Hello,

Reader

Perang Dagang AS-China, Indonesia Terancam
Perang Dagang AS-China, Indonesia Terancam

Jakarta, HanTer - Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie mengatakan, dampak trade war  (perang dagang) Amerika dangan China akan berpengaruh bagi negara berkembang. Apalagi saat ini AS lewat Presiden Donald Trump memberlakukan pajak masuk barang-barang China sebesar 30 persen. Oleh karenanya saat ini AS menggandeng Jepang dan Australia menjadi partner bussines-nya. 

Jerry menjelaskan, saat ini persaingan dagang di AS semakin kuat. Sementara Indonesia lemah khususnya di lobi bisnis. Karena Menteri Perdagangan kurang peka dan tidak optimal sejak menjabat. Oleh karena itu perkuat dahulu diinternal Kementerian Perdangangan dan bersihkan dari para kartel serta mafia ekspor impor yang terlibat di dalamnya jika ingin memasarkan produk di Amerika.

"Lihat saja neraca perdagangan kita mengalami penurunan yang tajam yaitu dari January sampai Juli 2019 tercatat defisit US$1,93 miliar. Bahkan BPS mencatat defisit 63,5 juta dollar AS. Ini menjadi catatan buruk dalam sejarah perdagangan kita. Pada April 2019 saja mengalami defisit sebesar US$ 2,5 miliar atau setara Rp36 triliun," tandasnya.

Jerry menyebut, akibat perang dagang tercatat ada lebih dari 100 produk asal Indonesia sebagai komoditas ekspor ke Amerika Serikat yang terancam. Di beberapa negara bagian Amerika produk Indonesia seperti mie instan masih kalah dengan mie buatan Korea, Vietnam dan China

"Perkuat kualitas barang kita, jalin komunikasi dengan AS serta diplomasi ekonomi harus jalan baik. Paling utama meyakinkan branding and market product list yang akan di ekspor kita cukup baik," jelasnya.

Jerry mengakui, ada keuntungan bagi negara lain dengan perang dagang China-AS. Tapi bagi Indonesia agak sulit karena harus bersaing dengan Mexico, Honduras, India, Pakistan, Mesir, UEA dan negara lain.

Sementara itu, pengamat kebijakan publik dari Institute for Strategic and Development (ISDS) Aminudin mengatakan, saat ini industri nasional banyak yang kritis. Hanya industri terkait percetakan atau kertas yang sempat tumbuh karena terbantu dengan pesta demokrasi. 

"Tapi lainnya makin merosot. Perekonomian Indonesia semakin jauh meninggalkan sektor industri pengolahan (manufaktur). Karena pertumbuhan ekonomi di sektor manufaktur pada kuartal II-2019 hanya sebesar 3,54% secara tahunan (year-on-year/YoY), berdasarkan data BPS," jelasnya.

Lebih lanjut Aminudin mengatakan, berbagai industri manufaktur lainnya mengalami perlambatan, bahkan sebagian berbalik arah terkontraksi.
Salah satu yang paling mencolok adalah industri karet dan barang dari plastik. Industri ini mengalami kontraksi sebesar -7,22% YoY dikuartal II-2019. Padahal tahun sebelumnya bisa tumbuh sebesar 11,85%. BPS menyebut  hal tersebut terjadi karena adanya penurunan permintaan baik dari dalam maupun luar negeri.

"Jadi tak banyak yang bisa dimanfaatkan Indonesia di pasar Amerika karena makin banyak industri nasional yang remuk.  Justru yang kemungkinan memanfaatkan ya RRC. Perusahaan RRC yang beroperasi di Indonesia juga banyak diberi insentif pembebasan dan keringanan pajak. Jadi labelnya made Indonesia tapi dalamnya made in China," pungkasnya.


#Perangdagang #as #china

Komentar Anda
Komentar