Hello,

Reader

Sandi dan Jenderal Gatot Digadang Jadi Ketum Demokrat Gantikan SBY
Sandiaga Uno
Sandi dan Jenderal Gatot Digadang Jadi Ketum Demokrat Gantikan SBY

Jakarta, HanTer - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief menuding Max Sopacua dkk berencana mengupayakan agar calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno dan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo bisa menjadi ketua umum.

Terkait hal itu, Direktur Eksekutif Indonesian for Transparency and Akuntabillity (Infra) Agus Chaerudin, menilai, wacana yag dilontarkan Max Sopacua tentang usulan Sandiaga Uno sebagai Calon Ketum Partai Demokrat, merupakan hal yag wajar di alam Demokrasi Pancasila. Terlebih, dalam kondisi Pasca Pemilu Serentak 2019 yang masih kisruh menunggu keputusan Sidang MK. 

"Hal ini tentu merupakan salah satu manuver akibat tidak adanya figur kuat yang berpotensi dari Kader PD. Meski figur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang lama digadang sebagai penerus Ketum dari internal salah satu Pendiri P Demokrat, namun secara elektabilitas dan potensi pengalaman politik masih perlu banyak belajar memahami denyut kehidupan intrik politik," ungkapnya di Jakarta, Minggu (17/6/2019).

Disisi lain, lanjut Agus, wacana MPP PD dapat dilihat juga sebagai usaha islah polemik antar kubu SBY dan Partai Demokrat dengan Prabowo-Sandi dewasa ini, yang diduga kuat ada kelompok internal Kader PD mengakui kekeliruan langkah sikap dari integritas politik Ketum PD.

"Dengan bahasa sederhananya, usulan wacana Sandiaga Uno sebagai Calon Ketum PD sebagai permintaan maaf dan islah kepada Kubu Prabowo-Sand selain dari mendapatkan potensi pendanaan dari PD," terang dia.

Oleh sebab itu, kata Agus, alangkah baiknya bila MPP PD serius menyiapkan regenerasi kader calon ketua umum setelah ada keputusan sidang PHPU oleh MK.

Sebelumnya diketahui, Max Sopacua cs membentuk Gerakan Moral Penyelamatan Partai Demokrat (GMPPD) dan mendorong pembenahan organisasi melalui pelaksanaan Kongres Luar Biasa (KLB) pada September. Hal itu sempat menuai kritik dari beberapa petinggi PD.

"Kami sudah tahu kalau Mubarok, Max Sopacua akan mendatangkan kursi Ketum Demokrat kepada Sandi Uno, Gatot Nurmantyo dll," ucap Andi melalui akun Twitternya, @AndiArief_ Minggu (16/6/2019).

"Menjadi makelar memang kerap menguntungkan, tapi Sandi Uno atau Gatot Nurmantyo bukan orang yang bodoh yang bisa dibohongi," imbuhnya.

Kritik

Andi pun mengkritik Max Sopacua dkk tidak pernah lagi berbuat sesuatu untuk Partai Demokrat. Andi juga menyebut ada pihak luar yang ikut dalam gerakan bentukan Max Sopacua dkk ini. Akan tetapi, dia tidak mengungkap identitasnya. Andi hanya menegaskan bahwa saat ini bukan saat yang tepat untuk berkonflik.

"Tidak tepat waktunya mengajak kami dan Pak SBY berkelahi. Sekarang kami sedang berduka atas kepergian Ibu Ani," kata Andi. 

Adapun Max Sopacua, Ahmad Mubarok, Ahmad Yahya, Ishak dan beberapa kader senior lainnya membentuk GMPPD. Mereka menganggap Demokrat perlu melakukan introspeksi lantaran hanya memperoleh 7,7 persen suara. 

Pembenahan organisasi dianggap sebagai solusi konkret. Mereka mengusulkan agar Kongres Luar Biasa dilaksanakan pada September tahun ini. Namun itu semua tergantung bagaimana respon dari para kader terlebih dahulu. 

Sejauh ini, DPD Demokrat berbagai provinsi menolak usul GMPPD terkait KLB. Mereka justru mendesak DPP agar menindak tegas Max Sopacua cs karena dinilai membuat gaduh permasalah internal dengan membawanya ke hadapan pers sehingga diketahui publik.

Saat Harian Terbit mencoba menghubungi Ahmad Mubarok, selaku salah satu pendiri GMPPD, yang bersangkutan tak kunjung merespons.

Hal yang sama juga terjadi saat mencoba menghubungi petinggi PD lainnya, yakni, Ferdinand Hutahean. Nomor yang bersangkutan tak kunjung merespon saat dihubungi maupun melalui pesan singkat.

Selesaikan Baik-baik

Sementara itu terkait GMPPD, ditanggapi oleh Mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrat (PD) Marzuki Alie. Menurut Marzuki, gerakan yang dilakukan sejumlah elite PD tersebut tidak diperlukan.

"Saya itu, walau saya tetap anggota, saya ngamatin. Tetapi saya juga enggak suka yang seperti ini. Harusnya, biarkan saja bergulir. Nanti kan ada saatnya kan kongres. Situasinya kan sedang hiruk pikuk begini," kata Marzuki di Jakarta, kemarin.

Marzuki menyatakan, para kader PD semestinya tidak beradu opini di publik menyangkut persoalan partai. Figur-figur seperti Ferdinand Hutahaean dan Rachlan Nashidik dinilai perlu berkomunikasi dengan senior-senior PD.

"Harusnya diantara kader saling tabayun (klarifikasi). Terus terang rombongan Ferdinand, Rachland, mereka itu kan orang-orang baru, ya sowan (bertemu) lah. Jangan beragumen di media. Hormati juga orang yang lebih senior," ujar dia.

Sebaliknya, menurut Marzuki, senior-senior PD juga tak harus jumawa. "Nah yang senior juga jangan mentang-mentang. Partai ini kan bergulir terus. Kalau yang senior saja duduk di sana (pengurus), ya partai enggak besar juga," terang mantan Ketua DPR ini.

Marzuki pun menyebut, hal itu dapat dibicarakan secara baik-baik dan duduk sama-sama.

"Sampaikan hai partai kita ini partai yang cerdas, partai yang santun, partai yang bersih. Jangan dong bicara begitu. Enggak perlu harus dibuka ke publik," ungkapnya.


#Demokrat #sby #sandiaga #gatot

Komentar Anda
Komentar