Hello,

Reader

TAJUK: Kampanye Akbar Bukan Panggung Umbar Janji Palsu
Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo saat melakukan kampanye akbar (ist)
TAJUK: Kampanye Akbar Bukan Panggung Umbar Janji Palsu

Kampanye terbuka atau kampanye Akbar Pemilu 2019, saat ini masih berlangsung. Sejumlah kalangan mencatat, sampai hari keenam kampanye Jumat (29/3/2019), dua pasangan calon presiden dan wakil presiden masih sebatas menyampaikan janji-janji politik, menyampaikan keberhasilan-keberhasilan pemerintahan yang telah dicapai.

Sejumlah kalangan belum melihat dua paslon capres dan cawapres menyampaikan kampanye pintar yang memberikan gagasan-gagasan untuk kejayaan dan kemakmuran negeri ini. Belum menyampaikan solusi memperbaiki ekonomi, mengatasi kemiskinan, pengangguran, dan solusi untuk menjaga kestabilan harga pangan, termasuk bagaimana mencapai agar harga-harga pangan bisa terjangkau oleh rakyat.

Paslon yang berlaga masih berkutat pada hal-hal remeh temeh, seperti kampanye-kampanye yang dilakukan pada pemilu-pemilu sebelumnya. Antara lain memberantas korupsi, menjamin harga pangan murah, mengatasi kemiskinan tanpa menjelaskan bagaimana cara mengatasinya. 

Juga hanya berkutat pada janji-janji untuk menciptakan lapangan kerja, biaya pendikan dan kesehatan yang terjangkau, juga tanpa menyebutkan bagaimana cara mencapainya. 

Padahal, rakyat menginginkan kampanye terbuka pemilu, kedua paslon bisa memberikan gagasan-gagasan untuk memperbaiki nasib mereka dan memperbaiki negeri ini. Bukan hanya berupa jargon politik, janji politik, yang sulit untuk dilaksanakan. 

Jika ini dilakukan dua paslon tentu akan mendapat perhatian dan dukungan masyarakat. Sebaliknya, jika hanya jargon dan hanya menyampaikan hal yang remeh temeh, pasti akan ditinggalkan rakyat yang sudah semakin cerdas dan melek politik.

Rakyat mendengar dan mencatat semua janji yang sudah disampaikan dua paslon capres dan cawapres. Karenanya jangan coba-coba untuk mengingkari semua janji-janji yang sudah diikrarkan, seperti tahun-tahun sebelumnya. 

Budayawan Emha Ainun Nadjib mengemukakan,  Presiden yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia periode 2019-2024, adalah pemimpin yang punya kesanggupan membawa Indonesia ber-"husnul khatimah" (akhir yang baik).

Dia mengatakan, jngan sampai bangsa Indonesia, terutama rakyat kecil di strata bawah, akan semakin berposisi sebagai pelengkap penderita dan menjadi korban kamuflase-kamuflase elite politik nasional maupun global. 

Rakyat tidak butuh pemimpin dan politisi yang hanya berteori-teori, mengumbar-umbar janji, apalagi tidak menepatinya, dan cuma  melakukan pencitraan. 

Seluruh anak negeri  membutuhkan pemimpin  yang memiliki visi, karakter, dan kompetensi memecahkan masalah, bukan justru pemimpin yang menjadi bagian dari masalah. Pemimpin yang benar-benar memenuhi janji-janji politik yang dia ucapkan saat kampanye.
 
Hanya pemimpin yang mau bekerja dengan seluruh hati dan jiwanya yang bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik  di masa depan. Indonesia yang berdaulat dan dihormati bangsa-bangsa lain.
 
Kita memimpikan hadirnya seorang presiden yang mampu menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya agar rakyat memiliki penghasilan guna memenuhi kebutuhannya. Agar mereka bisa menyekolahkan anak-anaknya. Agar mereka bisa dihormati ketika datang ke rumah sakit, tidak lagi diusir, bahkan disandera. Rakyat juga butuh ketenangan hidup
 
Harapan kita Pemilu 2019 yang sebentar lagi digelar bisa  menghasilkan pemimpin dan elite plitik yang bisa membuka mata, membuka otak, dan membuka telinganya. Begitulah seharusnya presiden pilihan rakyat. 

Ingatlah, rakyat butuh makan dan uang. Rakyat butuh yang lebih konkrit, yaitu kesejahteraan.  Ukurannya adalah sandang, pangan, perumahan, dan pekerjaan. Itu sebabnya, wajar kalau rakyat merindukan pemimpin yang punya visi, karakter, dan kapasitas untuk memecahkan masalah. Bukan seorang presiden yang menjadi bagian dari masalah, dan  pemimpin yang sibuk melakukan politik pencitraan tanpa karya nyata.


#Pilpres #Kampanye #kpu #bawaslu

Komentar Anda
Komentar