Hello,

Reader

Beban Berlapis Perempuan di Masa Pandemi:  Perlu The New-Normal dalam Keluarga
Swary Utami Dewi
Beban Berlapis Perempuan di Masa Pandemi:  Perlu The New-Normal dalam Keluarga

Oleh: Swary Utami Dewi

Semenjak pandemi terjadi, cara hidup manusia hampir semua secara global berubah total. Tidak terencana dan direncanakan, kehidupan publik berpindah ke rumah. Bekerja di kantor menjadi bekerja di rumah (Work from Home atau WFH). Aktivitas manusia menjadi dibatasi hanya di rumah saja (stay at home), kecuali untuk keperluan tertentu seperti membeli stok pangan dan kebutuhan domestik lainnya. Kegiatan sekolah anak juga terhenti secara fisik dan dipindahkan ke rumah. Apakah ada akibat pemusatan kegiatan ini bagi perempuan (para ibu dan istri) pada umumnya? Isu inilah yang akan diangkat dalam tulisan ini.

Perempuan yang sudah berumah tangga kerap terdampak berlipat dibandungkan laki-laki di masa pandemi ini. Khusus untuk perempuan yang bekerja dan berkeluarga, beban yang dialami berbeda dengan para lelaki. Umumnya saat WFH, pria bisa tetap fokus untuk menyelesaikan tugas-tugas kantor saja meski mereka seharian ada di rumah. Sementara, perempuan menjalaninya dengan cara berbeda. Selain memindahkan pekerjaan kantor ke rumah, para ibu pekerja juga umumya melakukan pekerjaan domestik seperti memasak, membersihkan rumah dan sebagainya. Belum lagi saat anak-anak juga harus bersekolah dari rumah. Membimbing anak untuk mengerjakan tugas sekolah juga umumnya dilakukan para ibu. 

Terkait isu ini, dalam wawancaranya dengan sebuah media, Mariana Amiruddin, Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), mengatakan bahwa banyak perempuan yang sekarang harus di rumah, terutama perempuan bekerja, mengalami beban yang sangat berat karena mereka juga menangani urusan rumah: mulai dari mengasuh anak sampai mengajar anak sekolah. Ini belum ternasuk urusan rumah tangga lainnya. Sementara itu, suami lebih banyak dalam posisi seperti biasa, hanya tetap mengerjakan urusan kantor (1).

Senada dengan Mariana, Ratna Susianawati, Staf Ahli Bidang Komunikasi Pembangunan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), menjelaskan bahwa beban berlipat merupakan salah satu dari enam isu utama sekaligus dampak yang dirasakan perempuan dalam situasi pandemi ini (2). Dalam masa WFH, perempuan berperan dalam mengatur ekonomi dan pola hidup sehat keluarga, mendampingi anak belajar di rumah serta bekerja secara profesional. Dan ini belum termasuk melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik lainnya.

Selain itu, karena dalam menghadapi Covid19 ini diperlukan imunitas tubuh yang baik, para ibu juga diharapkan mampu menyediakan makanan dengan asupan gizi yang baik, selain menambahkan asupan suplemen jika diperlukan. Ini juga disinggung di atas oleh Ratna. Jadi ringkasnya, perempuan juga menjadi penjaga utama kesehatan keluarga untuk menjadikan imun tubuh kuat serta untuk melakukan perawatan saat ada anggota keluarga yang terserang sakit.

Tidak hanya berhenti di sini. Dalam masa pandemi di mana ekonomi melambat bahkan mungkin mengalami pertumbuhan minus, keuangan keluarga umumnya menjadi tidak menentu. Maka, suatu rumah tangga mesti pintar-pintar mengelola uang yang "masih" ada. Lagi-lagi di sini, para ibulah yang utamanya menjadi pengelola keuangan dalam situasi yang tidak menentu ini (3). Para ibu diharapkan untuk bisa berhemat agar semua kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi (untuk listrik, air, gas, internet, pangan, kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya). 

Hal lain yang juga bisa dialami perempuan berkeluarga adalah potensi kehamilan yang lebih tinggi di masa pandemi ini karena waktu bersama pasangan menjadi jauh lebih banyak. Boleh dikatakan 24 jam bersama keluarga. Terkait hal ini, BKKBN memprediksi adanya lonjakan angka kehamilan di masa pandemi. Data menunjukkan adanya penurunan penggunaan alat kontrasepi, baik karena berkurangnya akses mendapatkan pelayanan atau akses layanan lanjutan untuk kontrasepsi yang biasa digunakan. Klinik yang biasa melayani banyak tidak beroperasi karena alasan menghindari potensi penularan Corona (4). Jika perempuan hamil di masa pandemi ini, maka akan ada tugas tambahan baru yang juga penting dilakukan perempuan, yakni menjaga kandungan. Menjalani kehamilan dan melahirkan tentunya bukan hal yang mudah di masa pandemi ini.

