Hello,

Reader

 Indro Tjahyono Dikecam dan Disebut Oportunis
Mantan aktivis ITB Indro S Tjahyono
Indro Tjahyono Dikecam dan Disebut Oportunis

Jakarta, Hanter - Mantan aktivis ITB Indro S Tjahyono dikecam dan disebut para analis dan aktivis pergerakan telah memojokkan, menyudutkan dan menstigmatisasi gerakan mahasiswa Angkatan 2019 yang sempat ricuh. 

Para analis dan aktivis tersebut menyebut pandangan Indro tersebut terkesan bias, sepihak, myopik, oportunis, menyesatkan dan menstigmatisasi gerakan mahasiswa milineal yang memprotes ‘’Reformasi yang Dikorupsi’’. 

''Sedih kita karena Pak Indro Tjahyono malah memojokkan Gerakan mahasiswa 2019 yang melawan korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), dimana ribuan mahasiswa yang resah, menyampaikan desakan dan tuntutan yang obyektif, rasional dan bermoral-etis demi keselamatan bangsa dan negara yang sudah menyimpang dari Konstitusi 1945 dan Pancasila karena rezim sekarang sangat kapitalis liberal, dikuasi oligarki dan pemodal,’’ kata  pengamat sosial M. Ridwan mantan aktivis HMI.

Sementara peneliti LSM  yang juga jebolan Fisip UI, Darmawan dan  peneliti M Nabil dari CSRC UIN Jakarta menilai, kalau ada aktivis senior yang memojokkan atau sinisme terhadap gerakan mahasiswa 2019, jelas itu  tak etis, terkesan bias, oportunis dan menyesatkan serta patut disesalkan, sebab para mahasiswa sudah jatuh korban tewas dan luka-luka, malah dituduh ditunggangi segala. 

‘’Padahal aksi mahasiswa itu organik, bermoral-etis dan damai. Mahasiswa menolak KPK dilemahkan, menolak RUU KUHP, RUU lahan, Sumber Daya Alam dan lainnya yang merugikan/merusak  kohesitas bangsa dan negara serta masa depan NKRI,’’ ujar Darmawan dan Nabil.

ProJokowi

Sebagaimana diketahui Indro Tjahyono mengungkapkan: “Kalau ProJokowi yang ikut bikin kerusuhan pasti bukan. Jokowi mencegah relawan untuk ikut melakukan counter action. Apa yang dilakukan Jokowi adalah menghadapi kerusuhan secara formal, yakni melalui aparat kepolisian. Polisi dilarang membawa senjata api, kecuali alat pengendali massa,” kata Indro Tjahyono, mantan ketua Dewan Mahasiswa ITB ini.

Menurut Indro, hal ini dilakukan karena polisi tahu strategi mereka adalah menginginkan adanya korban (martir) untuk mengeskalasi gerakan. Walaupun kecolongan di Kendari, karena aparat non operasional (intel kepolisian) yang menembak 2 orang mahasiswa hingga tewas. Namun ternyata meninggalnya 2 mahasiswa ini ternyata tidak mengakibatkan eskalasi gerakan.

Semua kerusuhan ini, kata Indro,  ditujukan untuk menggagalkan pelantikan Jokowi pada tanggal 20 Oktober 2019. Tetapi selain itu ditunggangi oleh beberapa kepentingan. Pertama, posisi tawar untuk jabatan menteri (dari 02 dan pejabat aparat keamanan/pertahanan Jokowi); kedua, menekan Jokowi sekaligus pamer kekuatan untuk kepentingan pilpres/pemilu 2024.

“Kami khawatir, pandangan Pak Indro Tjahyono itu  keliru dan misleading serta merusak reputasi dan kredibiltas Pak Indro sendiri. Saya berharap dia mawas diri dan introspeksi,’’ kata Bennie Akbar Fatah yang juga aktor senior Gerakan 1998.


#DemoMahasiswa #RKUHP #RevisiUUKPK #IndroTjahyono

Komentar Anda
Komentar