Hello,

Reader

Mencegah Hoaks Menjadi Teror Menakutkan
Menko Polhukam Wiranto
Mencegah Hoaks Menjadi Teror Menakutkan

BERITA bohong atau hoaks terus menjadi perbincangan. Berbagai kalangan sudha mengecam, dan sejumlah pelakunya sudah di proses hukum. Namun hoaks terus di produksi. Seakan-akan pelakunya tidak ada jeranya, tidak takut dengan ancaman hukuman.

Tak heran jika Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto menegaskan bahwa penyebaran berita bohong dalam pelaksanaan pemilu serentak 2019 merupakan tindakan teror karena menimbulkan ketakutan di masyarakat. Sudah meneror psikologi masyarakat. Hal ini sama saja seperti terorisme.

Wiranto menyatakan, karena sudah jadi teror, maka harus segera di atasi dengan cara-cara tegas, tapi bertumpu kepada hukum. Wiranto mengemukakan hal ini usai Rakor Kesiapan Pengamanan Pemilu 2019, di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Rabu (20/3/2019).

Berita bohong memang masih dengan mudahnya kita temukan di media sosial maupun melalui pesan berantai di aplikasi percakapan. Sepanjang 2018 sampai Maret 2019, banyak sekali hoaks yang masih beredar dan memberikan dampak ke masyarakat, dari perasaan gelisah, takut, dan sebagainya.

Berdasarkan temuan Mabes Polri, setidaknya ada 3.500 berita hoax berseliweran setiap harinya. Kabiro Multimedia Mabes Polri, Brigjen Pol Budi Setiawan, saat menghadiri acara diskusi di Jakarta beberapa waktu lalu, mengemukakan, banyaknya berita hoax yang muncul bisa mengganggu dan jadi ancaman selama masa kampanye Pilpres 2019 yang sebentar lagi akan dimulai.

Beberapa waktu berselang calon Presiden RI Prabowo Subianto di depan pendukungnya mengimbau agar tidak menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian baik di media sosial atau tempat lainnya. Prabowo mengajak seluruh pendukungnya untuk santun dalam menyampaikan berbagai informasi.

Kita sambut positif ajakan siapapun yang meminta untuk tidak menyebar hoaks. Pasalnya saat ini di ranah publik masih diwarnai beragam rumors, provokasi dan propaganda. Hal ini diperparah lagi dengan nakalnya sejumlah netizen di Medsos yang memproduksi  informasi hoaks dan semangat anti kebangsaan. Seringkali isu SARA disampaikan ke publik dengan gamblang.

Presiden Joko Widodo pernah menyatakan, “Jangan saling menghujat karena kita bersaudara, jangan saling jelekkan karena kita bersaudara, jangan saling fitnah karena kita bersaudara, jangan saling menolak karena kita bersaudara, jangan saling mendemo, habis energi kita untuk hal-hal seperti itu, karena kita bersaudara." 

Seluruh anak bangsa harus menghentikan gesekan-gesekan. Sebab tindakan saling menghujat bisa berdampak negatif bagi bangsa Indonesia. Dalam berdemokrasi diharapkan tidak kebablasan agar  tidak mengancam demokrasi itu sendiri. Jangan sampai merusak NKRI serta merusak persatuan dan kesatuan.

Kita mengajak semua pihak untuk menggunakan medsos dengan bijak dan untuk kepentingan-kepentingan yang positif. Tidak menyebar hoaks, saling hujat, saling fitnah, dan saling adu domba, karena itu bukan nilai-nilai Islami kita, itu bukan tata nilai ke-Indonesia-an kita, karena tata nilai kita adalah budi pekerti yang baik, nilai-nilai sopan santun. “Itulah tata nilai Indonesia.

Kita berharap Pilpres 2019 nanti berjalan lancar, aman, jujur dan demokratis sehingga pestbisa menghasilkan demokrasi ini bisa mendapatkan pemimpin  yang mampu memimpin negeri untuk kesejahteraan rakyat.

Selain itu kita mengajak para calon presiden maupun calon wapres  dan pendukungnya, tokoh masyarakat, ketua adat, dan tokoh agama, hendaknya juga memperkuat nilai-nilai dan tradisi kepada warganya untuk menjaga keharmonisan dan kedamaian.

Kita meminta aparat keamanan untuk mewaspadai penyebaran hoaks dan menangkap pelaku hoaks yang menimbulkan ketakutan di masyarakat karena meneror masyakat.

 

 


#Teroris #Hoaks #Wiranto

Komentar Anda
Komentar