Hello,

Reader

Sandiaga: Ekonomi Tumbuh, Tapi Cari Kerja Susah Banget
Sandiaga: Ekonomi Tumbuh, Tapi Cari Kerja Susah Banget

Jakarta, HanTer - Pengusaha merangkap politisi Sandiaga Uno, mengaku heran mengapa mencari kerja di Indonesia susah padahal ekonomi tumbuh. Menurutnya masalahnya adalah tidak adanya link and match antara dunia usaha dengan tenaga kerja.

"Cari kerja susah nggak? Susah banget, padahal ekonomi berkembang, tapi nggak ada link and match," jelas Sandi di Jakarta, Senin (10/2/2020).

Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menembus 6% lebih. Syaratnya, pemerintah harus bisa lebih banyak mengeluarkan regulasi yang memudahkan para wirausahawan.

"Indonesia ekonominya itu tumbuh pesat, sekarang ini 5% ya. Kita bisa bertumbuh lebih tinggi di atas 6% asalkan ada kebijakan yang pro entrepreneur," ungkap Sandi.

Untuk itu dia meminta para generasi milenial banyak belajar mengenai wirausaha. Pasalnya, Indonesia merupakan negara dengan potensi pasar besar hingga 2045. "Milenial mau maju nggak? Kalau mau harus ngerti entrepreneur, pasarnya kita ini berkembang pesat sampai tahun 2045," ungkap Sandi.

Kalau milenial tidak mengambil potensi pasar dengan memperbanyak produk dalam negeri dengan berwirausaha, Sandi khawatir Indonesia akan dibanjiri produk impor.

"Kalau milenial nggak nangkep (potensi pasar) ini, maka akan datang banyak barang dari luar negeri. Bisa kalah produk dalam negeri kita," sebut Sandi.

Youtuber

Teknologi makin canggih, profesi baru pun bermunculan. Sandi sempat cerita ada profesi baru yang bikin dia kalah untung.

Adapun profesi itu adalah Youtuber dan influencer misalnya, dia mengaku kaget atas kemunculan profesi baru di tengah kemajuan teknologi ini. Bukan cuma baru, pendapatan dari profesi ini pun selangit.

"Pernah nggak kepikir 10 tahun lalu ada profesi Youtuber atau influencer? Never in my wildest dream," ungkap Sandi.

Mantan Wagub DKI Jakarta ini mengatakan, kini para Youtuber penghasilannya mengalahkan pendapatannya. Bahkan, keuntungan perusahaannya selama tahun 2019 bisa kalah dengan pemasukan Youtuber dari konten-kontennya.

Pengangguran

Pengamat Transportasi Universitas Katolik Soegijapranata Djoko Setijowarno, menyatakan keraguannya terhadap anggapan adanya penyerapan tenaga kerja. Terutama yang dilakukan oleh ojek daring, dalam hal ini, Gojek dan Grab.

"Pemerintah cenderung mendukung karena dianggap dapat memberikan lapangan pekerjaan bagi warganya," kata Djoko di Jakarta, Senin (10/2/2020).

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Perhubungan di lima kota (Jabodetabek, Bandung, Makassar, Surabaya, dan Yogyakarta) pada Mei 2019, sebagian besar pengemudi ojek daring merupakan wirausaha.

"Pekerjaan sebelum menjadi pengemudi ojol adalah tanpa pekerjaan alias pengangguran hanya 18 persen," katanya.

Selanjutnya wirausaha 44 persen, BUMN/Swasta 31 persen, pelajar/mahasiswa 6 persen dan ibu rumah tangga 1 persen.

"Jadi, kurang benar jika selama ini ada anggapan kalau bisnis ojol (ojek online) itu mengurangi pengangguran. Yang pasti adalah beralih profesi menjadi pengemudi ojol karena tawaran penghasilan yang memikat saat itu," ujarnya.

Ekspor Menurun

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Arif Budimanta mengungkapkan penyebab pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5,02% sepanjang 2019. disebabkan nilai ekspor yang menurun dibandingkan 2018.

"Secara nilai ekspor kita alami kontraksi minus 4,86% karena aspek cyclical, bukan karena kemudian ketiadaan usaha. Usahanya sudah maksimal," kata Arif dalam Press Briefing di Wisma Negara, Jakarta, Senin (10/2/2020).

Dia menjelaskan, dari sisi volume, ekspor memang mengalami peningkatan, yaitu 9,82%, khususnya ekspor non migas seperti sawit dan batu bara. Tapi dari sisi nilai ada penurunan akibat penurunan harga komoditas.

"Memang secara nilai mengalami kontraksi karena harga komoditi yang kontraksinya cukup dalam, batu baru turun 27% di 2019 dibandingkan 2018, CPO turun 6% year on year," jelasnya.

Dia juga menjelaskan adanya tekanan terhadap harga minyak mentah Indonesia (Indonesian crude price/ICP. "Rata-rata ICP kita turun sekitar 8%. Dan kita tahu proyeksi kita 2019 terhadap ICP kan US$ 70 per barel tapi kenyataannya kurang dari situ, sekitar US$ 62-63 per barel," sebutnya.

Dia menjelaskan bahwa kondisi tersebut berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

"Jadi inilah yang mengakibatkan ada tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi kita. Jadi walau secara volume ekspor meningkat non migas, tapi secara nilai ada kontraksi terhadap harga komoditas, terutama batu bara dan CPO, maka berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan," tambahnya. 

Sebelumnya, pakar ekonomi, Rizal Ramli mengingatkan pemerintah untuk mengubah langkah dan kebijakan ekonomi secara signifikan. Jika tidak, Rizal memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak bisa lebih dari 5 persen

“Hal ini akan semakin menurunkan daya beli dan meningkatkan jumlah perusahaan yang mengalami gagal minus bayar (default). Tidak ada juga tanda-tanda indikator ekonomi makro, seperti defisit perdagangan, defisit current account, akan membaik pada 2020,” kata mantan Menko Ekuin ini di Jakarta, Jumat (8/11/2019).


#Ekonomi #pengangguran #sandiaga

Komentar Anda
Komentar