Hello,

Reader

Sebaiknya Tetap Jadi Oposisi, Amien: Jokowi-Prabowo Tidak Bicarakan Bagi-bagi Kekuasaan
Sebaiknya Tetap Jadi Oposisi, Amien: Jokowi-Prabowo Tidak Bicarakan Bagi-bagi Kekuasaan

Jakarta, HanTer - Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais mengatakan pertemuan antara Presiden terpilih Joko Widodo dengan Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto pada Sabtu (13/7), sama sekali tidak membicarakan "power sharing".

"Saya tadi bertemu dengan Prabowo, isinya pertemuan dengan Jokowi pada 13 Juli sama sekali tidak berdiskusi dan bermusyawarah tentang 'power sharing', pembagian kursi dan hal-hal yang mungkin kita sangka telah terjadi," kata Amien saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (16/7/2019).

Amien mengatakan pertemuannya dengan Prabowo berlangsung 25 menit, dan ditegaskan bahwa tidak ada pembicaraan mengenai siapa dapat apa.

Menurut dia, pertemuan antara kedua tokoh itu intinya agar tidak ada lagi istilah "cebong" dan "kampret" di masyarakat sehingga bisa akur pasca-Pilpres 2019.

"Nah karena itu saya lantas bertanya apa selanjutnya? Beliau mengatakan, Pak Amien, saya sudah mengemukakan pendapat saya di instagram," ujarnya.

Dia mengatakan komitmen Prabowo tentang sikap politiknya sudah berkali-kali disampaikan dalam berbagai kesempatan, pada kampanye Pemilu hingga saat ini yang masih konsisten dipegang.

Amien mengatakan dalam pertemuannya tersebut, Prabowo menyampaikan bahwa yang namanya rekonsiliasi harus benar-benar objektif dan pemetaan politik ke depan harus dipikirkan secara matang.

"Kalau memang betul untuk kedaulatan pangan, kedaulatan energi, kedaulatan air, memperkuat ketahanan bangsa, perbaikan kekuatan militer dan lain lain, kemudian pro-rakyat, pro pasal 33 UUD 1945 maka semua bisa dipertimbangkan kalau mau rekonsiliasi dan tentu kekuatannya seperti terefleksi dalam hasil menurut versi KPU yang didukung oleh MK," katanya.

Dia berpendapat lebih baik partai politik yang selama ini berada di Koalisi Indonesia Adil Makmur, berada sebagai oposisi yang relatif tangguh di parlemen.

"Jadi tidak lantas secara mutlak harus dipertahankan terus dibela mati-matian. Tapi semua berjalan secara roda berputar, kekuasaan berputar, jadi ini ringan saja," katanya

Ketua Presidium Perhimpunan Masyarakat Madani (PRIMA) Sya'roni mendukung pernyataan Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais yang mengkritik keras jika rekonsiliasi antara Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto hanya sekedar bagi-bagi kekuasaan. 
Sya'roni pun meminta pertemuan di MRT jangan ada bagi-bagi kekuasaan karena akan mengurangi nilai demokrasi.

"Tapi kalau mencermati pertemuan di MRT, bisa disimpulkan jauh dari kesan bagi-bagi kekuasaan. MRT adalah area terbuka, sehingga ada pesan implisit yang ingin disampaikan bahwa pertemuan MRT tidak membahas agenda terselubung," ujar Sya'roni kepada Harian Terbit, Selasa (16/7/2019).

Dia memaparkan, dalam pertemuan antara Prabowo-Jokowi di MRT, Prabowo hanya mengucapkan selamat bekerja dan Gerindra siap membantu. Statemen tersebut masih multitafsir dan tidak bisa dimaknai sinyalemen masuk kabinet. Apalagi jauh sebelum pertemuan tersebut, ada statement dari petinggi Gerindra yang menyatakan bahwa pertemuan Prabowo-Jokowi hanya untuk membebaskan para pendukung yang masih ditahan polisi. "Hingga hari ini juga tidak ada statement dari Prabowo atau pun petinggi Gerindra yang menyatakan ingin masuk kabinet," jelasnya.

Melihat dinamika tersebut, sambung Sya'roni, bisa diprediksi Partai Gerindra akan tetap di jalur oposisi bersama PKS. Apalagi Gerindra sudah 10 tahun teruji sebagai oposisi. Sehingga tidak akan masalah jika 5 tahun ke depan tetap sebagai oposisi terhadap pemerintahan Jokowi. Oleh karena itu.


#Presiden #jokowi #menteri #partaipolitik #prabowo #amienrais

Komentar Anda
Komentar