Hello,

Reader

Pengamat: Jokowi dan Ma’ruf Amin Jadi Target Teror
Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Jokowi-Maruf
Pengamat: Jokowi dan Ma’ruf Amin Jadi Target Teror

Jakarta, HanTer— Pengamat intelijen Stanislaus Riyanta mengatakan, pasca penusukan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), bisa jadi Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi sasaran berikutnya oleh para pelaku teror.

Apalagi, lanjut Stanislaus, target kelompok radikalisme dan terorisme bukan perorangan juga para petinggi di negeri ini tak terkecuali Presiden Joko Widodo dan siapapun yang mereka anggap tidak sepaham dan sealiran dengan mereka.

"Target teroris berikutnya jelas pemerintah atau penyelenggara negara ini, terutama pengambil keputusan yang terkait dengan larangan eksistensi kelompok radikal. Oleh karena itu jika kelompok teroris ada kesempatan untuk menyerang maka serangan terhadap Presiden Jokowi juga akan dilakukan,” kata Stanislaus kepada Harian Terbit, Jumat (11/10/2019).

Menurutnya, pada kasus yang sudah lampau ada anggota JAD yang membawa bom panci ke arah Istana. Aksi yang gagal ini menjawab apakah Presiden juga menjadi target kelompok teroris.

Namun, sambung Stanislaus, karena pengamanan Presiden yang berlapis-lapis maka akhirnya yang membuat Presiden bukan target utama teroris karena secara teknis akan sulit menjangkaunya. Sebagai antisipasi ke depannya perketat pengamanan untuk pejabat negara yang berpotensi menjadi target teroris.

Ma’ruf Amin

Sementara itu, pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto menegaskan, jika melihat pelaku teror sudah berani mentarget Menkopolhukam , itu artinya pelaku teror bisa juga akan menaikan target berikutnya. Jika sebelumnya target teroris adalah anggota kepolisian, maka saat ini targetnya adalah VVIP pejabat teras negara termasuk di antaranya Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Saya mengkhawatirkan pengamanan Kyai Ma'ruf Amin, Wakil Presiden akan menjadi target berikutnya," ujarnya.

Bambang menilai, potensi ancaman teror yang mengarah ke arah KH Maruf Amin jelas ada. Karena penyelenggara negara siapapun mempunyai potensi untuk menjadi sasaran berikutnya.

Dia mengemukakan, motifnyapun juga bisa berkembang, bukan persoalan ideologi saja, tetapi bisa juga menyisir ke politik, ekonomi dan sebagainya. Apalagi saat ini ancaman extra ordinary crime semakin besardan bukan persoalan terorisme saja.

"Kasus Novel Baswedan misalnya, itu juga salah satu kasus teror pada aparatur negara yang belum terpecahkan. Pada intinya kejahatan itu akan menyerang pada titik-titik terlemah. Makanya dalam konsep crime prevention harus menutup titik-titik lemah kesempatan untuk terjadinya kejahatan," tandasnya.

VVIP Berlapis

Pengamat Terorisme dan Intelijen dari Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya mengatakan, Jokowi tidak akan bisa menjadi target teroris karena Protap pengamanan VVIP telah berlapis. Jika ada teroris maka paling dekat berada di ring yang paling luar. Apalagi "Teroris" di Indonesia masih terbilang unyu-unyu.

Terpisah, Komandan Paspampres Mayor Jenderal TNI Maruli Simanjuntak di Jakarta, Kamis (10/10), mengatakan, pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) menyatakan pengamanan VVIP kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) selalu dalam status high risk atau berisiko tinggi.

"Kita standar sudah high risk. Kalau kita nggak tahu kondisinya bagaimana, harusnya bisa diantisipasi," kata Komandan Paspampres Mayor Jenderal TNI Maruli Simanjuntak dihubungi di Jakarta, Kamis (10/10), dilansir Republika.co.id.

Terkait insiden penusukan kepada Menko Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto, Maruli menanggapi timnya selalu siaga melalui prosedur operasi standar. Dia menjelaskan saat pejabat VVIP turun dari kendaraan, kondisi keamanan dipastikan aman.

Diperketat

Pengamat dari Political and Public Policy Studies (P3S) Jerry Massie berpendapat penjagaan kepada Kepala Negara patut diperketat lagi menyusul ditusuknya Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto saat kunjungan ke Pandeglang, Banten, Kamis (10/10).

"Dengan peristiwa ini, saya sarankan agar pengamanan pejabat negara lebih diperketat. Sebelum presiden berkunjung ke daerah maka lapangan harus steril, kalau perlu tak perlu harus berjabat tangan dengan semua warga," kata Jerry, di Jakarta, Jumat.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies ini mengemukakan, target kelompok ini memang para petinggi di negeri ini tak terkecuali Presiden RI. Selama ini untuk SOP Security pengamanan baik pejabat tinggi kita paling lemah.

Di negara maju saja seperti Amerika Serikat (AS), Prancis, Jerman dan sebagainya pengamanan super ketat saat presiden mereka turun ke negara bagian dan provinsi.


#Jokowi-Maruf #teroris

Komentar Anda
Komentar