Hello,

Reader

Satu Tahun Kursi Wagub DKI Kosong, Kemesraan Gerindra-PKS Berakhir
Balaikota DKI Jakarta
Satu Tahun Kursi Wagub DKI Kosong, Kemesraan Gerindra-PKS Berakhir

Jakarta, HanTer - Kebersamaan koalisi Partai Gerindra dan PKS sebagai partai pengusung Anies Baswedan dan Sandiaga Uno di pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2017, disebut-sebut bisa saja tak berlangsung lama. Kemesraan kedua partai itu selama ini berakhir. Mengingat, tarik-menarik proses proses pemilihan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang tak kunjung rampung hingga kini.

Pengamat Politik dari LIPI, Syamsudin Haris, mengatakan, sejak awal Gerindra tak memiliki niat baik perihal jatah kursi wagub DKI untuk PKS. Menurutnya, Gerindra memang menginginkan jabatan wagub tersebut, meski menjadi hak PKS.

"Sudah jelas sejak awal tidak ada niat baik Gerindra sebagai pengusung Anies-Sandi untuk menyelesaikan proses pemilihan wagub dari PKS," ucap Syamsudin di Jakarta, Senin (11/11/2019).

Sudah setahun lebih kursi Wagub DKI kosong pasca ditinggal Sandiaga Uno pada 10 Agustus 2018 lalu. Berdasarkan kesepakatan Gerindra dan PKS selaku pengusung Anies-Sandi, kursi wakil gubernur menjadi jatah PKS. Dan, nama Ahmad Syaikhu dan Agung Yulianto didapuk sebagai calon wakil gubernur.Namun, hingga kini hasilnya nihil. Dua nama tersebut tak kunjung berproses di Kebon Sirih.

Bahkan, Gerindra justru menyodorkan 4 nama baru untuk jadi wakil Anies. Mereka adalah Dewan Penasihat Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerindra Arnes Lukman, Wakil Ketua Umum Gerindra Ferry J Yuliantono, Sekretaris Jenderal Gerindra Riza Patria, dan Sekretaris Daerah DKI Jakarta Saefullah.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Gerindra DKI Jakarta Mohamad Taufik mengklaim, keempat nama ini disetor ke Dewan Pimpinan Pusat PKS yang secara resmi berwenang mengajukan wakil gubernur DKI Jakarta.

"Biar bisa disandingkan dengan kandidat dari PKS, bisa begitu kan. Karena kita lihat kandidat PKS macet ini, gimana kalau opsi itu diambil," ujar Taufik di Jakarta, Senin (11/11/2019).

Untuk diketahui, proses pemilihan Wakil Gubernur DKI Jakarta di DPRD berjalan alot dengan drama penyusunan tata tertib pemilihan yang tak kunjung usai.

Pecah

Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Trisakti Jakarta, Trubus Rahardiansyah, menilai, kedekatan yang terjalin sebagai pengusung Anies-Sandi di Pilkada 2017 antara Gerindra dan PKS itu bisa saja berakhir apabila akhirnya Gerindra ngotot untuk mendapatkan kursi Wagub DKI.

Ia mengungkapkan, meskipun kedua partai itu terikat secara de facto namun bukan berarti juga melahirkan hubungan yang bersifat permanen."Oleh karena itu, bukan tidak mungkin Gerindra akan ngotot untuk mendapatkan kursi Wagub tersebut," katanya di Jakarta, Senin (11/11/2019).

Ia menerangkan, partai politik sejatinya membutuhkan akses terhadap sumber daya strategis untuk kepentingan partai politik. Karena itu, ia beranggapan kalau saat ini Gerindra ingin mencoba untuk mendapatkan kursi Wagub DKI.

"Kursi Wagub ini seksi. Tentunya dengan mendapatkan kursi Wagub secara mudah punya akses terhadap sumber daya statistik kedepannya itu kan bisa rising up lebih cepat," tandasnya.

Terpisah, pengamat Politik Ray Rangkuti menilai sejak awal, Partai Gerindra tak ingin kursi Wagub DKI Jakarta jatuh ke tangan PKS.

"Saya paham Gerindra akan berkelit sedemikian rupa agar jatah wagub tidak jatuh ke PKS. Kawan seiring adalah musuh terdepan," ujar Ray di Jakarta, Senin (11/11/2019).

Ia mengatakan, kursi wakil gubernur DKI merupakan posisi yang amat strategis bagi siapa pun yang mendudukinya. Sehingga, tak heran jika Gerindra juga diam-diam mengincar posisi itu.

"Semua partai juga ingin. Namun, ketentuannya cuma partai pengusung saja yang bisa, dalam hal ini Gerindra-PKS," terang Ray.

Lemahnya Komitmen

Direktur Eksekutif Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah, Robert Endi Jaweng, mengungkapkan, adanya tarik ulur dalam proses pemilihan cawagub tersebut tak lepas dari lemahnya komitmen kedua partai pengusung untuk mengedepankan kepentingan warga Jakarta.

"Karena komitmennya tidak tuntas dan tidak legowo. Karena ada komitmen agar mendukung Prabowo, agar tidak pecah kongsi dan sebagainya, kursi wagub ini direlakan oleh PKS. Ini kan terkait dengan pertarungan Pilpres juga," kata Robert di Jakarta, Senin (11/11/2019).

Ia menilai, dalam hal ini Gerindra masih belum rela melepaskan kursi wakil gubernur kepada PKS. Pasalnya, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno bernaung di bawah Gerindra.

Robert menilai, kedua partai pengusung, khususnya Gerindra, hanya berkutat pada kepentingan pribadi."Jauhkan dahulu soal Pilpres, jangan kedepankan ambisi pribadi. Kepentingan ribuan warga Jakarta yang membutuhkan pemimpin harus diletakkan di atas segalanya," tegas Robert.

Di samping itu, Robert mengatakan, sebagai sebuah provinsi, Jakarta sangat membutuhkan peran wakil gubernur.

"Sangat penting, karena memang beda dengan provinsi lainnya di Indonesia. Jakarta merupakan wilayah otonomi tunggal, di mana semua otoritasnya ada di Balai Kota. Gubernur dan wagub berfungsi sebagai koordinator," katanya.

Kriteria Anies

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, mengungkapkan kriteria Calon wakil gubernur yang diinginkannya untuk mengisi posisi pengganti Sandiaga Uno.

"Kalau menurut saya, nomor satu, dia ikut pada visi gubernur. Karena yang menjadi calon wakil itu sekarang tidak ada satupun yang pernah ikut kampanye," kata Anies di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Senin (11/11/2019).

Anies melanjutkan, rekan kerjanya nanti harus dapat bekerjasama dalam segala situasi mengatasi masalah yang ada di Jakarta tanpa membawa misi lain di luar program kerja yang diusungnya dalam kampanye Pilkada 2017.

"Kalau bawa agenda sendiri, ada deal-deal sendiri, kita tidak tahu tuh nanti seperti apa?Jadi ikut pada apa yang sudah menjadi janji gubernur," ujar mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu.

Ia berharap, kedua hal itu dapat ditemukannya dari nama-nama yang diajukan sebagai wagub untuk memimpin Jakarta hingga 2022.

Anies memilih fokus mengurus DKI Jakarta yang sudah dipimpinnya dan menyerahkan persoalan cawagub kepada partai politik yang berwenangan mengisi kekosongan posisi itu.

"Biarkan mereka (partai politik, red) yang memutuskan. Saya konsentrasi pada pekerjaan saya sebagai gubernur," kata Anies.


#Gerindra #pks #gubernur #dki

Komentar Anda
Komentar