Hello,

Reader

TAJUK: Indonesia Butuh Presiden Demokratis dan Tidak Otoriter
Pilpres 2019
TAJUK: Indonesia Butuh Presiden Demokratis dan Tidak Otoriter

NEGERI ini membutuhkan pemimpin demokratis, tidak otoriter, dan tidak nepostisme. Menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), Presiden yang tidak otoriter dan tidak nepotisme itu untuk menjaga kondisi negara, khususnya di bidang perekonomian supaya tetap stabil.

Saat berdialog dengan para pengusaha dalam Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ke-29 di Hotel Swiss Bell Batam, Selasa, JK mengatakan, pada zaman orde baru, pemerintah terlalu otoriter dalam menjalankan sistem pemerintahan.

Selain itu, dominasi perekonomian dikuasai oleh pihak-pihak terdekat Presiden Soeharto saat itu. Hal itu menyebabkan negara Indonesia mengalami kegagalan dan keterpurukan ekonomi akibat pemimpin yang otoriter dan nepotisme.

JK mengemukakan, kenapa akhirnya Presiden Soeharto dianggap gagal? Karena otoriter, kalau otoriter itu tidak memberi kesempatan orang untuk berbeda pendapat. Kedua karena kecenderungan KKN, nepotisme, mendahulukan teman dan keluarga. Itu dua hal yang menyebabkan Pak Harto bermasalah.

Saat ini kita sangat membutuhkan  presiden yang memberikan suatu inspirasi dan motivasi untuk rakyatnya dan yang memotivasi agar bangsa ini terus bangkit, terus melakukan perubahan untuk kesejahteraan rakyat.

Lalu presiden seperti apa yang kita perlukan saat ini. Ditengah masih banyaknya pengangguran dan kemiskinan di negeri tentu kita membutuhkan presiden yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk mengentaskan kemiskinan.

Negeri ini membutuhkan presiden yang mampu mengatasi keterpurukan negeri ini. Selain presiden, kita juga membutuhkan kesatria yang piawai dalam teknologi komunikasi dan informasi. Juga  membutuhkan kesatria ekonomi yang mampu membangun usaha untuk mengembangkan usaha rakyat kecil.

Dan paling penting adalah pejabat-pejabat negara yang memiliki jiwa kepahlawan. Selain gagah dan berani, jujur berintegritas, mendahulukan kepentingan umum, berkorban untuk orang lain, bekerja untuk kepentingan rakyat, dan bersikap toleran, kita membutuhkan hadirnya para pejabat negara yang tidak korupsi, tidak menerima suap.

Kini ditengah situasi politik yang memanas saat ini tentu dibutuhkan suasana kebersamaan antar anak bangsa demi kemajuan negeri ini. Negeri yang rukun, inilah yang kita inginkan. Elite dan para pemimpin negeri yang saling berangkulan, tidak gontok-gontokan, dan saling hujat menjadi hal yang sangat penting untuk kemajuan bangsa, kesejahteraan rakyat, dan menciptakan perubahan besar di negeri ini.

Siapa pun yang terpilih menjadi presiden pada Pilpres 2019 nanti harus memiliki rasa kebangsaan yang tinggi. Pemimpin yang memiliki rasa kebangsaan yang tinggi tentu mampu merubah nasib bangsa menuju Indonesia yang berdaulat, adil, makmur, dan sejahtera.

Selain itu, pemimpin yang memiliki kebangsaan yang tinggi tentu saja memiliki keberanian dan ketegasan untuk mengusir pihak asing yang berusaha ‘menguasai’ negeri ini dengan dalih investasi. Dengan dalih kerjasama antarnegara, padahal mereka memasukkan tenaga kerja secara ugal-ugalan ke negeri ini.

Rakyat menginginkan pemimpin yang kuat, tidak otoriter, nepotisme, dan tidak ingkar janji  agar kekayaan nasional Indonesia bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kemakmuran rakyat.

Tentu saja kita mengimbau kepada seluruh masyarakat termasuk para tokoh agama dan tokoh politik untuk turut serta mendinginkan suasana dan memberikan kesejukan pada pilpres mendatang.

Mari kita secara bersama-sama bahu-membahu membangun negara dari segala sisi untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.


#Presiden

Komentar Anda
Komentar