Hello,

Reader

Kekuasaan dan Kebodohan
Benny Benke/ dok
Kekuasaan dan Kebodohan

Oleh: Benny Benke (Jurnalis/Mantan Aktivis)

Sangat dipercaya kekuasaan (yang cenderung melenakan juga memabukkan) akan dan sangat bisa merusak otak pemegangnya.  Juga orang-orang yang berada di lingkaran kekuasaan terdekatnya. Bahkan ada yang menyimpulkan,  jika kekuasaan dipersepsikan sebagai obat-obatan,  maka dia (kekuasaan) akan membawa daftar panjang efek sampingnya. Diantaranya, kekuasaan bisa meracuni  dan bisa merusak tabiat pemegang kekuasaan itu sendiri.

Buktinya, kekuasaan bisa membuat yakin seorang Henry Kissinger percaya, jika kekuasaan yang dipegangnya, dapat menjadikannya sebagai magnet sex. Intinya,  kekuasaan bisa menyebabkan kerusakan otak. 

Demikian pendapat Jerry Useem, kolomnis di The Atlantic, The New York Times, Fortune, dan berbagai terbitan di AS.  
Useem tentu tidak sedang melantur.  Dia mengutip pendapat  Lord David Owen, seorang ahli saraf asal Inggris, yang pernah menjadi anggota parlemen dan menjabat sebagai menteri Luar Negeri sebelum menjadi seorang Baron. 

Lord David menceritakan kisah Howe dan Clementine Churchill dalam bukunya tahun 2008, berjudul "In Sickness and in Power". Dalam buku itu dinarasikan sebuah penelitian atas berbagai penyakit yang telah mempengaruhi kinerja sejumlah Perdana Menteri Inggris dan Presiden Amerika Serikat sejak tahun 1900. 

Dalam buku itu, ada temuan mencengangkan.  Karena beberapa Presiden di AS ternyata sempat menderita stroke saat menjabat sebagai orang nomor satu di AS, seperti Woodrow Wilson. Presiden yang lain diketahui melakukan penyalahgunaan obat-obatan,  yaitu Anthony Eden. Bahkan ada yang mengalami gangguan bipolar, yaitu Lyndon B. Johnson, dan Theodore Roosevelt. 

Dan setidaknya empat presiden lainnya diketahui mendapatkan gangguan yang tidak dikenali oleh literatur medis. 
Di Inggris sendiri,  Winston Churchill menjadi sangat mudah uring-uringan,  sensi dan "menjelma sosok yang tidak kami kenal, "saat duduk menjadi PM Inggris.   Demikian kesaksian Clementine Ogilvy Spencer-Churchill, istri Churchill.

Semua itu terjadi dipercaya karena tekanan maha besar dari kekuasaan. Yang tidak mampu dipanggul dan diemban oleh yang bersangkutan. Kurang drajad,  kata orang Jawa.  Jadinya,  kekuasaan berjalan dengan oleng, tak terkoordinasi dan turunannya, kebijakan negara berjalan acak-acakan. Tumpang tindih,  grusa-grusu. Hingga akhirnya,  kekuasaan memukul dirinya sendiri. 

Namun,  meskipun sangat berisiko merusak pikiran akal sehat dan mental.  Toh nyatanya kekuasaan,  dan atau jabatan Kepresidenan tetap ramai diperebutkan. Jika para cerdik cendikia yang pernah dipercaya nasib menjadi presiden saja bisa mengalami kerusakan otak dan perilaku mental.  Bagaimana dengan orangorang di bawah kualifikasi. Yang entah karena permainan nasib yang tak terpermaknai, menjadi presiden, apakah mampu menanggungkan beratnya beban menjadi presiden? 

Oleh karenanya di Indonesia, dikenal terma "kewahyon", mendapatkan wahyu atau pulung (bintang) . Siapapun yang mendaptkan wahyu itu, sangat dipercaya berhak menjadi Presiden. Siapapun itu. Tidak peduli dengan kapasitas intelektual, dan semua hal yang menyertai kriteria untuk menjadi seorang presiden. Yang semestinya dikaitkan dengan keserbaluarbiasaan itu, tidak  "masuk" dan tidak inheren dengan dirinya. Jabatan presiden di Indonesia, konon urusan nasib dan garis tangan belaka. 

Kekurangan citra ragawi sebagai presiden,  sangat bisa dipermak nanti. Gampang itu. Konsultan politik sangat bisa dibeli, demikian pula dengan kebutuhan sulapan citrawi lainnya.  Semua bisa diciptakan selaras kebutuhan dan keadaan pasar . Bahkan ihwal kekurangan kepintaran dan ketidakmampuan otak mengeja laju lalu lintas politik, dan urusan negara, yang serba zigzag dan gegas berlari,  bisa ditutupi dan disiasati,  pada taraf tertentu. 

