Hello,

Reader

Impor Sayur, Buah dan Gula Menggila, Nasib Petani Tergencet
Impor Sayur, Buah dan Gula Menggila, Nasib Petani Tergencet

Jakarta, HanTer - Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor sayuran Rp11,5 triliun, buah Rp22.5 triliun dan gula Rp31,5 triliun. Total impor ketiganya Rp65,5 trilun. Impor ketiganya  sebagian besar dari China.

Aktivis Dakwa Edy Mulyadi mengemukakan, akibat impor buah dan sayur meroket, petani kian tergencet. Jika 30 persen saja dari Rp65,5 triliun itu digunakan untuk membeli produk petani kita, tentu mereka bisa hidup layak. 

“Presiden Jokowi harus tunaikan janjinya, stop impor produk pertanian. bantu dan selamatkan petani kita, karena mereka adalah pemilik sah negeri ini. Mereka berhak hudup sejahtera di negerinya sendiri,” kata Edy.

Sementara itu, pengamat pangan, Ali Birhan mengatakan, saat ini Indonesia tetap impor sayur-mayur dan buah-buahan dari luar negeri. Padahal, Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang sebagian besar penduduknya memiliki mata pencaharian di sektor pertanian, bahkan memiliki sumber daya alam melimpah dan tanah yang subur dengan keaneragaman hayati yang tinggi.

"Kita Indonesia memang bisnis sayuran dan gula dikuasai dan masih banyak lagi dikuasai cukong-cukong," ujar Ali Birhan kepada Harian Terbit, Rabu (27/5/2020).

Ali menilai, dengan banyaknya cukong yang berbisnis impor sayur-mayur dan buah-buahan maka membuat pemerintah atau BUMN seperti tidak berdaya menghadapinya. Padahal menteri-menteri yang mengurusi pangan harusnya "Pejoang" dan berani melawan para cukong tersebut. Apalagi para menteri juga dibayar oleh rakyat melalui pajak untuk mensejahterakan rakyat.

Merugikan Petani

Terpisah, pengamat pangan, Ir. Nur Ja'far Marpaung mengatakan, pemerintah harus melakukan evaluasi terhadap kebijakan impor sayur yang nilainya mencapai Rp11,5 triliun dan buah Rp22,5 triliun, dimana sebagian besar impor sayur dan buah tersebut dari China. Karena kebijakan impor sayur dan buah itu sangat merugikan para petani. Apalagi pemerintah mengeluarkan kebijakan impor sayur dan buah menjelang musim panen sayur dan buah di sejumlah daerah.

"Pemerintah seharusnya mengoptimalkan produk pangan di dalam negeri dan melakukan pengecekan stok sayur dan buah di lahan pertanian yang sudah panen sehingga mengetahui stok pangan yang riil di lapangan," ujar Ir. Nur Ja'far Marpaung kepada Harian Terbit, Rabu (27/5/2020).

Nur Ja'far menuturkan, kebijakan pemerintah melakukan impor sayur dan buah pada saat mendekati masa panen sayur dan buah maka sama saja dengan membunuh ekonomi rumah tangga petani. Apalagi harga sayur dan buah impor tersebut lebih murah sehingga harga sayur dan buah lokal akan anjlok.

Kebijakan impor, sambung Nur Ja'far, justru tidak membuat kemandirian dan ketahanan pangan nasional. Karena yang terjadi adalah kehancuran pangan yang didapatkan ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tidak berpihak pada petani, seperti impor sayur dan buah. Harusnya, peningkatan produksi sayur dan buah di dalam negeri harus dilakukan secara masif.



#Impor #pangan #sayur #gula #petani

Komentar Anda
Komentar