Hello,

Reader

Finalisasi Tarif Belum Final, Maret 2019 MRT Beroperasi 
Finalisasi Tarif Belum Final, Maret 2019 MRT Beroperasi 

Jakarta, HanTer - Proyek pembangunan moda transportasi berbasis rel atau Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta fase I Lebak Bulus-Bundaran akan beroperasi pada bulan Maret 2019 mendatang. Namun, masyarakat sudah mulai bisa mencoba Ratangga, sebutan untuk kereta MRT, pada akhir Februari mendatang.

Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar, mengatakan kereta MRT akan mulai proses uji coba operasi secara penuh mulai tanggal 26 Februari 2019. Uji coba tersebut nantinya akan melibatkan para stakeholder dan masyarakat.

"Setelah 25 Februari 2019 kita sudah uji coba operasi secara penuh, kereta sudah mulai kita jalankan. Sebelumnya ini kan masih sangat terbatas karena berjalan bersama dengan testing comissioning secara paralel siang dan malam hari," kata William, di Jakarta, Minggu (10/2/2019).

William mengatakan MRT Jakarta membuka pendaftaran secara online melalui website untuk bisa mengikuti proses uji coba. Pihaknya akan membuka kuota per harinya. Sehingga, siapa yang terlebih dahulu mendaftar bisa mencoba transportasi tersebut.

"First come first serve, pendafatarannya secara online. Jadi silakan mendaftar, tapi kita belum buat kriterianya. Tapi kita akan membuka semacam pendaftaran untuk publik dengan kuota tertentu. Misalnya hari ini kita akan buka 4.000 penumpang, siapa yang cepat mendaftar nanti dapat. Tapi kalau kuotanya sudah mencukupi kita akan tutup, nanti dia bisa naik besoknya lagi atau apa," ujar dia.

PT MRT Jakarta menargetkan bisa mengangkut 65.000 penumpang setiap harinya pada awal masa operasi ini. Sampai akhir tahun 2019, diharapkan jumlah penumpang yang diangkut per harinya bisa mencapai 130.000 orang.

"Jadi yang kita lakukan adalah berupaya maksimal untuk memastikan target yang sudah kita putuskan bisa terjadi," katanya.

Adapun progres pembangunan MRT Jakarta sampai saat ini telah mencapai 98,1%. Saat ini sejumlah penyelesaian pintu masuk dan interior stasiun menjadi pekerjaan fisik yang tersisa.

Sementara proses uji coba operasi comissioning atau uji coba tanpa beban saat ini masih terus berjalan secara paralel selama 24 jam. Uji coba operasi yang melibatkan masyarakat nanti diharapkan bisa lebih mengenalkan kereta MRT Jakarta lebih luas lagi sehingga saat operasi nanti, masyarakat tak lagi asing dengan proses operasional kereta MRT.

Tarif

Seputar tarif MRT, hingga kini Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan PT MRT Jakarta masih terus menggodok besaran tarif yang akan dipergunakan oleh publik.

Adapun Anies sempat menyatakan DKI sedang mengusulkan angka Rp8.500 per 10 kilometer untuk tarif MRT. Namun disebutkan Anies angka itu belum final. Pemprov DKI masih mengkaji sejumlah kemungkinan dan skema.

Pengamat Transportasi dari Universitas Indonesia Alvinsyah, menyatakan ada sejumlah komponen untuk menghitung besaran tarif transportasi. Biasanya, pemerintah harus mempertimbangkan aspek teknis, sosiologis, ekonomis dan politis.

"Yang lazim adalah faktor kemampuan daya beli masyarakat yang bisa dihitung dengan berbagai cara seperti analitis survey," kata Alvin di Jakarta, Minggu (10/2/2019).

Secara teknis, pemerintah juga diharapkan bisa memberikan tarif penyeimbang yakni besaran tarif yang disubsidi pemerintah dari tarif komersil. Alvin mencontohkan tarif TransJakarta yang stabil di angka Rp3.500 sejak tahun 2006.

Selain itu tarif akan disesuaikan dengan kerelaan membayar masing-masing masyarakat atau Willingness to Pay (WTP). Sistem penyesuaian tarif nantinya bakal melalui proses akademis dan sejumlah survei.

Terakhir, pemerintah memiliki tugas mencari sumber dana menutupi tarif penyesuaian tersebut. Salah satu contohnya dengan mengoptimalkan area komersil sekitar statisun MRT.

"Misalnya pajak properti disekitar setasiun, komersialisasi kawasan sekitar setasiun, iklan, pajak bbm, biaya parkir kendaraan, pendapatan ERP dan lain sebagainya. Ini dikategorikan sebagai sumber pendapatan non tiket," jelas dia.


#MRT #Transportasimassal #jakarta

Komentar Anda
Komentar