Sisanya hanya kisah dongeng yang diikhtiarkan untuk direalistiskan. Kalau perlu dikultuskan. Serta tinggal membangun simulakra atau citra semu untuk konsumsi publik,  demi tegaknya republik. Sehingga jangan heran, politikus sekelas Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra pernah mengatakan,"Segudang kepintaran tak ada artinya dibanding segenggam kekuasaan".
Yusril mengatakan hal itu saat berpidato dalam Kongres Umat Islam Sumatera Utara, pada 30 Maret hingga 1 April 2018, di Medan, Sumatera Utara. 

Yusril ingin mengatakan secara semiotis, orang tidak pintar sekalipun alias bodoh,  jika memiliki kekuasaan,  dia menjadi lebih berharga, dan mungkin berbahaya.  Daripada sekumpulan orang-orang pintar yang nir kekuasaan.  
Oleh karenanya,  saat ini,  kita semua tahu,  Yusril akhirnya memilih bersekutu dengan kekuasaan,  yang menurutnya sendiri, dipegang oleh orang tidak pintar.  Mungkin Yusril sudah lelah,  kepintarannya membentur tembok kekuasaan yang segenggam. 

Tuan dan puan.  Tentu kita tidak sedang membahas langkah politik seorang ahli politik sekelas Yusril. Yang sudah khatam dan kenyang makan asam garam dunia perpolitikan di Indonesia. Membicarakan "tarian" politik Yusril,  seperti menggarami lautan. Yusril yang telah bersinggungan dengan gaya pemerintahan sejumlah Presiden di RI ini,  pasti mempunyai jawaban mustahak.  Atas langkah politiknya,  yang menurut dia pasti mangkus dan sangkil.

Pesan benderang dari jalan politik Yusril adalah,  kekuasaan memang sangat manis.  Saking manisnya,  sebagaimana bahaya makanan manis galibnya,  dia juga bisa membahayakan kesehatan tubuh.  Dan bahaya itu, bisa datang sekarang atau nanti. 

Mungkin Yusril,  dan hampir sebagian besar dari politisi ingin melunaskan apa yang ditulis Jeffrey Pfeffer. Pfeffer, adalah seorang profesor perilaku organisasi yang hebat di Stanford University’s Graduate School of Business.Dalam buku berjudul "Power: Why Some People Have It—And Others Don’t, ” (2010) dia mengemukakan alasan mendasar mengapa seorang (politisi) harus memainkan, dan terlibat dalam permainan kekuasaan. 

Pertama, ia menunjukkan temuan. Bahwa memiliki kekuasaan terkait dengan kesadaran, dapat membuat pelakunya bisa menjalani hidup lebih lama dan lebih sehat. Penelitian secara konsisten menunjukkan. Bahwa tingkat kontrol yang seseorang miliki atas pekerjaan (yang dinikmatinya), membuatnya menderita risiko kematian akibat penyakit arteri koroner, semakin kecil. 

Kedua, kekuasaan, visibilitas dan status yang menyertai kekuasaan dapat menghasilkan kekayaan. Bill dan Hilary Clinton adalah contoh yang bagus untuk tesis ini. Begitu pula mantan Walikota New York Rudy Giuliani. Dalam bahasa awam,  sejak kapan orang berkuasa hidupnya secara materi berkekurangan? 

Tidak kalah penting, kekuasaan adalah bagian dari kepemimpinan dan diperlukan untuk menyelesaikan sesuatu.
Selain itu, masih menurut Pfeffer, pada akhirnya kekuasaan adalah tentang menang. Dan siapa yang ingin berada di tim yang kalah. 

Trump dan Kebodohan 

Perkenalkan. Namanya Paul Begala, pakar strategi partai Demokrat,  dan komentator politik CNN. Serta pernah menjadi konsultan politik Bill Clinton, semasa masa kampaye presiden di AS tahun 1992. Sekaligus penasehat Clinton di White House. Dia,  dengan lantang pernah mengatakan,"Donald Trump is no 'idiot.' He's something worse". Ujaran Begala,  kepada presiden yang sedang berkuasa itu,  jika terjadi di Indonesia pasti bisa menyebabkannya celaka. Masuk bui. 

Tersebab para diehard presiden inkumben,  tinggal melaporkan "ujaran kebencian" itu kepada Polisi. Dan dalam hitungan hari, Polisi akan memeriksa yang bersangkutan. Sebelum melimpahkannya ke Kejaksaan,  dan setelah itu sidang,  ketok palu, resmi yang bersangkutan dilempar ke hotel prodeo.Untunglah Begala tinggal di AS,  bukan Indonesia yang azas keadilannya sangat klasik dan tradisional: keras ke lawan politik,  lembek ke kawan politik. 

