Hello,

Reader

Bang Dasco Yang Saya Kenal
Bang Dasco Yang Saya Kenal

Oleh: Ricky Tamba, S.E. (Aktivis '98/ Kader Gerindra)

Saya lupa pastinya, antara tahun 2002 saya mulai kenal Bang Dasco dan bagaimana awalnya hingga kami dapat bertemu. Kami terkadang nongkrong berdua, bahkan pernah beliau ajak saya nonton film Bollywood India (yang mungkin kegemarannya saat itu), dan herannya, Bang Dasco tetap ingat kebiasaan saya membawa air mineral botol besar hingga saat ini. 

Di tahun 2004, pernah kami dengan Pendeta Nathan Setiabudi (mantan Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia/ PGI) serta para aktivis dan tokoh agama membicarakan suksesi pemerintahan dan kami sepakat agar Gus Sholah (KH. Salahuddin Wahid) dapat maju menjadi Cawapres RI waktu itu. Bersama Bang Dasco, kami pergi membujuk Gus Sholah agar mau menjadi Cawapresnya Pak Wiranto.

Sebenarnya saya adalah bagian kecil dari aktivis cum politisi yang tak senang tampil di media massa dan media sosial, pun tak gemar membuat tulisan puja-puji dan atau memamerkan kedekatan dengan para tokoh nasional, karena tak mau dianggap menjilat dan cari muka. Apalagi mengkapitalisasi menjadi keuntungan pribadi, yang bisa jadi dianggap naif bagi banyak orang.

Saya lebih senang bekerja dalam keheningan dan menjauh dari keramaian seremonial hingar bingar pentas politik. Baru belakangan ini saja saya mulai sering membuat postingan di media sosial dan terkadang menyebarkan pernyataan di media massa, untuk kampanyekan gagasan serta berkomunikasi dengan jejaring aktivis dan politisi.

Mungkin ini jadi salah satu latar yang membuat ada persamaan gaya kerja dengan senior saya yang bernama lengkap Sufmi Dasco Ahmad tersebut, yang lebih senang di belakang layar dan sulit diwawancarai oleh media massa (bahkan postingan akun media sosialnya juga tak dimaintain rutin seperti gaya kekinian para politisi papan atas). Hal yang langka bila tetiba Bang Dasco posting foto dan kegiatannya, apalagi sampai muncul komentarnya di media massa, yang sangat menyemangati dan mengobati rasa rindu jejaringnya.

Kami terkadang bersama, tetapi pernah beberapa kali bertahun-tahun tak bertemu. Walau kerapkali rasa kangen itu muncul dan di beberapa momentum pasti kami bertemu lagi. Pernah saya diundang Bang Dasco saat beliau membuka kantor hukumnya (kalau tak salah ingat di daerah Kramat Raya), puluhan tahun lalu. Juga beberapa kali diminta membereskan beberapa pekerjaan, tapi selebihnya saya berkelana mencari pengalaman, memperluas jaringan sambil menyelami kerasnya kehidupan di luar dunia politik.

Bang Dasco yang saya kenal dahulu dan sekarang tak banyak berubah gayanya, perbedaannya adalah status anggota DPR RI dan jabatan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra yang kini melekat di Bang Dasco. Dalam hal keseharian, beliau tetap seorang senior yang peduli dan sayang dengan para adik yuniornya, walau yang berbeda organisasi dan kepentingan politik. Tanpa pamrih.

Saat saya pernah menyepi dan jauh di Lampung, saya kerap mendapatkan kabar positif bahwa Bang Dasco sehat selalu dan senantiasa menjaga persahabatan dengan banyak aktivis dan politisi yang merupakan sahabat-sahabat lama saya. Ini hal menyenangkan bagi saya, karena biasanya seorang tokoh ketika semakin hebat, biasanya lebih senang bergaul dengan para 'selebritis politik' dan cenderung melupakan teman-teman lamanya.

Bang Dasco bukan tipe orang yang mengekang mengatur-atur teman dan yuniornya, terlebih yang pernah merasakan kebaikan hatinya. Beliau sepertinya suka dengan orang yang mampu bergerak cepat dan mandiri, juga senang dengan orang yang tegas dalam prinsip dan luwes dalam pergaulan. Jarang saya dengar beliau bermusuhan, berkata negatif atau benci dengan seseorang, sepertinya dari Sabang sampai Merauke selalu ada mereka yang merasa menjadi bagian dari 'Pasukan Komandan SDC', inisial favorit baginya.

Bang Dasco yang saya kenal, orangnya tegas dan teliti. Cenderung perfectionist, dan tak suka bila ada yang menyerah di awal mendapatkan sebuah tugas. Baru tahun 2017 akhirnya saya berada di gerbong yang sama yakni di Partai Gerindra, walau 2008-2009 saya pernah nongkrong di Brawijaya dan Bidakara, hingga ikut deklarasi akbar di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan. Konsistensi seruan kebangsaan Pak PS08, juga keberadaan Bang Dasco dan Bang Habiburokhman di Partai Gerindra-lah membuat saya kepincut jatuh cinta lanjutkan perjuangan kerakyatan dengan menjadi kader aktif sebuah partai politik.

