Hello,

Reader

Gawat, Riau Tetapkan Status Siaga Darurat Karhutla

 

Pekanbaru, HanTer – Tak disangka, Pemerintah Provinsi Riau akan menggelar rapat koordinasi untuk menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), di Kota Pekanbaru pada Selasa malam ini.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Edwar Sanger di Pekanbaru, Selasa, mengatakan rapat penetapan status siaga darurat Karhutla akan berlangsung di Balai Pauh Janggi Jalan Diponegoro, Pekanbaru pada pukul 20.00 WIB.
Menurut dia, rapat tersebut digelar karena memperhatikan situasi dan kondisi masuknya musim kemarau dan telah terjadi Karhutla di beberapa kabupaten/kota di Riau.
"Serta telah ditetapkan status siaga darurat bencana Karhutla di tiga kabupaten/kota," ujarnya, Selasa (11/2/2020).
Dikutip dari Antara, Riau selalu menjadi langganan Karhutla terutama karena ulah manusia yang membuka lahan gambut di daerah tersebut. Pada tahun lalu, status siaga darurat Karhutla Riau juga ditetapkan sejak 19 Februari 2019 dan berlangsung selama sembilan bulan hingga Oktober.
Berdasarkan di situs Sipongi milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Karhutla di Provinsi Riau selama 2019 mencakup area seluas 75.871 hektare (ha), jauh lebih luas dibandingkan cakupan Karhutla tahun sebelumnya.
Tahun 2017 dan 2018 kebakaran hutan dan lahan di Riau berturut-turut mencakup area seluas 6.866 ha dan 37.236 ha.
Kebakaran hutan dan lahan di Riau tahun ini menimbulkan kabut asap yang menurunkan kualitas udara ke tingkat membahayakan pada September.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan, hingga akhir September 2019 jumlah penderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) akibat kabut asap di Riau mencapai 275.793 orang.
Selain itu, kebakaran hutan dan lahan di Riau pada pertengahan September juga menelan korban jiwa, menyebabkan seorang kakek berusia 69 tahun meninggal dunia di Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir.
Asap kebakaran hutan dan lahan di Riau juga sempat mencapai Singapura dan Malaysia, membuat Presiden Joko Widodo turun ke daerah berjuluk Bumi Lancang Kuning itu pada pertengahan September 2019, dan menegur pemerintah daerah yang dinilai kurang mendukung upaya penanganan Karhutla sehingga kebakaran meluas.
Operasi Udara
Dana yang digunakan untuk operasi udara adalah bantuan sewa delapan helikopter yang digunakan untuk patroli dan pemadaman api dari udara dengan menjatuhkan bom air (water bombing/WB) di Riau. Total ada 169,57 juta liter air yang sudah dijatuhkan selama operasi heli WB. Satu jam heli WB biayanya Rp200-300 juta.
Kemudian dana yang habis untuk Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sekitar Rp30 miliar. Operasi untuk menghasilkan hujan buatan ini menggunakan pesawat TNI AU dan teknologi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan cara menebar garam. Proses yang disebut menyemai awan tersebut telah menebar 228.916 kilogram garam di langit Riau.
Selain itu ada pendanaan untuk operasi darat yang menghabiskan kurang lebih Rp38,66 miliar. BNPB pada tahun ini mengerahkan 6.259 personel untuk operasi darat selama siaga darurat Karhutla di Riau.
Penerima dana tersebut antara lain untuk operasi di Lanud Roesmin Nurjadin sekitar Rp2,65 miliar, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau Rp1,1 miliar, Korem 031 Wirabima Rp15,933 miliar, Polda Riau Rp250 juta dan BPBD Kabupaten Indragiri Hilir Rp722,1 juta. 



#Darurat #Karhutla

Komentar Anda
Komentar