Hello,

Reader

Siti Hardiyanti Rukmana: Melanjutkan Membangun Harapan dan Melaksanakan Bakti untuk Indonesia 
Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut) hadir dalam Milad ke 51 Yayasan Harapan Kita dan Milad ke 33 Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan
Siti Hardiyanti Rukmana: Melanjutkan Membangun Harapan dan Melaksanakan Bakti untuk Indonesia 

Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 
Salam sejahtera untuk kita semua, 

Yang saya hormati ……… 
Para tamu undangan dan adik-adik wartawan dari berbagai media....
Serta para hadirin sekalian yang berbahagia.

 

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, atas berkah dan perkenan-Nya yang membuat kita semua bisa bertemu, berkumpul di tempat yang baik ini dalam keadaan sehat wal’afiat. Amiin ya robbal alamiin.

Hadirin, jauh sebelum orang-orang di Indonesia membicarakan antropolog terkemuka Marcell Maus dengan teori ‘The Gift’-nya, seorang ibu rumah tangga yang tak pernah sekali pun  meraih gelar PhD apalagi profesor dalam hidupnya, telah lama percaya akan kekuatan ‘tolong menolong’. Telah lama yakin bahwa “semangat untuk memberi” akan menerangi kehidupan manusia yang menjalani laku tersebut.

Hal yang patut disyukuri, ibu rumah tangga itu sedikit lain dari sekadar ibu-ibu arisan. ‘Si Ibu’ punya sedikit akses untuk membicarakan ide tolong menolong itu menjadi nyata, paling tidak karena ia istri seorang presiden pada masanya. Ibu rumah tangga itu adalah ibu saya tercinta, ibu kita semua, Almarhumah Ibu Tien Soeharto.

Ibu Tien saat itu melihat bahwa bencana seolah telah menjadi bagian dari takdir kehidupan manusia. Bila datang musim kemarau, maka potensi kekeringan segera membesar, membawa peluang terjadinya paceklik yang ujung-ujungnya meluas menjadi bencana kelaparan. Di musim kemarau pula, angin yang kering dengan gampang membawa bara terbang, menyulut kebakaran lahan dan hutan.

Sementara manakala musim penghujan tiba, maka bencana tanah longsor, banjir bandang, banjir yang merendam permukiman menjadi fenomena yang kian biasa. Bila saja di saat kemarau tak ada kekeringan dan waktu penghujan pun banjir tak datang menyerang, letak geografis Indonesia di wilayah cincin api atau ring of fire, masih memungkinkan datangnya bencana lain yakni gunung meletus ataupun gempa bumi.

Jika tidak dihadapi dengan keyakinan iman, seakan dengan gampang orang akan pasrah dan menyatakan bahwa memang manusia hidup ke dunia untuk menderita. Penderitaanlah yang menjadi ujian, apakah manusia bisa lulus dalam keimanannya atau tidak, yang berujung pada kemungkinan di akhirat ia akan menerima pahala atau bala

Padahal tentu saja bukan seperti itu. Sikap pesimistis tidak saja merupakan perangai yang buruk. Dari sisi agama, pesimistis juga bisa dianggap mata air dari dosa.  Dalam Alquran Surat Yusuf 87, dikisahkan Nabi Ya’qub AS berkata kepada putra-putranya, “……dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tidaklah ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.”

Sikap yang benar justru sebagaimana sikap yang ditunjukkan nelayan tua Santiago dalam novel ‘The Old Man and The Sea’-nya Ernest Hemingway. Si Nelayan tua itu bilang, ”Orang bisa saja dihancurkan, tapi orang seharusnya jangan pernah bisa dikalahkan.” Dan bagi Santiago tua, seorang yang hancur sekali pun bukanlah orang yang kalah, manakala ia tak menyatakan diri menyerah.

Jadi manakala Almarhumah Ibu Tien melihat penderitaan akibat sekian banyak bencana yang bisa terjadi dalam kehidupan seakan-akan tak ada habisnya, beliau tidak menyerah. Dalam keterbatasan langkah sebagai seorang ibu rumah tangga, bahkan beliau maju berkiprah. 

