Hello,

Reader

Pemilihan Ketum Golkar Lewat Musyawarah Mufakat Bakal Jadi Sejarah 
Hartarto Airlangga/ ist
Pemilihan Ketum Golkar Lewat Musyawarah Mufakat Bakal Jadi Sejarah 

Jakarta, HanTer - Menjelang Musyawarah Nasional Partai Golkar, 4-6 Desember 2019 di Jakarta, kondisi internal partai beringin memanas. Perebutan kursi ketua umum yang dianggap seksi bagi beberapa kader adalah salah satu penyebabnya. 

Airlangga Hartarto, Ketua Golkar inkumben, jauh hari sudah menyatakan diri bakal maju kembali dalam kontestasi di Golkar kali ini. Airlangga bahkan sudah mendapatkan pujian sekaligus “kampanye dukungan” dari Presiden Joko Widodo. Ia disebut ketua top di Golkar. 

Modal ini membuat Menko Perekonomian itu seperti berada di atas angin. Apalagi jika dukungan dari DPD 1 dan DPD 2 Partai Golkar dapat dikapitalisasi. 

“Pujian Jokowi kepada Airlangga tentu menjadi kredit poin bagi Airlangga untuk menjadi ketua umum kembali. Tapi itu tak menjamin kalau DPD 1 dan DPD 2 Golkar tak solid mendukung dirinya,” ungkap Adi Prayitno, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia.

Syarat dukungan dari DPD 1 dan DPD 2 sendiri sudah bermunculan sejak lama. Mulai dari DPD Golkar Sumsel, Bali, Jatim, Sultra dan Jateng sudah merapat ke Airlangga. Begitu pula dengan sejumlah daerah lain. 

Bahkan kini muncul sejumlah wacana agar kontestasi pemilihan ketua Golkar itu berlangsung damai tanpa sebuah kompetisi di internal mereka. Beberapa tahun terakhir, sering kali muncul gejolak selepas persaingan terbuka kader Golkar. 

Hal itu membuat para “ketua suku” di Golkar seperti Akbar Tanjung, Abu Rizal Bakrie, Agung Laksono, dan Jusuf Kalla, yang sudah mendukung Airlangga, berharap Munas Golkar bisa damai tanpa gejolak. Musyawarah mufakat untuk memilih Airlangga juga sempat diusulkan oleh Alex Noerdin, Ketua DPD1 Golkar Sumsel dan Demer Linggih, Ketua DPD 1 Golkar Bali. 

“Memang belum ada sejarahnya munas Golkar berlangsung dengan musyawarah mufakat karena pasti ada persaingan sengit. Jika ada musyawarah mufakat tentu ini sejarah pertama kali bagi Golkar pemilihan ketum tanpa gejolak apapun,” tutur Adi Prayitno.

Usulan musyawarah mufakat ini besar kemungkinan terjadi. Bambang Soesatyo yang sempat disebut ingin maju menjadi pesaing Airlangga, hingga kini belum menyatakan niatnya untuk mencalonkan diri. Sebelumnya Bamsoet sudah menyatakan mendukung Airlangga, namun pernyataan itu pekan lalu dijilat lagi. 

“Politik itu cair. Komitmen apapun (yang dibuat Bamsoet) bisa dilanggar. Bamsoet klaim tak ada komitmen hitam putih sementara kubu Airlangga ada komitmen politik terkait posisi ketua MPR bagi Bamsoet. Ini sedang jadi pertarungan di internal Golkar,” ujar Adi Prayitno.

Ia juga melihat dinamika Golkar kali ini berbeda dibandingkan sebelumnya. Adi memprediksi Golkar tetap solid. “Melihat kecenderungannya tak akan terjadi perpecahan hanya dinamika biasa saja,” tambah Adi.

Dinamika di Golkar ini bisa jadi hanya riak kecil yang tak mengguncang peta politik nasional, seperti yang diharapkan Presiden Jokowi. Pasalnya Jokowi memang “berkepentingan” atas kondisi Golkar yang solid. Presiden ingin Golkar tetap satu mendukung pemerintah serta tak ada perpecahan di antara anggota. 

“Pesan dan dukungan politik yang baik dari Jokowi agar Golkar tetap solid, sekeras apapun dinamika internal (mereka),” ungkap Adi Prayitno.
 


#Golkar #Musyawarah #Mufakat

Komentar Anda
Komentar