Hello,

Reader

Suhu Panas Melanda, Masyarakat Diimbau Perbanyak Minum
ilustrasi. (Ist)
Suhu Panas Melanda, Masyarakat Diimbau Perbanyak Minum

Jakarta, HanTer - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena suhu panas ekstrem akan terjadi hingga sepekan ke depan di sebagian besar wilayah di Indonesia.

Kementerian Kesehatan memperingatkan guna mencegah dampak kesehatan akibat suhu panas tersebut, masyarakat diimbau untuk perbanyak minum atau konsumsi air putih guna menjaga suhu tubuh.

"Komponen paling penting dalam menjaga suhu tubuh adalah air," kata Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Achmad Yurianto di Jakarta, Jumat (25/10/2019).

Ia menjelaskan, secara fisiologis tubuh didesain dengan suhu yang tetap karena metabolisme tubuh akan bekerja pada suhu yang tetap di kisaran 37 derajat Celsius. Dalam kondisi apapun, tubuh akan berusaha mempertahankan suhu tubuh di kisaran tersebut dan komponen paling penting untuk menjaga daya tahan tubuh adalah air.

Air pada tubuh orang dewasa, katanya, berjumlah sekitar 70 persen dari berat massa tubuh. Sementara itu, pada tubuh anak-anak, persentasenya lebih kecil. "Darah kita, sel kita, otak kita, semuanya isinya air," katanya.

Demam Berdarah
Lebih lanjut dikatakan, pada kondisi tertentu dan pada kelembapan tertentu serta suhu tertentu, populasi nyamuk juga meningkat dengan cepat. Jika nyamuk tersebut merupakan vektor penyakit, maka ia memperkirakan pada periode suhu panas ini akan ada peningkatan kasus demam berdarah, cikungunya, malaria dan lain sebagainya, meski jumlahnya tidak signifikan. "Kecuali jika (angka kasus) dua kali lipat dari kondisi sebelumnya, baru disebut kejadian luar biasa (KLB)," katanya.

Selain adanya potensi peningkatan kasus demam berdarah, suhu panas yang disertai angin kencang saat kering juga akan menyebabkan partikel debu tetap bertahan. Hal tersebut akan cukup signifikan meningkatkan kasus gangguan pernapasan, dari yang sederhana diawali dengan alergi yang kemudian dapat memunculkan influensa like illness (ILI) hingga infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) jika disertai dengan alergi.

"Angka-angka ini naik semuanya. Terlebih jika ada perilaku yang memanfaatkan panas terik dengan membakar gambut sehingga menyebabkan kabut asap," ujarnya.

Hampir Merata
Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG Miming Saepudin menuturkan fenomena suhu panas yang kini terjadi karena beberapa faktor, antara lain karena titik kulminasi matahari yang masih berada di wilayah Jawa ke daerah selatan dan kondisi cuaca cerah di wilayah Indonesia yang saat ini masih mendominasi. "Kondisi (suhu) saat ini memang masih kisaran 39 hingga 39,6 derajat Celsius," katanya.

Suhu panas hingga 39,6 derajat Celsius pada 24 Oktober terjadi di daerah Ciputat, Jakarta Selatan. Sementara itu, suhu panas 38 derajat Celsius terjadi di daerah Jatiwangi, Jawa BaratBanjarmasin, daerah Pantura, Semarang hingga Surabaya. "Potensi suhu panas ini masih meliputi wilayah-wilayah di Selatan ekuator," ungkapnya.

Ia menyebutkan Wilayah Sumatera dan Jawa secara keseluruhan masih pada kondisi cerah, yang mengindikasikan potensi cuaca terik di siang hari. Kulminasi suhu panas tersebut terjadi karena beberapa faktor, antara lain karena titik kulminasi matahari yang masih berada di wilayah Jawa ke daerah Selatan dan kondisi cuaca cerah di wilayah Indonesia yang saat ini masih mendominasi.

Cuaca cerah tersebut terjadi karena karena ada fenomena anomali suhu dingin di wilayah perairan Indonesia yang menyebabkan pertumbuhan awan hujan sangat sulit terbentuk di Wilayah Sumatera, Jawa dan sekitarnya.


#Kemenkes #BMKG #suhu

Komentar Anda
Komentar