Hadirin yang saya hormati, pada hari ini, 51 tahun lalu Almarhumah Ibu Tien mendirikan Yayasan Harapan Kita. Di hari ini pula, 33 tahun lalu, beliau pun mendirikan Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan. Tekad beliau tegas, jangan pernah kita dikalahkan oleh penderitaan tanpa berupaya melawannya sekuat kita bisa.

Dengan modal awal Rp. 100 ribu yang disisihkan Ibu Tien dan Ibu Zaleha Ibnu Sutowo dari kas rumah tangga, mereka menggerakkan Yayasan Harapan Kita. Kini, 51 tahun setelah itu kita bisa menyaksikan sendiri perkembangan yang terjadi. Bukan semata soal yayasan ini telah berhasil membangun sekian banyak rumah sakit, antara lain Rumah Sakit Anak dan Bersalin Harapan Kita, Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, dan sebagainya. Atau hanya karena yayasan telah sukses  membangun berbagai sarana kebudayaan, pendidikan hingga kesehatan seperti Taman Mini Indonesia Indah, Perpustakaan Nasional hingga Taman Anggrek Indonesia Permai. Bukan sekadar itu. Tetapi kita semua menyaksikan, bagaimana Yayasan Harapan Kita pun telah berhasil mengurangi ketergantungan warga Indonesia akan perawatan terbaik di luar negeri. Bagaimana Yayasan Harapan Kita bertekad kuat sebagaimana  keinginan Ibu Tien sebagai pendirinya untuk membela kesehatan rakyatnya. Sejak awal berdirinya, Yayasan Harapan Kita menegaskan bahwa bagi yang ekonominya tidak mampu, meskipun mengalami gangguan jantung, tetap harus diselamatkan dengan mekanisme cross subsidi. 
 
Sementara di sisi Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, kiprah 33 tahunnya di negeri ini dihiasi berbagai pengabdian kepada sesama warga negara yang terkena  bencana. Kami selalu hadir di mana rakyat menderita karena bencana. Tak hanya sekali. Pada bencana yang baru saja terjadi, yakni tsunami di pesisir Banten dan Lampung, akhir tahun 2018 hingga awal 2019 lalu, saya sendiri terlibat sedikitnya dalam dua kali kedatangan. Kami datang tak hanya untuk memberikan apa yang sebatas kemampuan bisa kami berikan. Yang lebih penting daripada itu, kami datang untuk memberikan harapan. Kami datang untuk menegaskan masih kuatnya tali persaudaraan kita sebagai anak bangsa, lebih jauh lagi, sebagai sesama manusia, makhluk Allah yang diikat dengan rahman dan rahim-Nya. 
  
Hadirin yang saya cintai. Selama 33 tahun berkiprah, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan telah menyalurkan bantuan sekitar Rp. 64 miliar. Semua untuk korban bencana, meliputi korban bencana banjir, tanah longsor, banjir bandang, tsunami, gunung meletus dan bencana sejenisnya. Selama itu pula Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan telah menyalurkan bantuan di 1.099 lokasi bencana, pada 899 kejadian bencana di 34 Provinsi di Indonesia. 
 
Semua itu kami lakukan melalui kerja sama luar biasa dengan semua pihak. Semua yang   percaya bahwa kehidupan yang lebih baik, yang lebih sejahtera itu bisa kita raih bersama melalui tolong menolong di antara kita.  
 
Akhirnya, kami atas nama Keluarga Besar Yayasan Harapan Kita dan Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan, menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran Bapak/Ibu tamu undangan. Berbagai sumbangsih kedua Yayasan ini pada gilirannya kita harapkan turut memberi kontribusi bagi kemajuan bangsa dan Negara Indonesia. Amiin ya robbal’alamiin. 
 
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 
 
Jakarta, 23 Agustus 2019 
 
Hj. Siti Hardiyanti Rukmana

 


#SitiHardiyantiRukmana

Komentar Anda
Komentar