Hello,

Reader

Strategi dan Kebijakan dalam Pengelolaan Wisata Konservasi Orangutan Sumatera di Bukit Lawang 
Wisata Konservasi Orangutan Sumatera di Bukit Lawang 
Strategi dan Kebijakan dalam Pengelolaan Wisata Konservasi Orangutan Sumatera di Bukit Lawang 

Jakarta, HanTer - Kabupaten Langkat dengan wisata konservasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) di Bukit Lawang merupakan salah satu tujuan daerah wisata Provinsi Sumatera Utara. Sayanganya, selama periode tahun 2014-2016 jumlah wisatawan yang datang ke Kabupaten Langkat mengalami penurunan yang cukup signifikan baik yang berasal dari wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. 

Merujuk data Badan Pusat Statistik Kabupaten Langkat jumlah wisatawan domestik tahun 2014 mencapai 40.433 orang menurun menjadi 13.715 tahun 2016. Sedangkan wisatawan mancanegara dari 8.567 orang tahun 2014 turun menjadi 4.855 orang tahun 2016. Jumlah wisatawan yang datang ke Kabupaten Langkat mengalami penurunan dari tahun 2014 sebesar 62%  sampai tahun 2016.  

Wisata konservasi orangutan di Bukit Lawang merupakan konservasi nasional yang berada di kawasan hutan lindung Taman Nasional Gunung Leuseur Kabupaten Langkat, Sumatera Utara dan telah menjadi salah satu obyek alam yang sangat menarik. Konservasi ini memiliki karakteristik khusus yaitu dihuni oleh Orangutan Sumatera (Pongo abelii).

Penurunan kunjungan wisata konservasi Orangutan di Bukit Lawang (WKOB) diakibatkan oleh beberapa hal diantaranya: terjadinya pengaturan keuangan antarapusat dan daerah, sentralisasi menjadi desentralisasi dimana setiap daerah berusaha untuk mencari sumber pendapatan daerah dari wilayahnya (keariftan lokal) sehingga obyek wisata yang memiliki warisan yang tinggi tidak mendapat perhatian yang optimal dari Pemerintah Daerah setempat.  

''Akibatnya lingkungan penyangga tereksploitasi sebagai contoh konversi lahan untuk perkebunan sehingga mengancam keberadaan habitat yang ada di dalamnya, penebangan kayu illegal yang berdampak banjir bandang, penambangan batu kali (galian C) di Sungai Bahorok dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kelestarian sungai yang rendah. WKOB ini adalah wisata minat khusus yang banyak diminati oleh wisatawan mancanegara yang berasal dari seluruh dunia, khususnya Eropa,'' ujar Dr. Susilawati SE MM MA MHan dalam Journal of Natural Resources and Environmental Management, Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan ''Strategi dan Kebijakan dalam Pengelolaan Wisata Konservasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) di Bukit Lawang Kabupaten Langkat Sumatera Utara'' di Jakarta, Kamis. (22/8/2019). 

Susilawati mengatakan, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi kendala kunci dalam pengelolaan wisata konservasi orangutan di Bukit Lawang serta mengetahui strategi alternatif kebijakan yang tepat untuk mengatasi kendala pengelolaan kawasan wisata konservasi orangutan di Bukit Lawang. 

Dalam jurnalnya, Susilawati menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan pertama adanya kendala utama dalam pengelolaan WKOB. Kedua, alternatif strategi kebijakan dalam mengatasi kendala pengelolaan WKOB adalah Pengelolaan wisata terintegrasi dan profesional dengan bobot sebesar 0.419 (41.9%). Artinya alternatif utama yang dilakukan untuk mengelola WKOB adalah dengan cara pengelolaan wisata yang terintegrasi dan dijalankan secara profesional. 

''Alternatif selanjutnya adalah melakukan pembinaan dan  pemberdayaan masyarakat/wisatawan dengan bobot sebesar 0.263 (26.3%), alternatif yang ketiga adalah penyediaan infrastruktur, sarpras dan fasilitas dengan bobot sebesar 0.160 (16%), sedangkan alternatif keempat dan kelima adalah promosi wisata dan penyebaran informasi (0.097) dan pengembangan atraksi dan produk (0.062),'' jelas Susilawati.

Sedangkan untuk kendala utama dalam pengelolaan WKOB, Susilawati menjabarkan empat poin. 
''Belum terintegrasinya retribusi dan tarif masuk, buruknya infrastruktur menuju WKOB, kurangnya sarana dan prasarana serta fasilitas, dan banyaknya pintu masuk,'' katanya. 

Keempat kendala tersebut, lanjutnya, akan mempengaruhi kendala yang lain (terkait sub elemen lainnya yang dikaji). Kendala lainnya kurangnya peran stakeholders terutama Pemerintah Daerah Kabupaten Langkat, kurang tegasnya penegakan peraturan terutama terkait dengan lingkungan dan kebersihan, kurangnya informasi dan promosi wisata, dan masih rendahnya pola pikir dan kesadaran masyarakat akan pentingnya ekowisata dan konservasi. 

''Ancaman kerusakan lingkungan TNGL terutama galian C dan sampah merupakan hal yang tidak bisa dianggap sepele. Apabila tidak dilakukan tindakan tegas terutama Pemerintah Daerah Kabupaten Langkat maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Utara  maka hal ini dapat mengancam kerusakan lingkungan dan ekosistem,'' pungkasnya. 
 


#OrangutanSumatera #BukitLawang 

Komentar Anda
Komentar