Hello,

Reader

ALLAH YANG MAKIN TERABAIKAN DI KA’BAH
ALLAH YANG MAKIN TERABAIKAN DI KA’BAH

Judul: Ketika Allah Cemburu Ka’bah
Penulis: Helmi Hidayat
Halaman: xxxiv– 250
ISBN: 978-623-00-0530
Penerbit: HAJA Mandiri

Di muka bumi ini, Ka’bah demikian dicinta dan dirindu. Malaikat pun pernah cemburu karena Allah menurunkan Nabi Adam beserta Ka’bah sebagai titik pusar yang menghubungkan poros langit di bumi. Kecemburuan itu disampaikan dalam bentuk kekhawatiran manusia akan berbuat onar di bumi, namun kandas karena Allah ‘keukeuh’ dengan keputusan Nya. Malaikat yang menyesal bersikap tidak sopan tersebut kemudian diperintah membangun Ka’bah pertama di Baitul Makmur untuk bertobat. Tidak kurang setiap hari 70 ribu Malaikat berthawaf. Di bumi kemudian dibangun Ka’bah untuk umat manusia, yang diputari sejak pertama penciptaan hingga hari ini. Sekarang  Allah yang cemburu?

Sejak ribuan tahun lalu, sudah miliaran umat manusia dari generasi ke generasi menjadikan Ka’bah sebagai kekasih. Tidak sedikit pula yang berupaya senantiasa bertemu dengan Ka’bah hinggga berhaji dan berumrah berkali-kali. Tidak ada lain di dunia ini yang demikian dicari, terus didatangi dan dihormati melebihi Ka’bah. Keadaan ini terus belangsung hingga datanglah suatu masa ketika manusia mulai alpa. Mereka memburu Ka’bah, ingin mencium hajar aswad di salah satu sudutnya, berusaha memeluk dan menempelkan dada di multazamnya. Apapun dilakukan dan berapa pun dibayar demi mendapatkan kesempatan yang semakin sulit diwujudkan.

Pada musim haji orang-orang seperti kalap kesetanan untuk mendapatkan kesempatan itu. Ribuan manusia berdesakan untuk mencium sebuah batu hitam yang disebut-sebut dari surga. Ribuan yang menginginkan, hanya satu kepala yang mendapat kesempatan memasukkan penciuman. Betapa mengerikan perebutan di rumah Allah itu. Mereka berdesakan hebat, saling sikut, saling lempar dan menyingkirkan dengan penuh tenaga kuat-kuat. Seolah itulah yang harus didapat dalam menunaikan ibadah haji.

Sesungguhnya apakah yang dicari? Siapakah yang dituju? Mereka berangkat dari berbagai penjuru dunia untuk memenuhi panggilan, menyempurnakan rukun Islam. Para haji ke tanah suci adalah untuk menghadap Sang Pemilik rumah, bukan mencari rumah. Jika kita ke masjid, yang kita datangi adalah Allah, bukan ruang megahnya. Jika kita ke istana atau keraton, yang kita datangi adalah rajanya, bukan singgahsananya. Jika kita sowan ke ‘ndalem’ di pesantren, yang kita tuju adalah kiainya, bukan kediamannya. Demikian juga, ke Mekkah bukan memburu Ka’bah tetapi Allah Sang Pemiliknya.

Fenomena makin kuatnya Jemaah haji Indonesia dalam memburu hajar aswad di Ka’bah itu tercium oleh seorang petugas pembimbing Jemaah haji kita. Dengan alasan mencium hajar aswad adalah keinginan semua Jemaah haji dan umrah karena mereka ingin seperti Rasulullah SAW, perburuan mencium batu menjadi hasrat banyak jemaah. Oleh karena peminat tidak sebanding dengan kesempatan yang tersedia, lalu muncul ‘bisnis’ mencium hajar aswad. Dengan cepat ia menelusuri bisnis ibadah di rumah Allah tersebut. Ternyata, sejumlah ‘bodyguard’ menawarkan jasa pengawalan untuk mereka yang tergila-gila ingin mencium hajar aswad dengan biaya 100-250 Riyal Saudi (SR), bahkan ada yang memasang tarif 500 SR untuk pasangan.  Para pengawal yang juga orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Saudi itu bekerja secara tim mengawal pembayarnya.

