Hello,

Reader

Di Tengah Invasi Digital Terus Merambah Jauh dalam Sendi Kehidupan
Ilustrasi
Di Tengah Invasi Digital Terus Merambah Jauh dalam Sendi Kehidupan

Jakarta, HanTer - Kepunahan, adalah petaka yang sedang diupayakan untuk tidak terjadi dalam waktu dekat ini. Kira-kira itulah yang tengah diperjuangkan oleh penerbit-penerbit konvensional dengan terus merilis produk-produk fisik mereka.

Invasi digital lewat beragam platfotmnya yang kini tengah mendominasi memang telah banyak memakan korban.

Sebut saja nama besar sekelas Rolling Stone yang harus pamit pada awal tahun 2018 lalu, setelah 12 tahun berkiprah di Indonesia. Juga ada Majalah HAI yang berhenti cetak dan kini hanya mengandalkan format online dengan alasan efisiensi.

Di tengah masa-masa paceklik penerbitan konvensional tersebut, muncul kejutan yang justru lahir dari ranah non mainstream. Dengan merk dagang yang terbilang baru, mereka cukup percaya diri untuk terus memproduksi rilisan cetak.

Gilanya lagi, mereka berani menerbitkan produk-produk yang tidak populer di kalangan masyarakat luas. Sebut saja majalah indie, photo book, art book atau bahkan zine.

Para pemain ini juga berhasil membentuk sebuah ekosistem yang solid, hal ini bisa dilihat dari acara rutin yang tiap tahun mereka adakan.

Bahkan tidak sedikit pula yang berjejaring hingga ke luar negeri.

Lantas, apa yang melatarbelakangi kemunculan mereka? visi apa yang sebenarnya mereka usung? dan bagaimana mereka mengelola bisnis tersebut agar mampu bertahan di tengah hegemoni digital saat ini?
Semua pertanyaan tersebut akan diulas dalam diskusi "Why Print is Matter" yang akan diselenggarakan pada tanggal 12 Desember 2019 di Matalokal M Bloc Space, Jakarta.

Dalam diskusi tersebut akan dihadiri penggiat-penggiat penerbitan dan distributor indie, yakni Gram dari HOM Book Store, Arie dari Gueari Galeri, dan Julius Kensan dari Manual Jakarta.

Diskusi ini sendiri merupakan rangkaian acara pameran foto "Disrupsi" oleh Rengga Satria yang akan berlangsung dari tanggal 8 -15 Desember 2019 di Matalokal M Bloc Space, Jakarta.



#WhyPrintIsMatter

Komentar Anda
Komentar