Terkait isu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), menilik makin bertumpuknya peran perempuan berkeluarga selama pandemi ini, apakah perempuan terbebas dari tindakan kekerasan tersebut? Mirisnya, data menunjukkan perempuan justru menjadi semakin rentan sebagai sasaran KDRT (5, 6). Data UNIFEM (2020) menunjukkan, adanya kenaikan kasus KDRT di banyak negara sampai 30-50 persen di masa pandemi ini (5). Stres dan depresi para suami misalnya kerap dijadikan alasan untuk melakukan tindak kekerasan ini, baik dalam bentuk kekerasan fisik, psikis dan lainnya.

Dari apa yang dipaparkan di atas, terlihat betapa beratnya beban berlapis perempuan di masa wabah global ini. Belum lagi tambahan potensi menjadi korban KDRT. Perempuan sendiri kerap harus mampu mengelola kelelahan dan stresnya agar tidak nampak di mata suami dan anak-anak. Beban berlipat ini tentu saja tidak adil bagi perempuan. Perempuan menjadi pihak yang sangat dilemahkan dan menanggung banyak dampak dari pandemi ini.

Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk memastikan dampak terhadap perempuan ini bisa diminimalisir, bahkan dihilangkan? Kita mengetahui dari berbagai literatur bahwa konstruksi berpikir (mind set) yang bias gender-lah yang menjadi kerangka dari sikap, tindakan dan pembiaran terhadap perempuan ini. Bias gender ini berakibat pada ketidaksetaraan gender. Perempuan yang secara alami (nature) bisa hamil dan melahirkan, kemudian secara sosial dikonstruksi untuk "melanjutkan" peran nature tersebut ke dalam urusan-urusan rumah tangga. Padahal urusan di luar kehamilan, melahirkan dan menyusui adalah nurture (bentukan, didikan dan konstruksi sosial), dan bukan nature (alamiah ada sejak lahir karena berjenis kelamin perempuan). Padahal, tidak ada perempuan yang sejak lahir otomatis bisa memasak misalnya karena memasak adalah hal yang dipelajari, bukan diperoleh sejak lahir. Karena adanya bias gender inilah maka pada saat WFH dan keharusan tinggal di rumah ini terjadi, tugas-tugas domestik tersebut  umumnya dibebankan ke para ibu.

Menyadari adanya kekeliruan konstruksi sosial tersebut di atas dan demi meminimalisir beban berlapis perempuan beserta segala resiko lain yang dihadapinya, beberapa pihak menyatakan perlunya mengubah pola hubungan lelaki dan perempuan. Masa pandemi ini bisa dikatakan sebagai momen untuk mengubah dan memulai peran baru yang saling memperkuat. Dalam arti perlu diterapkan kesadaran dan tanggung jawab yang berkeadilan antara lelaki dan perempuan.

Terkait hal ini, Koalisi PEKAD (Peduli Kelompok Rentan Korban Covid-19) misalnya melihat perlunya peran pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mendorong kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki, khususnya dalam hal beban asuh, beban produksi dan ranah domestik. Ini ditegaskan anggota koalisi PEKAD, Erasmus Napitupulu, dalam pernyataan tertulis kepada DW Indonesia, Selasa, 14 April 2020 (6).

Tidak cukup berhenti sampai himbauan pemerintah saja. Aksi untuk mengubah kecenderungan "pembiaran" ganda ini sejatinya dimulai dari rumah. Laki-laki perlu menyadari bahwa yang tepat bukanlah membiarkan perempuan yang dicintainya untuk mengerjakan semua, tapi membagi tanggung jawab bersama. Apapun yang terkait persoalan rumah tangga adalah urusan bersama. Mengawasi PR anak misalnya bisa dilakukan secara bergantian. Demikian pula jika istri sudah memasak, maka suami hendaknya melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya, seperti membersihkan rumah. Bisa jadi juga tugas memasak dan domestik lainnya dilakukan secara bergantian. 

"The new-normal" inilah yang selayaknya dimulai di masa pandemi ini, di mana suami istri saling mendukung dan bertanggung jawab dalam mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, selain mengerjakan tugas kantor masing-masing. 
Jika ini menjadi pembiasaan/habit,  budaya barupun akan tumbuh di keluarga. Budaya tersebut adalah budaya relasi atau saling antara pasangan, yang menekankan pada peran dan tanggung jawab, pada fairness dan equity. Dan saat pandemi berlalu, sejatinya ini menjadi "the new normal" yang terus dijalankan oleh setiap keluarga.



#NewNormal #Covid19

Komentar Anda
Komentar