Apa yang terjadi? Dalam kondisi banyak orang seperti kesurupan dalam mendekati titik kecil itu, ia membelah lautan manusia yang sedang dalam keadaan sangat padat. Kepadatan yang dibelah itu menimbulkan benturan kuat dari kanan kiri dan depan. Massa seperti dalam amuk berjamaah. Mengerikan. Sedemikian kerasnya mereka dalam memburu bagian dari Ka’bah. Apakah mereka juga memburu Allah dengan kekuatan penuh seperti itu? Total dalam taqwa dan tawakkal? Jika tidak, pantas saja Allah cemburu. Sebab, mencium hajar aswad adalah amalah sunnah, sementara bertaqwa kepada Allah adalah kewajiban setiap muslim. 

Dalam literatur agama, Allah memang tidak mau diduakan, apalagi diabaikan. Kedatangan para haji ke Ka’bah seharusnya untuk mendekatkan diri dalam taqwa, bukan berlomba meraih yang lainnya. Nabi memang mencium hajar aswad, juga mengusap saja dan melambaikan tangan dari kejauhan, tetapi mengapa banyak jemaah haji terpaku dengan amaliah sunnah mencium batu hitam itu hingga melakukan berbagai cara yang tidak dianjurkan? Seperti dipicu semangat hara-kiri, berjibaku menyingkirkan yang lain demi mencium sebuah batu, padahal seharusnya mengutamakan meraih ridla ilahi.

Kisah hikmah tersebut adalah salah satu temuan petugas pembimbing haji Helmi Hidayat yang ditulis di media sosial. Oleh karena sambutannya demikian luas dan positif, kemudian dibukukan atas usul Menteri Agama RI H Lukman Saifuddin Zuhri agar kemanfaataanya makin meluas. Usul ini atas permintaan Gus Mus, dari Pesantren di Rembang yang membaca posting di FB Helmi, ditulis langsung dari tanah suci. Helmi adalah seorang santri (Gontor), mantan jurnalis Harian Republika yang mendapat Pendidikan tinggi di Universityof Hull, Inggris, juga dosen di UIN Jakarta. Dalam catatan tersebut tampak kesan Helmi sangat cermat mengangkat ‘temuan’ yang tidak terpikirkan oleh orang kebanyakan.

Buku ini juga mencatat peristiwa ‘tragis romantis’. Suami istri melakukan perbuatan ‘terpaksa’ meski harus ditebus dengan denda menyembelih unta. Tidak disangka, itulah ibadah ‘persebadanan’ terakhir di dunia, di tanah suci, pada musim haji. Ibu muda dari Aceh ini kembali ke tanah air sendiri karena suaminya wafat tidak lama setelah peristiwa terpaksa membawa nikmat itu. 

Sebagai seorang kiai intelektual, Helmi menorehkan setiap peristiwa fenomemal dalam analisis akademis namun tidak lepas dari konteks ilahiah. Itu antara lain tampak dalam kisah seorang calon petugas yang sudah berkali-kali mengikuti tes tidak pernah lulus. Saat mengikuti tes keempat kalinya, ia baru mengetuk pintu langit dan saat itu terlihatlah bayangan ibunya. Seketika ia datangi Sang Ibu yang tempat tinggalnya berjarak 200-an KM. Benar, setelah itu lulus dan dapat berkhidmat melayani jemaah haji. Hal serupa dialami penulis sendiri. Terbersit dalam hati tidak akan tersesat di Mina karena sudah menguasai lapangan. Saat kembali ke tenda dari sebuah hotel, ia tersilap satu gang dan ini membuatnya makin menjauh dari titik tujuan. Saat lelah dan menyerah, ia baru berdoa dan saat itulah lewat petugas dari Bangladesh menunjukkan. Ah, ternyata yang dicari hanya berjarak 20 an tenda. Allah Maha Kuasa.

Peristwa terkait ibadah haji, sejak dari niat dipancangkan, daya upaya diprioritaskan sampai ritual yang dijalankan dari tanah air hingga tanah suci tidak ada yang tidak menjadi pelajaran bagi yang beriman dan berakal. Semua dimaksudkan untuk mendapatkan kemabruran. Jika yang diburu adalah haji mabrur, maka Jemaah dari sejak niat berangkat, niat berihram hingga kembali ke tanah air, yang diburu adalah kebaikan yang diridlai Allah. Mambrur berarti orang yang istiqamah menyemai kebaikan dan kebaikan baik yang ritual maupun sosial. Sebab kata mabrur dibentuk dari akar kata ‘al-birru’ yang artinya adalah kebaikan. 

Mahrus Ali, Peneliti, Peziarah, Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) dan Tenaga Ahli Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI, 2017-19)


#Haji

Komentar Anda
Komentar