Hello,

Reader

Hambat Tol Laut, Menteri ESDM Diminta Meninjau Ulang Permen ESDM Nomor 13 Tahun 2018 
Pengamat Energi, Sofyano Zakaria
Hambat Tol Laut, Menteri ESDM Diminta Meninjau Ulang Permen ESDM Nomor 13 Tahun 2018 

Jakarta, HanTer--- Pengamat Energi, Sofyano Zakaria berpendapat, Peraturan Menteri ESDM Nomor 13 Tahun 2018 tentang kegiatan Penyaluran BBM, BBG dan LPG, dikhawatirkan akan menghambat program Tol Laut yang sedang dijalankan Pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Pasalnya, kata koordinator Asosiasi Pengamat Energi  Indonesia, APEI itu , karena pasal-pasal yang ada pada Permen esdm tersebut terbaca “abu-abu” sehingga bisa ditafsirkan bisa menghambat suskses nya Program Tol laut. 

Sebagaimana diketahui, selama ini pendistrubusian bbm umum non subsidi jenis solar yang dipergunakan untuk keperluan pelayaran maupun untuk masyarakat kepulauan, dominan disupply  oleh perusahaan yang merupakan agen-agen bbm dari bumn Pertamina termasuk anak perusahaannya, PT Pertamina Patra  Niaga.

Kemudian dengan lahirnya Permen ESDM nomor 13 Tahun 2018 yang ditandatangani oleh Menteri ESDM kala itu, Igantius Jonan pada tanggal 21 Februari 2018 dan di Undangkan pada 23 Februari 2018, terdapat pasal yang multi tafsir yang bisa dimaknai bahwa para agen karena bukan lah Badan Usaha Niaga Migas sebagaimana dimaksud oleh Permen ESDM tersebut, tidak dapat lagi melakukan supply BBM ke pengguna langsung. 

Padahal pengguna BBM umum jenis marines fuel digunakan untuk keperluan angkutan laut danau dan sungai yang selama ini didistribusikan oleh para agen BBM mitra Pertamina dan Patra Niaga.

Selama ini, kata Sofyano,  para agen tersebut terbukti berperan besar dalam melayani BBM bagi dunia pelayaran khususnya bagi pemilik kapal-kapal,  juga perahu perahu nelayan termasuk masyarakat kepulauan yang biasa membeli dalam skala kecil yang bersifat eceran. 

“Jika para agen dilarang melakukan itu lagi maka sangat tidak mungkin kebutuhan bbm mereka di lakukan oleh badan usaha niaga migas seperti Pertamina dan Patra Niaga karena badan usaha ini juga memiliki keterbatasan” tambah pengamat energi yang juga Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik, Puskepi. 

Menurutnya, keberadaan para agen mitra Pertamina dan Patra Niaga itu berperanan besar bagi pemenuhan kebutuhan BBM umum non subsidi yang berperan menyukseskan program tol lau . Selama ini para agen tersebut juga berperan besar sebagai titik supply bagi masyarakat kepulauan karena terbatasnya depo bbm pertamina” tambahnya lagi.

Para agen bbm untuk keperluan laut berfungsi pula sebagai depo bbm berjalan yang jumlah nya sangat besar dan ini sangat membantu peran Pertamina.

“Jika Permen ESDM dimaksudkan untuk agen BBM umum bagi keperluan industri didaratan, itu tidak menjadi masalah karena di daratan banyak tersedia titik supply BBM baik dalam bentuk depo atau pun SPBU-SPBU yang semua ini bisa membantu industri di daratan” tegas Sofyano. 

Jika Permen ESDM 13 Tahun 2018 ditafsirkan tidak tepat yang membuat para agen tidak lagi bisa berjualan BBM langsung ke pengguna karena  bukan lah badan usaha niaga migas, hal ini sangat berpotensi menimbulkan masalah bagi masyarakat banyak. Bisa dipastikan akan membuat Pemerintah akan pusing. Artinya bisa dikatakan Permen esdm tersebut malah menghambat program tol laut.

Untuk itu, lanjut Sofyano, maka sebaiknya Menteri ESDM yang baru saat ini, sebaiknya mengkaji ulang pasal-pasal yang ada pada Permen tersebut
sebelum Permen tersebut terlanjur menimbulkan masalah yang akhirnya bisa merepotkan Kementerian ESDM dan Pemerintah. 


#TolLaut

Komentar Anda
Komentar