Strandberg, 2008)

Ekslusivitas VS Sinisme Politik di Indonesia

Kita telah mempelajari hubungan intersubjektif ruang-ruang ini dengan berbagai cara. Namun, sebagian besar hanya berfokus pada ruang komunikatif politik yang melekat pada politik institusional atau berbagai berita radikal dan keras dan cenderung mengabaikan aspek lainnya. Eksklusivitas wacana semacam itu tentu bermasalah karena secarak praktis politik saat ini telah meresap pada tatanan perubahan sosial, politik dan ekonomi yang kompleks. Sebagian besar disebabkan oleh budaya postmodern, globalisasi yang melahirkan hubungan baru dan ketidakpastian antara warga negara (dalam postmodern dikenal dengan realitas palsu). Struktur ini menjadi celah yang telah menciptakan domain politik baru, yang oleh sebagian orang disebut politik kehidupan atau politik gaya hidup (Giddens, 1991; Bennett, 1998)

Di Indonesia. Saat ini komunikasi politik sedang melalui periode desentralisasi yang membuktikan warga negara mulai menantang legitimasi politik yang dilembagakan oleh media tradisional. Hal ini ditunjukkan dalam meningkatnya sinisme politik dan ketidakpercayaan publik yang secara terang-terangan mereka wacanakan melalui ruang online. Netizen beralih dari politik “tinggi” namun mulai cerdas menganalisa makna sosial politik yang sesuai dengan nilai dan gaya hiduo mereka melalui ekspresi dan narasi pribadi. Tujuan tulisan ini tentunya ingin mengeksplorasi pergeseran publik dalam melihat politik Cara terbaik bagi netizen adalah untuk melakukannya dengan bergerak di luar ruang yang terkait dengan media dan politik tradisional yang mencitrakan kekuasaan personal. Metode ini bisa membuat netizen atau peserta lebih bebas dalam berdiskusi.

Jadi, selain ruang politik tradisional, saya menyelidiki pembicaraan politik di forum diskusi yang didedikasikan untuk realitas televisi. Ruang politik yang kemudian selain melimpah secara online, namun juga banyak menampung partisipasi aktif dalam diskusi yang kemudian memicu pembicaraan-pembicaraan politik yang menampunh banyak peserta dan diskusi.

Disamping itu, begitu juga dengan realitas televisi, yang menggeser politik menjadi personal dan merubah ruang ideal dalam televisi dalam menyiasati pergeseran semacam itu Sebut saja seperti Program Mata Najwa, ILC (walau kemudian sudah tidak tayang), Rosi, Dua Sisi yang kemudian mengangkat isu politik yang beurujung pada ekslusifitas dan kepartaian.

Fokusnya adalah pembicaraan politik. Yaitu tentang bagaimana personal yang menggunakan cara bicara berjiwa publik, dimana banyak peserta berdialektika tentang pengalaman individu masing-masing yang interkoneksi dengan masalah percakapan sosial politik yang dilakukan secara bebas antara peserta. Seringkali akhirnya secara spontan dan akhirnya membawa diskusi diluar tujuan atau tema pembicaraan. Namun, hal ini mewakili bentuk komunikasi praktis dari tindakan komunikatif milik Habermas(Habermas, 1984). Setidaknya, Melalui jenis pembicaraan politik inilah warga negara mencapai saling pengertian tentang diri dan satu sama lain, yang mewakili unsur fundamental dari ruang publik. Kita kemudian sapat melihat apakah forum-forum ini yang secara tradisional diabaikan sebagai 'obrolan', memberikan ruang, konten, dan gaya komunikatif untuk politik yang memperluas ruang publik sambil bergerak melampaui gagasan politik konvensional.