Begala adalah satu dari sekian banyak persona yang acap mengolok-olok Trump.  Presiden terburuk --paling tidak demikian pendapat para hatersnya--sepanjang sejarah AS. Masih banyak sejumlah tokoh penting di AS juga menyebut Trump idiot, dungu, dan panggilan yang melecehkan cum merendahkan lainnya. Dan sejauh ini,  tidak atau belum ada yang dikriminalisasi, apalagi dirundung negara,  via piranti kekuasaannya, sebagaimana terjadi di rezim ini.  

Tuan dan puan.  Tindakan semacam ini, perundungan oleh kekuasaan kepada rakyatnya,  harus kita lawan sejadi-jadinya. Rezim manapun,  di bawah kepemimpinan siapapun,  harus menaggalkan cara-cara terbelakang seperti ini.  Memburu lawan politik, dengan alasan yang dicari-cari,  untuk dijebloskan ke penjara. 

Jika rezim berganti -- dan hanya masalah waktu pasti berganti -- kemudian rezim baru melakukan balas dendam. Dengan gantian melakukan  perundungan kepada lawan politik, yang pernah dan sering menekannya, pada sebuah massa.  
Lantas,  sampai kapan persoalan dendam antar anak bangsa, hingga beranak pinak purna? Kapan kita menyelesaikan semua kebodohan laten ini. 

Cukup mantan Sekretaris Negara Rex Tillerson yang menyebut Presiden Trump "dungu". Juga penasihat keamanan nasional H.R McMaster, yang menyebut Presiden Trump seorang "idiot," seorang "dongok" dan seorang pria dengan otak "seorang anak TK".

Dalam buku Michael Wolff berjudul,  "Fire and Fury" , mantan kepala staf Reince Priebus dan Menteri Keuangan Steve Mnuchin juga menyebut Presiden AS itu,  juga dengan sebutan "idiot." Bahkan penasihat ekonomi saat itu, Gary Cohn pernah saking mangkelnya mengatakan Trump adalah "bodoh seperti (kotoran)," dan "seorang idiot yang dikelilingi oleh badut." Padahal,  saat mengatakan itu,  Cohn sendiri adalah salah satu, dari sekian banyak orang  di sekitar Presiden. Jadi,  bisa diartikan,  Cohn juga bagian dari badut itu (?). 

Tidak ketinggalan,  miliarder dan bos media Rupert Murdoch juga pernah dengan kesadaran penuh menyebut Presiden Trump "idiot", dengan berbagai dalihnya masing-masing. Hebatnya,  Trump membalas ujaran dan tudingan yang tidak mengenakkan itu,  dengan santai,  sambil mengatakan, "Jadi, siapa yang benar-benar idiot?" Sembari menjawab berbagai isyu yang melatarbelakanginya mengambil kebijakannya, yang menurut banyak orang,  tidak populer. Sehingga melabelinya dengan sebutan idiot. 

Tanpa harus memerintahkan secara diam-diam, malu-malu atau terang-terangan kepada piranti negara,  untuk membungkam musuh politiknya. Sebagaimana yang terjadi di sini. Bayangkanlah kalau saja Trump yang mengatakan, " I dont read what i sign". Dipastikan bukan sekedar ujaran idiot,  dongok,  terbelakang,  ngga punya utek, suwek dan sebutan kasar lainnya yang akan dialamatkan kepadanya.  Bisa jadi,  lebih dari itu yang diaterima.  

Meski demikian,  diakui atau tidak.  Suka atau tidak suka.  Trump mempunyai kecerdasannya sendiri. Kecerdasan khas Trump, atau Trump's idiosyncratic intelligence.Yang buktinya mampu mengantarkannya ke kursi tertinggi jabatan di Gedung Putih. Bahwa ada persoalan mendasar lain,  jika kecerdasan khasnya itu,  ternyata belum atau tidak mampu membuatnya mampu melayani semua masyarakat AS,  kecuali masyarakat pemilihnya, itu persoalan lain. 

Termasuk cap cacat moral kadung disematkan kepadanya. Karena acap terkait persoalan pelecehan kepada perempuan di masa lalunya.  Tersebab,  sebagai pengusaha sukses nan tampan, pada masa mudanya dia banyak dikelililingi perempuan cantik,  yang mungkin ingin mendapatkan cipratan hartanya. 
Apapun itu,  pesan terjelek sekalipun dari persona sekelas Trump tetap ada.  Karena toh dia tidak atau belum melibatkan

piranti kekuasaannya untuk merundung,  sebelum akhirnya melempar musuh politiknya ke balik jeruji penjara. 
Betapapun "idiotnya" dia.Tetap berbeda,  tanpa harus memenjarakan sesama anak bangsa. Sepakat untuk tidak sepakat, tanpa membangun sekat.


#Kekuasaan #Kebodohan

Komentar Anda
Komentar