Hello,

Reader

Puluhan Warga Ponorogo Hijrah, MUI: Takut Kiamat akibat Frustasi dengan Kehidupan Tak Menentu
Ilustrasi (ist)
Puluhan Warga Ponorogo Hijrah, MUI: Takut Kiamat akibat Frustasi dengan Kehidupan Tak Menentu

Puluhan warga Ponorogo hijrah ke Malang karena takut datangnya Hari Kiamat. Menanggapi hal ini,  Sekretaris KDK Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Muhammad Naufal Dunggio mengatakan, adanya puluhan warga Ponorogo hijrah ke Malang karena takut kiamat merupakan fenomena manusia yang makin frustasi dengan kehidupannya yang kian tidak menentu. 

Ditambah juga akibat dari kekosongan iman dalam diri mereka. Sehingga makin klop ketika ada pihak - pihak yang menjanjikan bisa terhindar dari kiamat.

Naufal menyebut, kekurangan imam yang dialami puluhan warga Ponorogo juga dibarengi dengan sebagian oknum tokoh agama yang menghamba kepada penguasa. Jika sudah demikian maka umat menjadi liar sehingga aqidah umat menjadi berantakan.

Sementara itu, Ketua Media Center Persaudaraan Alumni (PA) 212 Novel Bamukmin juga mengatakan, adanya puluhan warga Ponorogo hijrah ke Malang karena takut kiamat merupakan fenomena rakyat yang panik atas musibah yang sangat sering terjadi saat ini. Karena berdasarkan catatan di salah satu media bahwa selama dari tahun 2014 sampai saat ini hampir 9 ribu kali terjadi bencana atau kiamat kecil.

"Untuk kiamat besar hanya Allah SWT yang tahu. Begitu pun kiamat kecil.  Kedepan nanti adalah urusan Allah SWT. Sehingga pejabat setempat bersama ulama harus meluruskan informasi yang sesat itu agar masyarakat mengetahui info sesat yang dilakukan oleh oknum -oknum yang tidak bertanggung jawab itu

Atropolog Universitas Indonesia (UI) Yophie Septiady mengatakan, hijrahnya puluhan warga Ponorogo ke Malang karena takut kiamat bukan sesuatu yang aneh. Namun tidak lazim terkait pemahaman tentang kiamat. Karena tidak mungkin kiamat bersifat lokal. Karena kalau itu terjadi maka namanya bukan kiamat, tapi bencana.  Motif dari puluhan warga Ponorogo hijrah ke Malang bisa juga diungkap, karena hijrah nya harus ke pondok. Sehingga terkesan pengurus pondok sedang mencari jemaat.

"Bisa ditelusuri itu, siapa yang pertama kali memberitakan kiamat di desa itu lalu kaitannya dengan pondok tempat warga desa tersebit bedol desa. Dari sini motifnya akan terlihat," jelasnya. 

Namun yang pasti, sambung Yophie, selama orang masih punya agama, maka pasti percaya dengan datangnya kiamat. Masalah yang harus dipahami adalah peran aktif MUI dan Kementerian Agama di pusat dan daerah untuk kemaslahatan umat yang terkait dengan pembelajaran agama dan pendampingan kepada para tokoh agama. Karena agama muncul bukan untuk membuat umatnya menjadi panik dan chaos, tapi agama ada untuk memberikan ketenangan dan kepastian hidup.


#Kiamat #ponorogo #mui

Komentar Anda
Komentar