Hello,

Reader

IT Lemah, Situs KPU Rentan Diserang Hacker
Ilustrasi (ist)
IT Lemah, Situs KPU Rentan Diserang Hacker

Jakarta, HanTer - Pengamat telekomunikasi Heru Sutadi mengatakan, situs dan server Komisi Pemilihan Umum (KPU) diserang hacker untuk mengacaukan hasil Pemilu 2019. Selain itu hacker juga ingin mengubah hasil Pemilu 2019 yang dampaknya bisa jadi yang kalah bisa menang dan yang menang bisa kalah. Sehingga dampak luasnya bisa mengacaukan kondisi politik dan keamanan di Indonesia.

"Ada juga hacker yang iseng menguji kekuatan security sistem KPU itu sendiri," ungkapnya.

Menurut Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute ini,  sejak tahun 2004 situs dan server KPU memang rentan diretas dan cracking. Dan Pilkada 2018 lalu membuktikan server KPU rentan diganggu oleh hacker. Oleh karenanya potensi hacking dan cracking harus diantisipasi oleh KPU sebagai lembaga penyelenggara pemilu.

"Memang perhitungan yang dipakai KPU secara manual tapi komputer tetap dipakai untuk menjumlahkan perhitungan dan semua hasil dapat dilihat perkembangannya secara online streaming juga,Saat ini IT KPU memiliki potensi gangguan yang sangat besar dari pihak luar," papar Heru Sutadi kepada Harian Terbit, Kamis (14/3/2019).

Dia menegaskan, dengan rentannya potensi IT KPU diserang hacker maka audit IT KPU merupakan hal yang harus dilakukan. Audit IT KPU juga untuk melihat kesiapan sistem dalam penghitungan suara secara nasional maupun memberikan informasi secara realtime kepada masyarakat terkait surat suara yang masuk.

Heru menjelaskan, asal usul hacker yang menyerang IT KPU juga beragam. Di antara mereka ada yang dari dalam maupun luar negeri. Walaupun utamanya dari Indonesia. Tapi bisa juga dari Indonesia dengan memakai IP dari luar negeri. Hanya, dalam kurun waktu satu dekade terakhir, serangan ke Indonesia juga banyak dari luar seperti saat konflik dengan Australia maupun Malaysia.

"Jadi mereka (hacker) ingjn menguji tingkat keamanan server KPU. Oleh karenanya perlu dilakukan audit dan sertifikasi keamanan server IT KPU seperti ISO 27001," jelasnya.

Perlu Antisipasi

Sementara itu, pengamat politik dari Indonesian Public Institute (IPI) Jerry Massie mengatakan, jika IT KPU  bisa diretas oleh hacker menunjukkan security system IT yang dimiliki KPU lemah alias  weak not strong (tidak kuat). Oleh karena itu untuk menangkal serangan cyber crime lewat malware, spyware, adware sampai virus pembunuh program maka IT KPU perlu diantisipasi. 

"Bisa saja data-datanya diserang. Di AS waktu lalu pun web kantor Demokrat dibobol oleh Wikileaks. Jadi ancaman ini jangan dianggap enteng. Program software-nya perlu diperkuat. Jadi bisa pakai para ahli IT dan yang penting bisa menjaga rahasia negara," paparnya 

Jerry menilai, jika data di KPU hilang maka bisa chaos pemilunya. Karena tugas KPU selain penyelenggara Pemilu, mereka juga yang mengumumkan pemenang Pilpres atau caleg. Jadi otomatis laporan Pemilu harus objektif. 

IP Address

Ketua KPU Arief Budiman membenarkan situs lembaganya pernah diretas lewat IP (Internet Protocol) Address dari China dan Rusia. Namun, Arief mengatakan banyak pula IP Address negara lain yang meretas situs KPU.

"Hacker (peretas) itu menggunakan IP Address dari mana aja. Ada IP Address dari banyak negara lah. Jadi bukan hanya China dan Rusia, enggak, dari banyak negara," kata Arief usai rapat kesiapan penyelenggaraan Pemilu 2019 di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan di Jakarta, Kamis (14/3/2019).

Namun Arief mengatakan melalui fakta tersebut belum bisa disimpulkan bahwa peretasnya berasal dari China, Rusia, dan negara lainnya. Sebab bisa saja IP Address dari negara lain digunakan oleh peretas di Indonesia. Ia menambahkan bisa pula peretas dari luar negeri menggunakan IP Address Indonesia untuk menyamarkan asalnya.


#KPU #IT #Hacker

Komentar Anda
Komentar