Hello,

Reader

Tentang Komut di BUMN
Salamudin Daeng
Tentang Komut di BUMN

Saya sebetulnya malas bicara ahok, ujungnya kontroversi tidak  jelas. Ada masalah lain yang dibawa dalam tema Ahok, macam macam masalah, mulai dari masalah kasus penistaan agama, kasus dugaan korupsi,  jadi diskusinya tak sampai pada tujuan pembahasan. 

Begitupun nanti kalau ada masalah dalam pertamina, pasti publik akan kehilangan kesempatan membahas yang sebenarnya terjadi pertamina. Masalah yang dibahas lain lain diluar topik. Belum lagi kasus ahok yang lama lama diungkit lagi. Wah repot ya...

Keputusan pak Jokowi membawa ahok dalam lingkaran oligarki kekuasaan itu hal yang wajar, Ahok temannya Presiden Jokowi. Jokowi naik daun kan sama sama dengan Ahok. Jabatan Komisaris gajinya besar, jadi itu adalah imbalan yang wajar. Ahok bisa bawa pulang uang 38 miliar setahun.

Namun komisaris ini bukan jabatan yang menetukan BUMN jadi hebat. Jabatan komisasris kita tau dari dulu adalah jatah untuk bagi kue di BUMN. Komisaris dibagi kepada tim sukses, parpol, partai pendukung, partai pengusung presiden yang menang pemilu. 

Setiap pemenang pemilu pasti melakukan yang demikian. Saya rasa Pak Jokowi juga sudah membagi rata jabatan ke teman teman dan koleganya. Termasuk anak teman teman dan koleganya. Jadi kalau satu jabatan komisaris dibagi presiden Jokowi ke Ahok adalah baguian yang sangat wajar sebagai temannya presiden.

Tapi apakah bisa para komisaris menjalankan fungsinya yang sebetulnya tidak terlalu penting dalam BUMN ?selama ini belum pernah komisaris punya peran. Apalagi peran kritis, belum pernah terjadi.

Karena banyak komisaris tidak tau masalah di BUMN. Lagi pula kalau kritis atau jujur dia komisaris tidak bisa dapat proyek. Karena proyek kewenangan direksi.

Oleh: Salamudin Daeng, Ekonom


#Ahok #SalamudinDaeng

Komentar Anda
Komentar