Saya kembali ke dunia politik Jakarta dengan merajut ulang berbagai jaringan serta sowan silaturahim ke para sahabat lama dan para senior selama setahun lebih sejak 2017 awal. Tetiba, Agustus 2018 saya mendapat telepon dari Bang Dasco untuk memperkuat barisan Gerakan Nasional Prabowo Presiden (GNPP) serta mulai September 2018 diperintah menjadi Kepala Sekretariat Direktorat Advokasi dan Hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi yang dinahkodai oleh Bang Dasco dan Bang Habiburokhman (Caleg DPR RI Terpilih 2019 Partai Gerindra Dapil Jakarta Timur/ ACTA). Awalnya saya agak khawatir, karena tahu tingkat komitmen dan dedikasi kerja standar Bang Dasco, tapi alhamdulillah setahun ini saya justru mendapatkan banyak pengalaman dan ilmu baru dari meningkatnya frekwensi berkomunikasi dengan beliau.

Bang Dasco ini militan garis keras Pak PS08 (inisial favorit saya untuk Ketua Umum Partai Gerindra Pak Prabowo Subianto). Saya tak pernah bertanya, tapi yang saya tahu Bang Dasco sudah kenal Pak PS08 sejak tahun 1990-an lalu, sehingga tak mengherankan bagi saya bila masukannya sangat dipercaya Pak PS08 dan kerapkali mendapatkan tugas khusus yang bisa jadi dianggap rumit bagi orang lain. Ini kelebihan lain dari Bang Dasco, yakni mampu menyelesaikan masalah (problem solver) tanpa melukai hati orang lain yang mungkin sedang berseteru. Bahkan akhirnya 'lawan' dapat menjadi sahabatnya.

Makanya saya heran, apabila belakangan ini banyak suara sumbang, nyinyir, dan cenderung kampanye hitam (black propaganda) terhadap figur Bang Dasco. Bahkan berani melontarkan fitnah ke Bang Dasco dengan mengklaim nama beberapa tokoh nasional yang sangat dihormati beliau. Menyedihkan, pathetic istilah baratnya.

Padahal, sejak awal Sekretariat BPN Advokasi Hukum berjalan, Bang Dasco selalu mengajarkan kepada kami untuk bergerak dalam koridor hukum, senantiasa hormat kepada para relawan dan pendukung 02 Prabowo-Sandi, mengutamakan kampanye positif berbasis visi-misi pasangan calon, serta selalu menjaga suasana kebatinan partai koalisi 02 dan pihak kompetitor.

Dalam berbagai peristiwa penangkapan para ulama, relawan 02 dan simpatisan Gerindra, Bang Dasco selalu memerintahkan agar dibantu dan dilakukan upaya advokasi hukum dengan serius, juga tak boleh ada yang neka-neko mengambil keuntungan apapun, karena ini adalah kewajiban bagi kami khususnya para kader Partai Gerindra.

Yang menakjubkan adalah saat Bang Dasco pasang badan untuk Pak PS08 dengan menjadi penjamin ratusan ulama, relawan 02 dan simpatisan Gerindra yang ditangkap dan ditahan, saat banyak yang bersuara nyaring di media sosial tak pernah munculkan batang hidungnya hingga kini ratusan orang kasus insiden Bawaslu 21-22 Mei, yakni sebagian yang belum sempat ditangguhkan, menjadi terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dll. 

Oleh Bang Dasco, rekan-rekan tetap diminta mengadvokasi walaupun BPN sudah dibubarkan. Bahkan dari awal terbentuk, kekuatan BPN Advokasi Hukum masih bergerak sampai sekarang dengan dibiayai dari kocek pribadi Bang Dasco, termasuk sewa Posko Advokasi yang lumayan mahal biayanya di Jalan Cokroaminoto Menteng, agar dekat dengan KPU dan Bawaslu RI.

Kemarin saya sempat kabarkan perkembangan opini di media massa dan media sosial pasca pertemuan MRT Pak PS08 dengan Pak Jokowi, pertemuan Teuku Umar antara Pak PS08 dengan Ibu Megawati Soekarnoputri, kehadiran Pak PS08 ke Kongres V PDI Perjuangan, hingga pro-kontra atas pernyataan penumpang gelap di Pilpres 2019, juga adanya tuduhan miring bahwa Bang Dasco mengincar jabatan menteri. 

Beliau berkata tegas dan dengan gaya guyonan bilang, "Biarinlah Ky, fitnah jadi pahala buat gue. Usaha dan duit gue sudah cukup, belum lagi sibuk urus partai, gak sempet lagi gue jadi menteri. Tawaran jadi menteri sudah ada tapi gue menolak, lu tau nggak jadi menteri diawasi anggota DPR, turun pangkat ah. Yang pasti kita berjuang aja bantu Pak Prabowo."

Itulah Bang Dasco yang saya kenal. Bang Dasco yang selalu patuh pada perintah Pak PS08, berdiri membela kaum ulama, para relawan dan simpatisan, serta senantiasa bekerja tanpa butuh popularitas dan sanjungan. Sebuah pribadi unik yang menjadi salah satu mentor politik terdekat saya, tempat di mana saya masih harus menyerap banyak ilmu dan pengalamannya.

Bagaimana arah perjuangan kebangsaan ke depan? Bagi kami, Gerindra tegak lurus satu komando. Penumpang gelap enyahlah. Mari stop politik kebencian, saling fitnah dan berbagai upaya adu domba yang merugikan bangsa Indonesia. Ayo kita bersama berjuang untuk kejayaan Merah Putih, NKRI dan Pancasila. Demi Indonesia Raya tercinta. 


#Gerindra

Komentar Anda
Komentar