Hello,

Reader

Habib Qadir: Saat Ini Sekat-sekat Kubu Capres Harus Sudah Selesai
Habib Qadir: Saat Ini Sekat-sekat Kubu Capres Harus Sudah Selesai

Jakarta, HanTer - Sayyid Abdul Qadir Thoha Ba'aqil menyarankan pasca rekonsiliasi yang dilakukan Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto maka ulama harus berperan untuk mensejahterakan umat. Oleh karena itu diperlukan rekonsiliasi antar ulama agar semua umat Islam bisa bersatu tanpa harus dibedakan organisasi keagamaan. Sebagai mayoritas sudah saatnya umat Islam berperan kemajuan Indonesia.

"Intinya silaturahim karena hadirnya negara buat umat Islam. Silaturahim akan bisa menyelesaikan segala macam persoalan yang paling berat sekalipun," ujar Sayyid Abdul Qadir Thoha Ba'aqil  di Jakarta, Jumat (16/8/2019).

Habib Qadir, saapan akrab Sayyid Abdul Qadir Thoha Ba'aqil memaparkan, dengan silaturahim antar ulama dan dilanjutkan dengan silaturahmi ulama - negara maka umat akan merasa bahwa negara hadir. Langkah positif tersebut harus digerakan negara atau pemerintah agar hubungan pemerintah dengan rakyat manapun bisa terwujud. Jalinan hubungan tersebut juga tidak hanya terbatas kepada umat Islam saja tapi seluruh rakyat yang ada di Indonesia.

"itu dilakukan agar tidak ada lagi pembatas atau sekat antar kelompok satu dengan kelompok lain," tandasnya.

Habib Qadir menegaskan, untuk mewujudkan silaturahmi umat dan negara maka harus ada perubahan sistem. Sehingga silaturahmi tersebut bisa berkesinambungan dan berlanjut. Sistem tersebut harus dibuat bagaimana menjadikan negara selalu hadir kepada rakyat dan umat Islam di seluruh Indonesia. Oleh karenanya segera hilangkan sekat 01 dan 02. Sekat antar pendukung hanya terjadi saat Pilpres. Ketika Pilpres selesai maka selesai juga sekat-sekat tersebut.

"Sekat - sekat itu saat ini harus sudah selesai," tandasnya.

Habib Qadir mengungkapkan, silaturahmi antar ulama dan berlanjut silaturahmi ulama - negara untuk membicarakan titik temu persamaan.  Bukan membicarakan perbedaan. Karena jika perbedaan yang selalu dipermasalahkan maka akan menjadi masalah yang sangat besar. Tapi jika perbedaan tersebut dicari persamaannya maka otomatis perbedaan tersebut bukan dipandang sebagai masalah. Sehingga perbedaan akan menjadi rahmat bagi Indonesia.

"Semua perbedaan yang ada, saya yakin kalau bisa bertemu akan mengarah kepada satu tujuan yang sama yaitu kemajuan Indonesia. Persamaan itu akan menjadi semangat perjuangan terutama untuk kesejahteraan bagi semua rakyat," tandasnya.

Habib Qadir memprediksi silaturahmi antar ulama dan berlanjut ulama - pemerintah bisa segera terwujud. Apalagi tujuan silaturahmi sangat mulia yakni demi kesejahteraan umat dan seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu dalam silaturahmi antar ulama dan berujung ulama - pemerintah tersebut harus melibatkan semua pihak yang memang mempunyai visi dan misi untuk memajukan Indonesia.

Habib Qadir merupakan tokoh masyarakat asal Kalimantan Selatan yang mencetuskan agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) menemui massa saat beraksi pada tanggal 12 Desember 2016 di Monas, Jakarta. Aksi yang dihadiri 7 juta massa itu dikenal dengan Aksi 212.  Kala itu dihadapan massa, Presiden Jokowi memerintahkan agar kasus penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok diselesaikan secara hukum.

"Negara-negara yang maju, karena pemerintah selalu hadir di tengah  rakyatnya, apapun sistemnya. Sedangkan Indonesia oleh founding father sudah diberikan landasan yaitu, Bhinneka Tunggal Ika. Apapun perbedaan di negara kita masih ada ruang, waktu dan tempat untuk mencari kesamaannya agar selalu bersatu dalam perbedaan,” pungkasnya.


#Politik #presiden #pilpres

Komentar Anda
Komentar