Hello,

Reader

Lockdown Bisa Selamatkan Nyawa Jutaan Rakyat
Lockdown Bisa Selamatkan Nyawa Jutaan Rakyat

Jakarta, HanTer - Meski Presiden Joko Widodo sudah menegaskan tidak mengeluarkan kebijakan lockdown guna menghentikan penyebaran virus corona, desakan agar pemerintah mengambil kebijakan tersebut terus disampaikan. Para pengamat menyatakan, lockdown disebut bisa menyelamatkan nyawa jutaan rakyat negeri ini.

Pengamat sosial politik Universitas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun, mengungkapkan, saat ini Indonesia dalam darurat nasional Covid-19. Penyebaran virus ini, lanjut dia, sulit diprediksi karena dari 267 juta penduduk, yang baru terjaring di tes deteksi Covid-19 sekitar 1.500-an orang. Sementara jumlah yang terkena Covid-19 dalam satu pekan naik 100 persen.

Menurut Ubedilah, dalam situasi tersebut pemerintah terlalu lamban untuk mengambil keputusan. Padahal bahayanya jauh lebih besar dari ribuan demonstran.

Ia mengatakan, pemerintah lebih cepat menghalau demonstran yang menolak pelemahan KPK, ketimbang melawan Covid-19 yang jelas-jelas membahayakan nyawa manusia. "Rezim terkesan lamban. Termasuk lamban atasi situasi ekonomi saat ini," ujarnya di Jakarta, Rabu (25/3/2020).

Ubedilah menilai, pemerintah saat ini tinggal memilih antara mengatasi problem ekonomi (anjloknya nilai rupiah dan indeks harga saham yang menurun) dan menyelamatkan nyawa jutaan rakyat. Bisa juga memilih untuk menghentikan perdagangan saham, pembangunan infrastruktur struktur atau lockdown.

Ia menuturkan, butuh kebijakan yang berani untuk mengambil risiko dari dua pilihan. "Dalam situasi darurat harus berani mengambil keputusan yang berisiko, dan karenanya membutuhkan kepemimpinan yang berani ambil risiko, tidak lelet. Keburu banyak korban jiwa rakyat Indonesia nanti," kata Ubedilah. 

Ubedilah mengatakan lockdown justru merupakan kebijakan yang terukur saat ini. "Kebijakan yang menunjukan kehati-hatian pemerintah dalam menyelamatkan 260 juta lebih rakyat Indonesia. Ini tidak terkait untuk hasilkan efek kejut," kata Ubedilah.

Ubedilah mengatakan, lockdown berbeda dengan pengurangan jumlah sarana transportasi. Sebab, pengurangan jumlah sarana transportasi itu karena sesuai perintah Presiden Joko Widodo atau Jokowi agar rakyat bekerja dan ibadah di rumah.

Harus Tegas

Disisi lain, pemerintah harus bersikap tegas dalam hal menangani wabah virus corona (Covid-19), mengingat imbauan social distance belum banyak dipatuhi oleh masyarakat. Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio, mengatakan, pada dasarnya masyarakat Indonesia cenderung ‘ngeyel’ dan menyepelekan.

Oleh sebab itu, dia mendesak pemerintah pusat bekerjasama dengan pemerintah daerah melakukan lockdown area.

Menurutnya, wilayah pertama yang harus dilakukan lockdown adalah DKI Jakarta. Pasalnya, sejauh ini jumlah penderita virus corona paling banyak di Ibu Kota. Walaupun, lanjutnya, untuk melakukan lockdown dibutuhkan anggaran yang cukup besar.

"Problemnya, negara gak punya uang untuk lakukan lockdown. Maka dari itu, seharusnya Presiden itu menyampaikannya melalui sisi kemanusiaan, jangan dibahas soal ekonomi, bangun ini bangun itu. Hold semuanya. Fokus di masalah covid19," kata Agus di Jakarta, Rabu (25/3/2020). 

Nyawa Rakyat

Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra meminta pemerintah mengutamakan nyawa masyarakat dalam menghadapi virus corona. Menurut Yusril saat ini tak punya pilihan lain selain menyelamatkan masyarakat.

"Menghadapi ganasnya wabah Covid-19 sekarang ini, Pemerintah tidak punya pilihan lain kecuali menyelamatkan nyawa rakyat. Apapun pilihan yang dilakukan pemerintah, apakah melakukan pembatasan keramaian umum bahkan melakukan lockdown, tujuan utamanya harus satu, menyelamatkan nyawa rakyat," kata Yusril dalam keterangan tertulis, 
Jumat (21/3/2020) malam.

Yusril meminta pemerintah menomorduakan sektor ekonomi dalam menghadapi Corona. Menurut Yusril, terpuruknya ekonomi dapat dibangun kembali.

"Pertimbangan ekonomi harusnya menjadi nomor dua. Ekonomi memang hancur. Tetapi itu bukan hanya terjadi pada kita. Semua negara mengalami hal yang sama. Ekonomi bisa kita bangun kembali. Tetapi nyawa rakyat yang melayang takkan bisa dihidupkan lagi," ujarnya.


#Corona #covid-19 #lockdown

Komentar Anda
Komentar