Hello,

Reader

Ramal Rezim Jokowi Jatuh, Pengamat: Amien Rais Belum Move On
Politisi senior PAN, Amien Rais
Ramal Rezim Jokowi Jatuh, Pengamat: Amien Rais Belum Move On

Jakarta, HanTer—Ramalan politikus senior Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais rezim Presiden Joko Widodo (Jokowi) bakal jatuh dari posisinya sebagai Presiden RI dalam waktu singkat, tidak dibenarkan pengamat politik dari Universitas Bunda Mulia (UBM) Silvanus Alvin. Menurutnya, Jokowi akan menyelesaikan tugasnya sampai 2024.

"Ramalan Amien Rais bisa dianggap tidak benar dan hanya emosi sesaat terhadap pemerintahan saat ini yang dipimpin Jokowi. Tampaknya ia masih belum bisa move on dari Pemilu, bukan hanya pemilu kemarin tapi belum bisa move on dari pemilu 2014," ujar Silvanus di Jakarta, Rabu (4/9/2019).

Silvanus memaparkan, kepemimpinan seorang Presiden itu akan bertahan bila wewenang atau kekuasaan formalnya ditunjang dengan legitimiasi atau kepercayaan rakyat. Sementata pernyataan Amien Rais tersebut tidak mencerminkan suara 260 juta rakyat. Oleh karena itu ramalan Amien Rais tidak beralasan sama sekali terhadap pemerintahan saat ini.

"Sebagai seorang sepuh, sebaiknya narasi politik yang diucapkan dari mulut Amien tidak menciptakan kegaduhan politik," tandasnya.

Daripada mendoakan yang tidak baik, sambung Silvanus, lazimnya Amien Rais membantu pemerintah untuk mendamaikan akar masalah di Papua sehingga tidak ada lagi insiden serupa yang terulang di masa depan. Saat ini sudah waktunya Indonesia tetap kokoh dan solid sebagai NKRI yang terbentang dari Sabang hingga Merauke.

"Kalau ekonomi sulit itu kan memang semua negara menghadapi masalah ini. Negara dengan tingkat perkembangan ekonomi yang tinggi pun tidak lepas dari persoalan pengangguran," jelasnya.

Seperti diwartakan, mantan Ketua MPR Amien Rais meramal Preiden Jokowi bakal jatuh dari jabatannya karena salah mengurus Negara. "Saya tidak tahu, rezim ini apa bisa bertahan. Saya akan meramal enteng-entengan. Sebuah rezim kalau sampai ke titik jenuh, saturation point, ajal, pasti juga akan ajal. Sepertinya loh, sepertinya ini, tidak begitu lama lagi. Kecuali kalau cepat berbenah diri," kata Amien dalam seminar 'Menyoal Rencana Pemindahan Ibu Kota' di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Rakyat Kecewa

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar, Jakarta, Ujang Komarudin mengatakan, Jokowi jatuh dari Presiden sangat tergantung dari benar atau tidaknya Jokowi dalam memimpin pemerintah ke depan. Jika masyarakat kecewa maka bisa saja terjadi Jokowi bakal jatuh dari RI 1. Namun jika masyarakatnya senang maka Jokowi tidak akan tumbang hingga 2024 mendatang.

"Kuncinya ada pada rakyat. Kecewa atau tidak (rakyat terhadap Jokowi)," ujar Ujang Komarudin kepada Harian Terbit, Rabu (4/9/2019).

Ujang memaparkan, kekecewaan rakyat yang bisa menjatuhkan rezim adalah soal ekonomi atau urusan perut. Jika ekonominya hancur itu menjadi salah satu tanda kejatuhan rezim.

Menurut  Ujang, ada beberapa hal agar Jokowi tetap bisa mensejahterakan rakyat. Di antaranya menggunakan APBN untuk kepentingan rakyat. Selain itu layani saja rakyat dengan baik. Sehingga Jokowi akan dikenang sebagai pemimpin yang benar - benar melayani rakyat. "Selama ini Jokowi sudah dilakukan itu. Tapi memang belum maksimal. Masih banyak kebocoran terjadi," paparnya.

Wakil Ketua Fraksi Golkar Meutya Hafid mengatakan, kepemimpinan Jokowi harusnya dinilai langsung oleh rakyat bukan elit parpol. Oleh karena itu biarkan saja rakyat yang menilai Jokowi. "Biarkan rakyat yang menilai, jangan elit," ujarnya.

Meutya menyebut, kita baru saja menggelar pemilu dan rakyat masih menghendaki Pak Jokowi untuk memimpin. "Pak Amien dalam pernyataannya juga mendoakan agar pemerintahan Pak Jokowi dapat berjalan baik, saya rasa doa tersebut baik. Saya yakin niatan Pak Amin terhadap bangsa tidak sekejam secuplik ucapannya, tapi harus dilihat utuh yaitu beliau mendoakan," tuturnya.

Bisa jatuh

Sementara itu, pengamat politik dari Institute for Strategic and Development (ISDS) Aminudin mengatakan, sampai saat ini Jokowi memang masih bertahan sebagai Presiden dan secara formil sudah terpilih lagi sebagai Presiden hasil Pilpres 2019. Tapi yang diraih Jokowi hanya produk demokrasi prosedural. Karena realitasnya secara subtansial Jokowi sudah habis sejak tahun ketiga dia memimpin Indonesia.

Aminudin memaparkan, Jokowi bisa saja jatuh sebelum jabatannya berakhir. Karena sudah banyak rezim hasil pemilu yang juga jatuh. Contohnya, Ferdinand Marcos di Philipina. Jatuhnya rezim juga terjadi di Brazilia dan Korsel serta negara lainnya. Apalagi saat ini banyak juga rakyat yang gelisah atas kemimpinan Jokowi kali keduanya ini.

"Kalau lihat kegelisahan rakyat habis Pilpres 2019 ini akibat kebijakan Jokowi yang makin merugikan kepentingan rakyat bawah dan kepentingan nasional," jelasnya.

Menurutnya, gejolak politik dan ekonomi keketidakpuasan rakyat pada rezim Jokowi semakin besar dan meluas. Kalaupun Jokowi bisa bertahan kekuasaannya maka akan banyak memakan tumbal rakyat dan aparatnya sendiri seperti kasus Papua yang terjadi saat ini. Namun jika pun tumbang maka akan juga membawa korban jiwa dan harta yang sangat besar.

"Karena Jokowi tidak punya jiwa kenegarawan sama sekali. Sementara oposisi makin loyo dan kurang bisa mengkonsolilidasikan kekuatan perubahan di tingkat elite," paparnya.

Ketua Presidium Perhimpunan Masyarakat Madani (PRIMA), Sya'roni mengatakan, setiap orang berhak memprediksi masa depan pemerintahan ini. Termasuk Amien Rais juga berhak. Prediksi Amien Rais yang menyatakan pemerintahan ini akan jatuh pasti didasari peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi.

"Teraktual adalah aksi demonstrasi di Papua," ujar Sya'roni kepada Harian Terbit, Kamis (5/9/2019).

Sya'roni pun meminta kritik dan prediksi Amien Rais, jangan ditanggapi secara emosional. Bilamana Jokowi merasa kritik atau prediksi tersebut tidak benar, Jokowi bisa menunjukkan dengan tindakan pemerintah lebih efektif dalam menghadapi segala permasalahan bangsa.


#AmienRais

Komentar Anda
Komentar