Hello,

Reader

Kelompok MIT-Ali Kalora Cs Mengganas?
Harits Abu Ulya, Pengamat Terorisme & Intelijen
Kelompok MIT-Ali Kalora Cs Mengganas?

Di hari Senin, 31 Desember, penghujung tahun 2018 terjadi kontak senjata antara kelompok Ali Kalora dengan aparat kepolisian di wilayah pegunungan sekitar Poso (Parigi). Bagaimanakah konstelasi terkait pergerakan kelompok MIT Ali Kalora dan mengeja solusi pendekatan terhadap eksistensi kelompok tersebut?

MIT Ali Kalora Tidak Sekuat Opininya Di Media

Kekuatan kelompok Ali Kalora saat ini tinggal sekitar 20 orang. Kelompok ini paska Stunami Palu ada indikasi jumlahnya bertambah dari sebelumnya yang kurang dari 20 orang.

Mereka selama ini bertahan gerilya disekitar pegunungan Poso (Parigi). Kelompok Ali Kalora melanjutkan jejak sosok sebelumnya yakni Santoso; dengan keterbatasan senjata dan amunisi mereka cukup menguasai medan pegunungan dan ini menjadi salah satu keunggulan mereka. 

Namun aspek yang lain tetap saja aparat gabungan TNI-Polri lebih unggul dari sisi jumlah personil, logistik, persenjataan dan pengetahuan strategi tempurnya terutama bagi prajurit TNI.

Peta kekuatan yang tidak sebanding di atas akan menjadi persoalan bagi aparat kepolisian-TNI jika kelompok Ali Kalora mendapat basis dukungan dari masarakat sipil diwilayah Poso dan sekitarnya. Karena ketahanan eksistensi mereka juga sangat bergantung kepada suplai logistik yang mereka butuhkan. 

Logistik ini bisa saja didapat dari simpatisan atau jejaring mereka yang di bawah (masyarakat) atau sumber-sumber dan cara lainnya.

Yang perlu di catat bahwa tipikal kelompok Ali Kalora ini sangat resisten (benci dan dendam) terhadap aparat keamanan terutama personil Polri lebih khusus adalah Densus88. 

Awal kasus kontak senjata dugaan kuat saya itu berawal adanya seorang sipil (petani ladang) penebang kayu hutan yang di curigai oleh kelompok Ali Kalora sebagai mata-mata atau informan dari Densus88. Sangkaan atau kegurigaan ini yang memicu kelompok Ali Kalora mengeksekusi orang sipil tersebut. 

Dugaan kuat, mereka eksekusi dengan cara menggorok leher korban pada tanggal 28 Desember dan korban baru ditemukan tanggal 29 Desember oleh penduduk.  Peristiwa  kontak tembak senjata dengan aparat polisi tanggal 31 Desember pada saat evakuasi korban dan berakibat beberapa personel kepolisian jadi korban tembak. Sangat mungkin upaya evakuasi oleh aparat Kepolisian adalah momentum yang ditunggu oleh kelompok Ali Kalora untuk melakukan serangan terbatas dengan taktik gerilya. Dan dengan cara seperti itu cukup memberikan pesan kepada publik bahwa mereka masih eksis dan mampu memberikan perlawanan. Meski sejatinya dengan keterbatasan personil dan persenjataan tidak mungkin Ali Kalora cs melakukan serangan dalam durasi yang panjang, maka cukup hit and run menjadi pilihannya.

Dari kasus kontak tembak yang terjadi menjadi bukti bahwa kelompok Ali Kalora masih ada. Persoalan potensi gangguan keamanan dari kelompok sipil bersenjata seperti Ali Kalora juga kapan saja bisa muncul di sekitar wilayah pergerakannya. Dan meski selama ini Ali Kalora cs juga sudah masuk dalam DPO serta operasi Tinombala jilid kesekian juga masih digelar tapi publik menjadi paham bahwa persoalan riak-riak kecil gangguan keamanan dari kelompok seperti Ali kalora di wilayah Poso belum tuntas sepenuhnya.

Masyarakat Poso tentu sangat butuh rasa aman dan penguasa harus hadir memastikan itu didapat oleh masyarakat Poso. Bertahun-tahun menghadapi kasus gangguan keamanan di wilayah Poso tentu menjadi pengalaman berharga yang bisa dijadikan bahan kajian holistik untuk merumuskan solusi yang tuntas bermartabat dan berkeadilan. Soal Poso hakikatnya bukan sekedar isu terorisme tapi ada kompleksitas, oleh karena itu tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan keamanan semata.

Usulan saya, kalau memang ingin cepat tuntas dengan pendekatan keamanan yang saat ini menjadi pilihan dominan maka harusnya kirim saja pasukan TNI dari unit raider atau kopasus untuk memburu kelompok Ali Kalora. Karena Ali K cs cukup kuasai medan gunung dan hutan. Dan polisi tidak di didik dengan kemampuan perang gerilya hutan. Jadi yang punya kapasitas untuk hadapi kelompok seperti itu tentu TNI. Jadi perlu keputusan politik yang tegas agar tidak berlarut-larut dan operasi Tinombola berlangsung berjilid-jilid.

Operasi terlalu lama juga bisa kontra produktif terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan psikologi masyarakat.

Oleh:) Harits Abu Ulya, Pengamat Terorisme & Intelijen


#HaritsAbuUlya

Komentar Anda
Komentar