Hello,

Reader

Fakta Menyedihkan Perekonomian di Bawah Kepemimpinan Sri Mulyani
Gede Sandra
Fakta Menyedihkan Perekonomian di Bawah Kepemimpinan Sri Mulyani

Gede Sandra, Pergerakan Kedaulatan Rakyat

Sudah cukup kiranya ekonom sekolahan, elit, yang memiliki pemikiran ekonomi jadulneoklasik diberikan kesempatan memimpin di pemerintahan Indonesia. Mereka-mereka ini, generasi keturunan Mafia Berkeley (atau disebut juga partai FEUI) sudah terlalu lama di pemerintahan –sejak Orde Baru, Megawati, SBY, hingga 3 tahun terakhir Jokowi periode I- sementara tidak ada prestasi yang signifikan dari perekonomian Indonesia selama mereka menjabat.

Sebut saja: Sri Mulyani dan Chatib Basri (Chatib dipandang hanya bisa memaparkan daftar panjang persoalan ekonomi, tapi tanpa ada solusi yang out of the box), Pada saat krisis menerjang di tahun 1997, para ekonom dari genk Mafia Berkeley ini malah mempercayai IMF yang akhirnya malah menjerumuskan Indonesia dalam jurang krisis yang terparah (pertumbuhan ekonomi -13%) sepanjang usia Republik.

Berikut ini akan coba diulas fakta menyedihkan perekonomian kita –yang tentu tidak perlu diteruskan- di bawah kepemimpinan Sri Mulyani: 

1.    Pertumbuhan ekonomi kita  (5%) adalah peringkat ke-33 di Dunia, seumur Republik belum pernah mengalami pertumbuhan double dijit (>10%).  
2.    Pendapatan perkapita kita (USD 3.900), masuk kategori menengah-rendah adalah peringkat ke114 di Dunia. Bila pertumbuhan ekonomi kita terus di kisaran 5% bahkan kurang, hingga tahun 2045 -100 tahun Indonesia merdeka- kita terancam belum masuk jua di kategori negara maju (pendapatan perkapita > USD 12.000).  
3.    Rasio pajak kita (9%-10%) termasuk yang terendah di kawasan Asia dan Afrika.  
4.    Deindustrialisasi terus mengalami percepatan, industri nasional yang vital seperti industri baja terus mengalami bleeding- zona industry unggulan seperti Batam jatuh pertumbuhan ekonominya hingga 2%.  
5.    Stabilitas sistem keuangan cukup rentan karena defisit transaksi berjalan yang sangat besar (USD -8,4 miliar) ditambah lebih 50% surat utang pemerintah dipegang asing.  
6.    Pengurangan angka kemiskinan era pemerintahan saat ini adalah yang paling lambat (paling cepat adalah di era Gus Dur), meskipun kebetulan saaat ini berhasil menembus di bawah 10%.  
7.    Gini ratio saat ini (0,38) bukanlah yang terbaik, Indonesia pernah memiliki angka gini ratio yang sangat rendah (0,31) nyaris seperti negara-negara welfare state (Gini ratio 0,20-0,30) pada era pemerintahan Gus Dur.  
8.    Pengelolaan APBN kita masih mengadopsi metode yang sudah terbukti gagal di banyak negara sejak belasan tahun lalu, yaitu masih menggunakan metode austerity policy (pengetatan anggaran), sehingga manahan laju pertumbuhan ekonomi dan laju pengurangan kemiskinan. Bukan tidak mungkin penggunaan metode austerity policy yang terlalu eksesif malah menimbulkan perlawanan rakyat sehingga mengarah pada krisis politik.  
9.    Tapi pada saat yang sama, kita seperti tidak masalah saat 30-an persen APBN kita habis digunakan untuk membayar kewajiban utang (pokok dan bunga, total sebesar Rp 680-an triliun).  
10.    Tingginya beban bunga utang diakibatkan kebijakan pemberian kupon/bunga surat utang yang terlalu tinggi, sekitar 2-3% lebih tinggi dari negara-negara yang credit rating-nya di bawah Indonesia. Padahal bila kita berhasil negosiasi bunga surat utang yang diterbitkan di era Jokowi periode I, diturunkan saja bunga 1,5%, setiap tahun kita bisa menghemat anggaran sekitar Rp 29 triliun yang bisa digunakan menambal defisit BPJS kesehatan.  
11.    Dan kado penutup yang pahit adalah turunnya indeks daya saing Indonesia –yang dibuat oleh World Economic Forum- di saat seluruh negara tetangga naik. 

Bila katanya “sudah tidak ada beban”, maka jangan ekonom yang kebijakannya membebani perekonomian masih terus dipertahankan. Pemerintah Indonesia di bawah Jokowi Jilid ke-II ke depan sebaiknya memberikan kesempatan bagi ekonom-ekonom lapangan, kerakyatan, yang memiliki pemikiran ekonomi alternatif untuk menjadi nahkoda perekonomian bangsa ke depan.

Jokowinomics Jilid II

Akan lebih bagus bila ekonom tersebut juga memiliki pengalaman dalam mengangkat perekonomian Indonesia dari kondisi krisis di masa lalu dengan cara-cara yang out of the box. Keahlian tersebut sangat diperlukan, terlebih Indonesia saat ini juga sedang dalam kondisi waspada menghadapi ancaman resesi Dunia di awal tahun 2020.


#Ekonomi #srimulyani

Komentar Anda
Komentar