Hello,

Reader

Rumah Zakat Hadirkan 28 Desa Tangguh Bencana
Rumah Zakat Hadirkan 28 Desa Tangguh Bencana

Jakarta, HanTer - Rumah Zakat membentuk Desa Tangguh Bencana, yaitu desa yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi ancaman bencana serta memulihkan diri segera dari dampak bencana yang merugikan. Desa Tangguh Bencana dibentuk Rumah Zakat sebagai antisipasi bencana selama 2019 yang lebih dari 2.500 kejadian bencana di seluruh wilayah Indonesia.

Chief Program Officer Rumah Zakat, Murni Alit Baginda mengatakan, saat ini sudah ada 28 Desa Tangguh Bencana yang tersebar di 22 kota di Indonesia. Adapun program yang dilakukan untuk membentuk masyarakat yang tangguh antara lain penyuluhan kebencanaan, simulai siaga bencana, pembuatan jalur evakuasi di desa, membuat media edukasi bencana, dan merekrut pemuda tangguh bencana.

“Dengan terbentuknya Desa Tangguh Bencana diharapkan warga desa terutama yang berada di daerah rawan bencana bisa lebih siap untuk melakukan pencegahan maupun siaga saat bencana terjadi sehingga meminimalisasi dampak kerugian yang terjadi,” kata Murni di Jakarta, Kamis (29/8/2019).

Murni memaparkan, selain melatih warga desa untuk tangguh bencana Rumah Zakat juga menyediakan Superqurban sebagai makanan yang mudah disalurkan saat bencana. Selama Januari hingga Juni 2019 sebanyak 10.558 paket Superqurban tersebar ke wilayah pelosok maupun bencana di Indonesia.

Terkait musim kemarau tahun 2019 yang diprediksi bakal mengakibatkan 48.491.666 jiwa terancam kekeringan di 28 provinsi, Murni memaparkan, untuk menanggulangi hal tersebut melalui Rumah Zakat Action selama periode Mei-Agustus 2019, Rumah Zakat telah mendistribusikan sebanyak 451.000 liter air bersih di 17 titik kekeringan di 7 provinsi di Indonesia. Jumlah tersebut akan terus meningkat pada puncak kemarau yaitu Agustus hingga September.

"Untuk pekan ini Rumah Zakat akan mengirim bantuan air bersih di 30 titik kekeringan di 11 provinsi," tandasnya.

Murni menjelaskan, kekeringan yang terjadi di Indonesia ini berulang setiap tahunnya. Sehingga pemberian air bersih merupakan salah satu bentuk respon jangka pendek untuk mengurangi dampak kekurangan air di masyarakat. Selain itu, ada upaya lain yang dilakukan Rumah Zakat sebagai solusi kekeringan dengan menyediakan logistik dan peralatan, berupa penyediaan tangki air dan pipanisasi serta pembuatan sumur bor.

Sebagai contoh Pembuatan sumur bor yang sudah dilakukan di Desa Angsana, Kecamatan Angsana, Pandeglang, Banten. Selain itu akan menyusul untuk wilayah Cianjur dan Sukabumi, untuk pipanisasi dilakukan di Desa Berdaya Cisolok, Tasikmalaya. Sedangkan tangki air atau Penampungan Air Hujan (PAH) di Kp. Pasir Peuti, Desa Sukamulya, Kec. Sukaluyu, Kab. Cianjur.

"Rumah Zakat juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menanggulangi bencana, baik bencana kekeringan yang melanda saat ini maupun melalui aksi mitigasi dan respon atas bencana  yang terjadi," paparnya.

Sementara itu Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dr Ir Dodo Widodo , DEA memgatakan, musim hujan yang terjadi pada tahun 2019 agak terlambat. Oleh karena itu akhir musim kemarau atau awal dari musim hujan akan terjadi pada bulan November-Desember 2019. Namun saat ini sudah ada beberapa wilayah di Indonesia yang mengalami hujan.

"Kita memperkirakan musim hujannya yang akan datangnya terjadi di November - Desember. Hujan akan terjadi di bagian selatan Pulau Jawa dan Sumatera. Sebagainya Kalimantan juga sudah terjadi hujan," paparnya.


#Rumahzakat

Komentar Anda
Komentar