Hello,

Reader

400 Ribu Amlop dalam Kasus Bowo diduga untuk Serangan Fajar
Ilustrasi (ist)
400 Ribu Amlop dalam Kasus Bowo diduga untuk Serangan Fajar

Jakarta, HanTer - Temuan 84 kardus yang berisikan amplop-amplop berisi uang dalam OTT KPK terhadap anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Bowo Sidik Pangarso, diduga untuk 'serangan fajar' pada pemilu 2019.

KPK menjelaskan, ke-84 kardus yang berisikan sekitar 400.000 amplop berisi uang itu diduga dipersiapkan oleh Bowo untuk "serangan fajar" pada Pemilu 2019. 

Namun, KPK menyebutkan bahwa 84 kardus yang berisikan amplop-amplop berisi uang tidak ada kaitannya dengan logistik untuk pasangan nomor urut 01, Jokowi-KH Ma'ruf Amin, dalam Pemilu Presiden 2019.

"Kardus yang tadi apakah benar untuk logistik nomor satu Pilpres? Dari awal sampai akhir kami konferensi tidak ada berbicara tentang itu," kata Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan, saat jumpa pers, di Gedung KPK, Jakarta, Kamis.

Uang itu diduga terkait pencalonan Bowo sebagai anggota DPR di Daerah Pemilihan Jawa Tengah II.

"Untuk sementara dari hasil tim kami, beliau mengatakan bahwa saya ini memang dalam rangka kepentingan logistik pencalonan dia sendiri sebagai anggota DPR, dia akan maju kembali. Jadi, tidak ada keterlibatan tim sukses yang lainnya," ucap Panjaitan.

Untuk diketahui, KPK telah menetapkan Bowo bersama dua orang lainnya sebagai tersangka dugaan suap terkait dengan kerja sama pengangkutan pelayaran.

Diduga sebagai penerima Bowo dan Indung dari unsur swasta. Sedangkan diduga sebagai pemberi, yaitu Manajer Pemasaran PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti.

KPK menjelaskan konstruksi perkara yang menjerat empat tersangka tersebut.

Sebelumnya, perjanjian kerja sama penyewaan kapal antara PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) sudah dihentikan.

"Terdapat upaya agar kapal kapal PT HTK dapat digunakan kembali untuk kepentingan distribusi pupuk PT Pupuk Indonesia. Untuk merealisasikan hal tersebut, pihak PT HTK meminta bantuan BSP, anggota DPR Rl," ucap Panjaitan.


#KPK #ottkpk #pemilu #seranganfajar #dpr #golkar

Komentar Anda
Komentar