Hello,

Reader

Menhub Harus Bisa Meredam Psikologis Masyarakat Terkait Mahalnya Harga Tiket Pesawat 
Menhub Budi Karya
Menhub Harus Bisa Meredam Psikologis Masyarakat Terkait Mahalnya Harga Tiket Pesawat 

Jakarta, HanTer - Pengamat penerbangan Gatot Raharjo mengatakan, banyak cara yang bisa dilakukan Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi untuk mengatasi kenaikkan harga tiket pesawat jelang Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah kemarin daripada menuntut maskapai menurunkan tarif. Karena jika tarif diturunkan dan maskapai penerbangan bangkrut atau menutup rute maka yang dirugikan masyarakat juga.

"Menhub sebagai regulator transportasi juga bisa membuat aturan yang memudahkan maskapai untuk mendapat penghasilan lain selain dari penumpang. Ini untuk menutup biaya yang dikeluarkan maskapai yang memang mahal," ujar Gatot menanggapi mahalnya harga tiket pesawat kepada Harian Terbit, Jumat (7/6/2019).

Gatot menuturkan, ada beberapa hal yang membuat biaya dalam maskapai besar atau mahal yakni avtur, perawatan, dan sewa pesawat. Selain itu biaya yang mahal di maskapai juga dipengaruhi oleh harga tukar rupiah ke dolar karena semua dibayar memakai dolar. Akibatnya maskapai harus didorong untuk dapat penghasilan dan bisa menutup biaya operasional tersebut.

"Sayangnya Menhub-nya memang kurang kreatif (atasi mahalnya harga tiket).  Kalau ditanya jawabnya normatif terus," paparnya.

Gatot memaparkan, mahalnya harga tiket pesawat memang berawal dari maskapai yang saling perang harga sehingga modalnya tergerus menipis, dan mulai menaikkan harga. Tapi masyarakat yang dimanjakan harga tiket murah terkena dampak psikologis karena tiba-tiba harganya naik. Akhirnya jumlah penumpang pesawat pun mengalami penurunan.

"Bagi maskapai, sebenarnya penurunan jumlah penumpang itu tidak masalah karena tertutup dengan harga tiket yang tinggi. Jadinya sekarang mereka justru untung. Jadi sebenarnya Menhub tidak perlu latah ikut-ikutan menuntut maskapai menurunkan harga karena maskapai bisa rugi dan malah bangkrut," paparnya 

Menhub, sambung Gatot, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas lancarnya moda transportasi harusnya mempersiapkan moda transportasi lain yang bisa digunakan masyarakat. Selain itu Menhub juga harus menjamin moda transportasi itu agar selamat, aman dan nyaman seperti pesawat dan digemari masyarakat. Jikapun harus menurunkan tarif maka Menhub bisa membuat aturan subsidi silang. 

"Untuk rute ke luar Jawa, tarifnya diturunkan, tapi untuk di dalam Jawa tarif bisa dinaikkan. Maskapai yang mau melayani luar Jawa, diberi slot penerbangan dalam Jawa yang ramai. Jadi bisa subsidi silang," jelasnya.

Terkait apa sanksi yang pantas disematkan kepada Menhub terkait mahalnya tarif pesawat, Gatot memaparkan, protes masyarakat yang terus menerus pada dasarnya sudah menjadi sanksi moral untuk Menhub untuk introspeksi bagaimana meredam psikologis masyarakat. Karena jikapun mundur dari jabatannya sebagai Menhub maka tidak tepat karena umur Kabinet Kerja tersisa beberapa bulan lagi.

"Semoga kabinet depan yang menjadi Menhub benar-benar orang yang tahu transportasi. Soalnya ini (Kemenhub) kementerian teknis, kalau dikasih orang politik, bisa ruwet lagi," tegasnya.

Ketua Badan Relawan Nusantara (BRN) Edysa Girsang mengatakan, mahalnya harga tiket pesawat disaat rakyat membutuhkan untuk transportasi mudik jelang Lebaran untuk silahturahmi dengan sanak famili maka menunjukan negara tidak hadir untuk rakyatnya. Buktinya di saat seperti ini dimana rakyat sangat membutuhkan transfortasi yang efektif dan cepat tapi pemirintah justru membiarkan (sengaja) adanya kenaikan harga tiket pesawat.

"Dan konyolnya lagi Menhub sibuk menjilat bahwa pemudik lebih memilih jalan darat dari pada transfortasi udara. Ini makin seperti dagelan saja negara ini. Padahal saat ini masyarakat ingin silahturahmi dengan sanak famili," jelasnya.

Edysa menilai, mahalnya harga tiket pesawat terjadi karena rezim Jokowi sangat membutuhkan dana besar untuk meningkatkan citranya. Namun Jokowi harus bayar hutang atas nama pembangunan infrastruktur. Karena saat ini negara terjerat hutang atas nama investasi. Oleh karena itu dengan alasan peningkatan harga tiket pesawat yang mahal mereka sedang menyiapkan karpet merah masuknya perusahan-perusahaan  asing ke Indonesia.

Sekedar diketahui harga tiket pesawat terus meroket. Bahkan harganya sampai tak masuk diakal, dan membuat para pemudik harus putar otak. Seperti di agen penjualan online Traveloka harga tiket pesawat untuk keberangkatan 31 Mei 2019 rute Jakarta-Medan dijual dengan harga paling murah Rp 3,7 juta untuk kelas ekonomi. Penerbangan ini menggunakan maskapai Lion Air dan harus transit di Kuala Lumpur untuk ganti pesawat Batik Air. Ada kelas bisnis pada rute yang sama dijual Rp 9,9 juta. Lebih parah lagi bila terbang dari Bandung ke Medan, tiketnya Rp 13,4 juta sampai Rp 21,9 juta untuk penerbangan menggunakan maskapai Garuda Indonesia. 


#BudiKaryaSumadi

Komentar Anda
Komentar