Hello,

Reader

Masyarakat Mudik Ingin Menyelamatkan Hidup
Larangan tidak mudik
Masyarakat Mudik Ingin Menyelamatkan Hidup

Jakarta, HanTer – Tak bisa dipungkiri, meski pemerintah sudah melarang warganya untuk mudik, ternyata masih banyak warga yang tidak mematuhinya. Hingga saat ini, tercatat 10.537 kendaraan yang mengarah keluar Jabodetabek diputar balik oleh polisi selama 10 hari Operasi Ketupat 2020, yakni 24 April hingga 3 Mei 2020.

Sementara itu pengamat perkotaan, Yayat Supriatna, pengamat menyebutkan, warga yang saat ini memaksa mudik karena ingin menyelamatkan hidupnya. Pasalnya di Jakarta mereka tak lagi bisa bekerja dan mendapat penghasilan.

"Pilihan mudik itu untuk menyelamatkan kehidupan selanjutnya. Karena satu yang dihadapi adalah ketidakpastian akibat pandemi Covid-19 di Jakarta yang belum diketahui kapan akan berakhir. Selama wabah tersebut masih menyebar, maka banyak warga tidak bisa bekerja. Sedangkan kebutuhan hidup di Jakarta terbilang tinggi,” kataYayat di Jakarta, Senin (4/5/2020).

Menurutnya, jika kondisi semakin parah, warga akan memaksa melakukan mudik. Karena, tidak ada pilihan lain. Mudik dianggap solusi menyelamatkan kehidupan, sebab hidup di kampung berbiaya lebih murah. Serta tak perlu membayar sewa tempat tinggal.

Ketika situasi tersebut terjadi, maka warga akan mencari berbagai cara untuk bisa kembali ke kampung halaman. Meskipun ada larangan. Oleh karena itu, pemerintah dianggap tidak bisa hanya sebatas mengeluarkan larangan.

Ketidakpastian Hidup

Terpisah, pengamat Kebijakan Publik, Trubus Rahadiansyah, menilai, banyaknya masyarakat yang nekad mudik disebabkkan ketidakpastian hidup di kota rantau seperti Jakarta, Depok, dan Bekasi. Pasalnya, banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan di tengah pandemi Covid-19.

Sementara itu, bantuan sosial yang diberikan pemerintah banyak tidak tepat sasaran dan mengalami keterlambatan pendistribusian.

"Di sini (kota rantau, red) masyarakat enggak kerja, sementara mereka harus bayar kos, kontrakan. Kemudian, bansos yang dijanjikan pemerintah banyak yang enggak tepat sasaran," kata Trubus di Jakarta, Senin (4/5/2020).

Padahal, masyarakat membutuhkan jaminan untuk bisa melangsungkan hidup di kota rantau. Sehingga, mereka nekat mudik untuk tetap bertahan hidup.

"Enggak ada jaminan dari pemerintah. Jadi, pemerintah enggak punya kemampuan untuk memberikan rasa nyaman, memberikan kepastian kepada para pemudik itu," ujar Trubus.

Tak hanya itu, masyarakat Indonesia menganggap mudik merupakan bagian tradisi yang wajib dilakukan. Alasannya, mudik adalah bagian dari silaturahim dengan sanak keluarga di kampung halaman.

Untuk diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melarang masyarakat untuk mudik guna mencegah penularan Covid-19. Keputusan itu disampaikan Jokowi saat membuka rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, melalui konferensi video, Selasa (21/4/2020) lalu.

Pelanggar Mudik

Disisi lain, larangan tersebut nampaknya tak membuat masyarakat takut. Pasalnya, tercatat 10.537 kendaraan yang mengarah keluar Jabodetabek diputar balik oleh polisi selama 10 hari Operasi Ketupat 2020, yakni 24 April hingga 3 Mei 2020.

Berdasarkan data Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, 11 persen dari keseluruhan total kendaraan atau 1.201 kendaraan yang diputar balik itu adalah pemudik menggunakan sepeda motor.

Sementara itu, jumlah kendaraan yang diputar balik paling banyak ditemukan Pintu Tol Cikarang Barat arah Jawa Barat.



#Mudik2020 #LaranganMudik

Komentar Anda
Komentar