Hello,

Reader

Virus COVID-19, Ujian Bagi Kejumawaan Kekuasaan Jokowi
Virus COVID-19, Ujian Bagi Kejumawaan Kekuasaan Jokowi

Oleh: S Indro Tjahyono, Eksponen Aktivis 77/78

Kekuasaan politik akan kuat jika didukung dua pilar. Pertama, modal ekonomi dan keuangan (economic & financial capital) serta kedua, modal sosial dan manusia (social & human capital). Dalam hal ini pendukung setia yang solid adalah modal sosial. Sedangkan pendukung terbaik merupakan modal manusia.

Kondisi modal sosial dan modal manusia

Pada periode pertama kekuasaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebenarnya banyak masalah pelik baik di bidang politik, sosial, budaya maupun ekonomi. Namun Jokowi berhasil lolos dari ujian. Hal itu dikarenakan modal sosial dan modal manusia Jokowi masih sangat kuat. 

Mereka umumnya memberi dukungan karena ekspektasi politik bahwa pada periode kedua  Nawacita akan diwujudkan. Selain itu Jokowi diharapkan mulai berani menempatkan pendukung terbaiknya sebagai pembantu. Kenyataannya pada periode kedua, Jokowi tidak merekrut pendukungnya, melainkan  justru banyak elemen lawannya yang diberi jabatan strategis.

Sehingga pada periode kedua ini pendukung setia Jokowi semakin tergerus. Hanya ada tiga elemen pendukung Jokowi yang tersisa saat ini; yakni para oligark, kelompok vested interst, dan lawan yang telah dijinakkan. Dari segi sosiometri sosial mereka tidak bisa diklasifikasi sebagai aset dukungan tetapi hanya menjadi beban alias liability.

Kondisi Modal Ekonomi dan Modal Finansial

Tanpa adanya epidemi atau wabah Covid 19, pertumbuhan ekonomi nasional dan global sudah mengalami declining. Untuk mencegah defisit ekonomi semakin parah Indonesia harus mematok  pertumbuhan ekonomi pada tingkat tertentu. Namun di tengah-tengah "resesi global" saat ini mustahil investasi dan ekspor sebagai pendongkrak pertumbuhan bisa digenjot.  

Nah, kalau ditanya sejauh mana epidemi dan pandemi Covid 19 akan berdampak pada ekonomi Indonesia, pasti sangatlah berat. Modal ekonomi dan keuangan akan melemah sejalan dengan pelemahan ekonomi global. Sementara modal sosial dan modal manusia yang menopang kekuasaan  juga rapuh.

Seharusnya modal sosial dan modal manusia inilah yang dikonsolidasi dalam menghadapi virus Covid 19, saat modal ekonomi dan keuangan melemah. Namun pendukung setia politik Jokowi tercerai-berai dan modal manusia para pembantunya pun diragukan keandalannya. Relawan sudah dicampakkan dan ditinggalkan tatkala Jokowi menggunakan pendekatan "manajemen konflik" dalam mengorganisir pendukungnya.

Kualitas Pembantu Presiden

Seperti diketahui, dalam memilih elit pembantunya Jokowi menggunakan pendekatan "out of the box". Pembantu yang dipilih adalah orang-orang yang populer dan hanya mampu berbuat spektakuker, kalau tidak titipan para taipan. Padahal harusnya mereka adalah orang-orang yang cukup pengalaman dalam   menangani turbolensi ekonomi dan politik.

Wabah Covid 19 bisa saja menimbulkan turbolensi kalau timbul panik sosial dalam menghadapinya. Apalagi jika dukungan politik untuk pemimpin nasional sangat lemah. Namun pemerintahan yang selama ini terkesan jumawa bisa lolos dari ujian ,jika Jokowi mau mengkonsolidasi modal sosial dan modal manusia entitas pendukungnya kembali.

Konsolidasi tersebut tidak bisa ditawar-tawar ketika wabah virus Covid 19 ada tanda-tanda dipolitisasi, seperti saat terjadi bencana banjir di DKI Jakarta. Politisasi bencana epidemik, terlebih untuk menjatuhkan kekuasaan, jelaslah suatu kejahatan kemanusiaan. Apalagi saat semua pihak sedang bekerjakeras untuk menghentikannya


#Corona #covid-19 #jokowi

Komentar Anda
Komentar