Hello,

Reader

Rizal Ramli: Baru Prabowo yang Komitmen Hilangkan Kartel Impor
Rizal Ramli. (Istimewa)
Rizal Ramli: Baru Prabowo yang Komitmen Hilangkan Kartel Impor

Jakarta, HanTer - Ekonom senior, Rizal Ramli berharap sosok calon presiden yang nantinya terpilih menjadi Presiden berikutnya dapat mengurangi impor di Indonesia. Ia pun menantang kepada Calon Presiden Joko Widodo maupun Prabowo Subianto untuk mewujudkan hal tersebut.

"Saya berharap keduanya bisa menghasilkan menu baru. Jangan satu membuat tempe, satunya lagi membuat tahu. Namun, keduanya sama-sama dibuat dari kedelai impor," kata Rizal ketika hadir menjadi pembicara Halaqah Ekonomi bertajuk "Membedah Konsep Ekonomi Gus Dur" yang berlangsung di Surabaya, seperti dilansir Surya.co.id, Rabu (16/1/2019).

Program impor besar-besaran yang selama ini dilakukan oleh pemerintah hanya akan memberatkan rakyat. Di samping produsen dalam negeri tak bisa memasarkan produknya, keuntungan pun hanya dirasakan oleh para kartel importir.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia bercerita bahwa beberapa waktu lalu, pihaknya bertemu petani garam. Mengutip cerita petani garam, kuota 1,5 juta ton tambahan impor garam membuat garam lokal tak laku.

"Sekarang, garam mereka terancam menjadi air sebab tak laku. Mereka menangis karena tak ada uang untuk kuliah anak-anak mereka," katanya.

"Kita jadi importir terbesar di dunia untuk beberapa komoditas. Ini ironis. Parahnya, pemerintah melakukan impor di masa-masa panen seperti Desember-Januari. Misalnya untuk beras. Ini benar-benar kejam," kata mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri Indonesia ini ketujuh ini.

Akibat impor besar-besaran tersebut, neraca perdagangan di Indonesia kini pun mengalami defisit cukup dalam. "Angka defisit neraca perdagangan tahun 2018 mencapai 8,3 miliar dolar terjelek sejak 1975," ungkap mantan Menteri Keuangan ke-23 ini.

Dengan adanya beberapa alasan tersebut, pihaknya pun berharap siapapun presiden yang terpilih mendatang bisa mengurangi impor tersebut. "Impor boleh, tapi karena situasi tertentu misalnya karena el-nino. Lha ini, cuaca juga normal, buat apa impor besar-besaran?" jelasnya.

Menurutnya, Prabowo telah memiliki komitmen untuk menghilangkan banyaknya kartel impor tersebut. Apalagi, Prabowo juga pernah menjabat Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (KHTI).

"Saat itu, Mas Prabowo menjawab bahwa kalau sampai ia mendapat duit dari kartel impor, sama halnya ia menembak kakinya sendiri. Sebab, Pak Prabowo bercerita bahwa beliau menjadi HKTI sejak masih zaman tentara dan berkomitmen menjaga ketahanan pangan. Itu jawaban bagus," ceritanya.

Sebaliknya, bagaimana dengan jawaban Jokowi? "Saya juga bertanya kepada Pak Jokowi, apakah akan mengganti sistem kartel impor selama ini? Ternyata sampai sakarang belum ada jawaban dari beliau," katanya.

Menurutnya, Jokowi di awal pencalonannya pada 2014 silam telah memiliki komitmen yang benar untuk berdaulat di bidang pangan dengan tanpa melakukan impor. "Sayangnya, visi dan misi beliau nggak nyambung dengan strategi, kebijakan, dan personil yang dipilih," sindirnya.

Ia lantas menyebut bahwa satu di antara langkah simbolik yang bisa dilakukan pemerintah saat ini adalah dengan mencopot Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita. "Kalau Mas Jokowi mau selamat (terpilih di pemilu), beliau harus copot menteri perdagangannya ini," katanya.

"Saya pun demikian. Kalau sampai jelang hari H pemungutan suara belum juga diambil rekomendasi (reshuffle) ini, kami akan berkeliling (kampanye) untuk tidak lagi memilih Pak Jokowi," kata Rizal menambahkan.

Pada acara ini juga hadir KH Mahmud Ali Zain, Ekonom Pesantren Sidogiri serta ratusan pegiat ekonomi di Jawa Timur.

 



#RizalRamli #Kartel #Impor

Komentar Anda
Komentar