Hello,

Reader

Ibadah Haji 2020 Ditiadakan Atau Tetap Dilaksanakan?
Ibadah Haji 2020 Ditiadakan Atau Tetap Dilaksanakan?

Jakarta, HanTer - Kementerian Agama menyebutkan ibadah haji 2020 ditiadakan jika hingga akhir Mei mendatang belum ada keputusan dari Kerajaan Arab Saudi.

"Jadi sampai akhir Mei, misalkan pemerintah Saudi belum memberi kejelasan, maka saya mohon teman-teman untuk memutuskan untuk tidak berangkat," kata Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Nizar Ali dalam rapat kerja dengan Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat secara virtual, Rabu, (15/4/2020).

Menanggapi hal ini, pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Mahrus Ali mengatakan, peniadaan ibadah haji tahun 2020 diharapkan sudah ada kepastian pada akhir bulan April 2020 ini, sebab, ada banyak  persiapan sebelum keberangkatan jamaah yang harus dilakukan. 

"Di antaranya manasik bagi jamaah, pembekalan bagi petugas, finalisasi kontrak transportasi, konsumsi dan akomodasi di Saudi dan lainnya," kata Mahrus Ali kepada Harian Terbit, Kamis (16/4/2020).

Oleh karena itu jika musim haji tahun 2020 ini benar akan ditangguhkan maka harus ada alasan yang sangat dapat diterima demi kemaslahatan penyelamatan jiwa (hifdzunnafsi).

"Pemerintah diharapkan memberi penjelasan umum kepada umat dan memastikan jemaah calon haji tahun berjalan tetap dapat melaksanakan haji pada tahun berikutnya dengan ketentuan yang sama, yaitu istithaah secara sempurna (kaffah atau kompehensif) meliputi biaya, bekal dan kesehatan," jelasnya.

Tepat

Ketua Komnas Haji dan Umrah, Mustolih Siradj mengatakan, keputusan yang tepat dan bijak Menteri Agama menunda pemberangkatan misi haji Indonesia tahun 2020. Ada banyak faktor harus menunda misi haji, antara lain di dalam negeri pemerintah masih terus berjuang keras untuk menekan penyebaran Covid-19 dengan menerapkan kebijakan PSBB yang diikuti oleh pemerintah daerah yang melarang segala bentuk aktivitas berskala besar apapaun. Sehingga kebijakan ini akan sangat berdampak pada persiapan teknis haji.

“Menghadapi penyebaran Covid - 19 yang mematikan maka keselamatan jemaah harus menjadi prioritas utama pemerintah, sebab dalam penyelanggaraan haji sangat sulit atau bahkan mustahil menerapkan metode physical distancing,” kata Mustolih.

Selain itu, Pemerintah Arab Saudi sebagai tuan rumah saat ini juga dalam kondisi menutup berbagai aktivitas soaial, termasuk menutup dua masjid suci (Masjidil Haram dan Masjid Mabawi) dan belakangan menyerukan untuk menyelenggarakan tarawih di rumah. 

Mustolih memaparkan, ada beberapa hal yang mesti dilakukan pemerintah bila haji tahun 2020 ini ditunda. Di antaranya, mengembalikan uang pelunasan jemaah yang sudah menyetor dan menjamin tidak ada pemotongan. 

Selain itu, memastikan kuota jemaah yang seharusnya berangkat tahun 2020 tidak berubah sampai musim penyelenggaraan haji berikutnya, khususnya mereka yang lanjut usia.

Dilema

Ketua Media Center Persaudaraan Alumni (PA) 212, Novel Bamukmin mengatakan, pelaksanaan haji tahun ini memang sangat dilema. Di satu sisi adalah rukun Islam bagi yang mampu untuk melaksanakannya.  Di satu sisi ada faktor keamanan yang menyangkut nyawa karena jikadipaksakan bisa menjadi penyebaran virus corona paling terbesar di dunia karena jamaah haji bisa 2 - 3 juta.

"Walaupun syaratnya mampu dalam segala hal baik mampu finansial, kesehatan, waktu dan keluarga yang ditinggalkan  juga dalam keadaan baik.  Namun mampu dalam hal faktor keamanan diri juga menjadi syarat mutlak," tandasnya.

Jika dalam perjalanan sangat membahayakan seumpama terjadi perang maka jelas menjalankan haji menjadi tidak wajib. Apalagi dengan adanya wabah Covid-19 yang sangat mematikan maka jelas haji tahun ini untuk tidak bisa diselenggarakan. Penundaan haji juga bukan baru tahun ini saja karena dlm sejarah Islam lahir mulai dari zaman Rasulullah sampai saat ini sudah lebih dari 40 kali tidak bisa diselenggarakan haji.



#Corona #covid-19 #haji

Komentar Anda
Komentar