Hello,

Reader

  Dokter: Paparan Radioaktif Jangka Panjang Timbulkan Mutasi Genetik
ilustrasi. (Ist)
Dokter: Paparan Radioaktif Jangka Panjang Timbulkan Mutasi Genetik

Jakarta, HanTer - Efek terpapar zat radioaktif bisa menyebabkan dampak akut seperti mual muntah dan juga efek jangka panjang berupa mutasi genetik seperti munculnya sel kanker.

Dokter spesialis kedokteran nuklir dari RS MRCCC Siloam Semanggi Jakarta dr Ryan Yudistiro, Sp.KN M.Kes saat menjelaskan efek jangka panjang dari paparan radioaktif lebih berbahaya ketimbang efek akut.

"Efek radiasi kalau terpapar dalam jumlah besar, lama, dan dekat satu efek akut atau efek segera. Begitu terpapar, paling sering dikeluhkan mual, muntah, pusing, sakit kepala, lemas, sampai mata merah, kulit merah, ada luka bakar, bahkan ada yang meninggal," katanya, di Jakarta, Selasa (18/2/2020)

Dia mencontohkan penyebaran zat radioaktif seperti yang terjadi di Chernobyl, Ukraina dan Fukushima, Jepang akibat reaktor yang meledak tersebut bisa menelan korban jiwa. Namun, ia menekankan efek jangka panjang dari paparan radioaktif lebih berbahaya karena tidak bisa diprediksi kapan akan muncul dampaknya.

"Ini yang paling berbahaya karena kita tidak tahu kapan itu bisa terjadi. Radiasi itu bisa merusak sel DNA, dan bisa terjadi mutasi genetik. Mutasi genetik ini yang kita ngga bisa prediksi kapan munculnya, salah satu akibat dari mutasi genetik itu muncul sel kanker," katanya, dilansir Antara.

Ia mengatakan kanker yang paling sering terjadi akibat radiasi adalah kanker tiroid, namun tidak menutup kemungkinan juga sel kanker jenis lainnya seperti kanker darah dan sebagainya.

Dia menjelaskan ada tiga faktor yang memengaruhi paparan radiasi radioaktif kepada tubuh manusia, yaitu besarnya jumlah radiasi, lamanya paparan radiasi, dan seberapa dekat paparan radioaktif itu terjadi. Jika semakin besar jumlah paparan radiasi, semakin lama terpapar radiasi, dan jarak yang begitu dekat dengan sumber radiasi maka akan memperbesar dampak negatif yang bisa ditimbulkan bagi kesehatan.

Beberapa cara agar terhindar dari radiasi, kata dia, adalah dengan menjauhi sumber radiasi sejauh mungkin agar tidak terpapar zat radioaktif. Jika dalam kedokteran nuklir, dokter spesialis kedokteran nuklir biasa memakai proteksi atau alat pelindung diri agar tidak terkena paparan obat radioaktif yang diberikan kepada pasien.

Ia menjelaskan pancaran sinar gelombang radiasi nuklir berbeda-beda dari tiap jenis zat radioaktif. Pancaran sinar radioaktif tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna sehingga tidak bisa dilihat oleh kasat mata.

Orang yang terpapar zat radioaktif pun, kata Ryan, tidak bisa mengetahui dirinya terpapar radiasi nuklir kecuali jika diukur oleh alat khusus untuk mengukur kandungan radioaktif pada tubuh. Paling tidak, orang yang terpapar radioaktif bisa merasakan efek akut seperti mual dan muntah dan sebagainya.

Proses Investigasi

Terpisah, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan paparan radiasi di area tanah kosong di samping lapangan voli blok J di Perumahan Batan Indah bukan diakibatkan kebocoran atau gangguan fasilitas reaktor nuklir di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong.

"Kontaminasi bahan radioaktif di lahan kosong ini bukan sebagai akibat dari kebocoran fasilitas reaktor nuklir yang memang ada di kompleks Puspiptek Serpong," kata Bambang.

Saat ini, kata Bambang, Bapeten dan Kepolisian RI sedang menyelidiki pelaku yang membuang bahan radioaktif Cesium 137 di lingkungan itu.

Sebagai informasi, paparan radiasi zat radioaktif Cesium 137 (Cs-137) ditemukan di lingkungan area tanah kosong di samping lapangan voli Blok J Perumahan Batan Indah Serpong Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Jazi Eko Istiyanto mengatakan pihaknya ada sembilan detektor yang dipasang di kompleks Badan Tenaga Nuklir Nasional di kawasan Puspiptek Serpong untuk memantau keamanan reaktor nuklir di kawasan itu.

Jika terjadi sesuatu, detektor tersebut akan bisa mendeteksi dan memberikan notifikasi jika ada sesuatu yang tidak beres sehingga keamanan fasilitas reaktor nuklir tersebut terjamin.

Pemanfaatan teknologi juga semakin ditingkatkan dalam memantau keamanan reaktor nuklir, bahkan sudah dipasang sistem yang bisa melaporkan hasil pemantauan langsung ke Bapeten. "Dari terminal komputer di meja saya, saya bisa memonitor operating condition reaktor di Batan sehingga kalau ada apa-apa misalnya suhu terlalu tinggi atau apa-apa kita bisa langsung lihat dan langsung kirim notifikasi ke BATAN," tuturnya.

Jazi menuturkan adanya paparan radiasi akibat bahan radioaktif yang ditemukan di Perumahan Batan Indah tidak bisa diklasifikasikan sebagai kecelakaan nuklir tapi pencemaran limbah radioaktif ke lingkungan. "Ini bukan kecelakaan nuklir, bukan kedaruratan nuklir, jadi jauh sekali dibandingkan dengan kecelakaan Chernobyl atau Fukushima, dan itu jauh sekali skalanya," ujarnya. 



#nuklir #cemaran #radioaktif

Komentar Anda
Komentar