Hello,

Reader

Anti Pancasila
Fahmi Salim, Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat 2015 - 2020
Anti Pancasila

Dalam rubrik "Dari Hati ke Hati" di Majalah Pandji Masjarakat Hamka menceritakan kisah nyata persekusi yang dialami oleh KH. S. S. Djam'an, ulama terkenal pada tahun 1960 an, saat memberikan pengajian di rumah warga masyarakat ia menjelaskan tafsir firman Allah ayat 4-5 surah al-Kahfi tentang makna Tauhid yang murni dan menyesatkan paham trinitas. Rupanya ada yang nguping menginteli pengajian tsb. Selepas pengajian, saat hendak pulang Kyai Djam'an dikepung sekumpulan pemuda kristen berbadan kekar dam sangar, sambil meneriakkan kalimat "Anda anti-Pancasila!"

Dan, "Kita disuruh toleransi. Toleransi dengan tafsiran bahwa kita jangan atau dilarang menerangkan akidah kita; siapa yang berani menerangkan akidah kita maka rumahnya bisa dikepung  atau bisa diproses", sindir Hamka, mencontohkan kejadian yang menimpa Kyai Djam'an. 

"Dahulu tahun 1960 Hamka pernah berkhutbah di Masjid Agung Al Azhar bahwa di Indonesia saat ini ISLAM dalam bahaya, akibat wabah intoleransi dan tudingan anti-Pancasila oleh organ-organ NASAKOM kepada partai Islam, ormas Islam dan tokoh2 ulama Islam. Rupanya khutbah HAMKA itu sampai juga ke telinga Bapak Soekarno, presiden dan pemimpin besar revolusi yang ditabalkan oleh Nasakom. 

Ia lalu bereaksi dan menyatakan dalam sambutan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw di istana negara, "Ada orang yang mengatakan Islam dalam bahaya di republik ini, sebenarnya orang yang berkata itu sendirilah yang sekarang dalam bahaya". Tak lama kemudian pada tahun 1964 Hamka ditangkap dan dijebloskan ke penjara oleh rejim Nasakom dengan tuduhan hendak menggulingkan pemerintah, berencana membunuh presiden dan menteri agama, dan kontra-revolusi. Rupanya kata-kata bapak Presiden itu adalah isyarat bahwa Hamka sudah diincar dan jadi target persekusi dan kriminalisasi ulama di era kejayaan komunis di bawah naungan rezim Nasakom.

Nampaknya sejarah kembali berulang. Kini tidak sedikit pihak yang mengkhawatirkan Islam dalam bahaya, sehingga tak berlebihan jika ada yang memanjatkan doa munajat seperti doa Rasulullah Muhammad saw di perang Badar. 

Mereka mencibir dan meremehkan kekhawatiran itu. Ah biarkan saja, terserah apa maunya mereka. "Mungkin saja kita memang sudah tak seperasaan", kata Buya Gusrizal Ketua Umum MUI Sumatera Barat. 

Semoga Allah ta'ala melindungi kita semua dari makar kelompok yang sok Pancasila.

Romahurmuziy: Kelompok Yang Ingin Ubah Pancasila Berkumpul di Kubu Prabowo

Senjata rezim Jokowi membungkam opisisi:

-dituduh HTI
-dituduh Makar
-dituduh Teroris
-dituduh Radikal
-dituduh Intoleran
-dituduh anti Pancasila
-dituduh anti Kebhinnekaan
-dituduh mau mendirikan Negara Islam

Ada yang tahu kenapa ya?

Oleh: Fahmi Salim, Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat 2015 - 2020. Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah 2015 - 2020, Penulis berbagai buku dan Dosen UHAMKA
 


#AntiPancasila

Komentar Anda
Komentar
  • Didin Didin

    Senin, 11 Maret 2019 - 08:43 WIB

    ketika kita berjuang melawan penjajah tidak ada seleksi muslim, kafir, petani, pedagang, pengangguran yang boleh atau dilarang bahu membahu mengusir penjajah. artinya kemerdekaan didapatkan dari perjuangan bersama tanpa melihat asal usul.