Hello,

Reader

RSCM Kesulitan Obat, Alkes dan Bayar Gaji Karyawan karena Piutang BPJS Kesehatan
RSCM
RSCM Kesulitan Obat, Alkes dan Bayar Gaji Karyawan karena Piutang BPJS Kesehatan

Jakarta, HanTer - Pemerintah Joko Widodo harus mengambil keputusan untuk memberikan transfusi dana untuk membantu BPJS Kesehatan memenuhi segala utangnya pada rumah sakit dan juga mengatasi defisit yang dialaminya.

Besarnya utang BPJS Kesehatan kepada kepada rumah sakit-rumah sakit yang belum dibayarkan diungkapkan Direktur Utama Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr Lies Dina Liastuti, SpJP(K), MARS. Saat ini, RSCM tengah menghadapi kesusahan karena piutang BPJS Kesehatan. Mulai dari kesusahan untuk mendapatkan obat dan alat kesehatan, hingga meminjam dana kepada bank.

"Kasus-kasus keterlambatan atau kurang bayar dari BPJS sangat merepotkan sekali. Kita harus menghadapi vendor. Kita sampai harus menghentikan beberapa pelayanan, pasien harus dipulangkan karena tidak jadi operasi karena tidak ada obat bius," ujarnya di RSCM, Jakarta Pusat, Selasa (16/7/2019). 

Dampak dari keterlambatan pembayaran oleh BPJS Kesehatan itu, kata dr Lies membuat RSCM harus ikat pinggang sekencang mungkin. Sementara, satu sisi RSCM harus memastikan program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) tetap berjalan, namun di sisi lain juga harus mendapatkan obat, alat kesehatan, dan juga bisa membayar karyawan non-PNS.

Ujung-ujungnya, seperti dikutip detik, RSCM harus meminjam dana kepada bank dengan pembayaran bunga yang dibayarkan pihak BPJS Kesehatan. Namun, dr Lies menyebut, tetap saja pihak RSCM lah yang merugi.

"Pada waktu itu kami rugi. Jadi yang disepakati oleh BPJS nilainya berapa, ketika BPJS mau bayar dendanya, nominalnya beda. Bank itu 180 juta, sedangkan BPJS 114 juta. Kami rugi 66 juta, kita utang kita rugi," curhatnya.
 


#BPJSKesehatan #RSCM

Komentar Anda
Komentar