Ruang Publik dan Ekpresi Politik, Tinggalkan Kajian Politik Kepartaian

Pertanyaan mendasarnya adalah apakah forum-forum tersebut memenuhi syarat rasionalitas dan musyawarah yang ‘layak’? Namun, saya bergerak melampaui gagasan musyawarah. Mari kita melihat peran “ekspresif” yang dimainkan dalam pembicaraan politik dengan kondisi musyararah terlebih ruang ini didedikasikan untuk politik tingkat tinggi. Memungkinkan juga untuk kita melihat apakah pembicaraan deliberatif sedang berlangsung di dua tempat, yaitu televisi dan ruang online terkait pembicaraan dengan emosional dan ekspresif. Sebelumnya, Habermas telah membayangkan demonrasi yang kuat akan diperokeh melalui ruang publik dan musyawarah yang mencapai saling pengertian dalam arti kritis yang memandu politik. Rasionalitas komunikasi harus mengacu pada pengandaian ideal 9 kondisi yang ditawarkan habermas dalam diskusi dibedakan: debat rasional-kritis, koherensi, kontinuitas, timbal balik, refleksivitas, empati, kesetaraan diskursif, dan kebebasan diskursif. Habermas (1984, 1987, 1996). Dengan kata lain, ketika kondisi-kondisi tersebut digabungkan, mereka membentuk situasi bicara yang ideal.

Akhirnya, dalam meninjau kebangkitan media sosial dan realitas televisi sebenarnya secara normatif telah memberikan banyak harapan bagi demokrasi. Warga, audiens, dan netizen secara aktif telah terlibat dalam komunikasi alternatif yang menantang komunikasi tradisional memanfaatkan budaya diskusi-ekspresi ini mengadopsi pendekatan partisipatif. Misalnya, media arus utama mulai mengusung konsep komten yang populer.

Dalam konteks akademis, peneliti sarjana komunikasi harus mulai dopat menyelidiki fenomena ini dan menilai kontribusinya ke ruang publik. Namun, dapat diusahakan keluar dari politik kepartaian. Dari realitas televisi, bahkan forum online dapat melihat isu dan keprihatinan yang kita minati. Diskusi yang muncul di ruang-ruang ini penting tidak hanya karena mereka berkontribusi pada jaringan percakapan informal yang membentuk ruang publik, tetapi juga karena mereka juga memberi kita wawasan tentang apa yang penting bagi warga sehari-hari. Mereka memasuki ruang publik yang didorong oleh pengetahuan, identitas, dan pengalaman kehidupan sehari-hari warga negara dan memberi kita wawasan tentang kapan pribadi menjadi politis. Apa artinya ini bagi keutamaan politik, secara normatif, adalah inklusivitas. Kita harus lebih inklusif tentang tidak hanya di mana kita mencari politik, tetapi juga, tentang apa yang membentuknya.

Ekspresi komunikasi dan maknanya adalah bahan umum pembicaraan politik. Mengabaikan ekspresif bukanlah pilihan, jika tujuan kita bersama adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana orang berbicara politik atau untuk menilai nilai demokrasinya. Seseorang dapat membuat argumen yang kuat bahwa ekspresi memainkan peran penting dalam memfasilitasi pembicaraan politik dan dengan demikian harus dimasukkan dalam wacana publik apapun, dan dengan demikian memberikan literasi komunikasi politik zaman postmodern yang lebih bermanfaat.

*) Pemerhati Postmodernitas, Dosen Komunikasi

Bennett, W.L. (1998) ‘The Uncivic Culture: Communication, Identity, and the Rise of Lifestyle Politics’. P.S: Political Science and Politics 31, 41–61.

Deuze, M. (2006) ‘Participation, Remediation, Bricolage: Considering Principal Components of a Digital Culture’. The Information Society 22, 63–75.

Giddens, A. (1991) Modernity and Self Identity: Self and Society in the Late Modern Age (Stanford: Stanford University Press).

Habermas, J. (1984) The Theory of Communicative Action. Vol. 1, Reason and the Rationalization of Society (Boston: Beacon Press).

Habermas, J. (1987) The Theory of Communicative Action. Vol. 2, Lifeworld and System: A Critique of Functionalist Reason (Boston: Beacon Press).

Habermas, J. (1996) Between Facts and Norms: Contributions to a Discourse Theory of Law and Democracy (Cambridge, MA: MIT Press).

Jenkins, H. (2006) Convergence Culture: Where Old and New Media Collide (New York: New York University Press).

Strandberg, K. (2008) ‘Public Deliberation Goes On-line? An Analysis of Citizens’ Political Discussions on the Internet Prior to the Finnish Parliamentary Elections in 2007’. Javnost/The Public 15(1), 71–90